Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Hikmah dan Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Hikmah dan Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Ditengah cobaan yang dihadapi tiap orang, akan selalu ada hal yang patut untuk disyukuri. Tapi, kenyataannya justru banyak dari insan yang merasa kesulitan hingga ia mengeluh. Sebenarnya, hal ini merupakan kewajaran bagi manusia, makhluk yang suka berkeluh kesah. Meskipun demikian Allah swt telah menyerukan perintah untuk bersyukur, yakni Surat Ibrahim ayat 7.

Baca juga: Tafsir Surat al-Ma’arij Ayat 19 – 21: Sifat Buruk Manusia

Tafsir QS Ibrahim ayat 7

Salah satu ayat berkaitan dengan syukur dan mungkin juga cukup dihafal tiap umat Islam

iIalah Surat Ibrahim ayat tujuh yakni:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“ dan ketika Tuhan kalian mengumumkan; Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti aku menambah (nikmat) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”

Dalam tafsir al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa ayat ini masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yakni berkenaan dengan kisah Nabi Musa as dan para pengikutnya. Ayat ini merupakan peringatan Allah kepada Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Fir’aun. Kemerdekaan kaum bani Israil inilah yang harusnya mereka syukuri.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa makna syukur antara lain ialah “menampakan”, dan ini berlawanan dengan kata kufur yang berarti “menutupi”. Sehingga, pada hakikatnya syukur ialah menampakan nikmat dengan menggunakannya dengan sebaik mungkin dan sesuai dengan kehendak pemberi.

Lebih lanjut, Quraish Shihab memaparkan bahwa munculnya sikap kufur seperti rasa tidak puas hanya menyisakan perasaan tersiksa bagi jiwanya sendiri. Sikap ini sia-sia belaka, karena sama sekali tidak berpengaruh pada kebesaran dan kekayaan Allah swt.

Sulaiman al-Bujairami menukil pendapat Qasim al-‘Abbadi, yang menyatakan bahwa ketika seorang hamba memanfaatkan semua anugrah Allah padanya dalam waktu bersamaan maka disebut Syakur (banyak bersyukur). Adapun seorang yang menfaatkannya dalam waktu yang berbeda-beda maka dinamai Syakir. Penjelasan ini dipaparkan dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib karangan al-Bujairami.

Baca juga: Keutamaan Syukur Menurut Al-Quran: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7

Hikmah dari Rasa Syukur

Fakhruddin ar-Razi menerangkan dalam Mafatihul Ghaib bahwa kandungan utama dalam Surat Ibrahim ayat tujuh setidaknya ada tiga.

Pertama, pada hakikatnya syukur merupakan ungkapan rasa pengakuan diri atas nikmat dari yang Maha Pemberi.

Kedua, janji Allah untuk menambah kenikmatan bagi yang merasa bersyukur. Nikmat tersebut bisa berbentuk jasmani maupun rohani. Nikmat rohani ini jika benar-benar dirasakan maka akan mencapai maqam (derajat) tertinggi yakni cinta kepada-Nya. Sedang nikmat jasmani ialah ketika seseorang selalu menyibukan diri sebagai bentuk rasa syukur, maka semakin banyak nikmat yang ia peroleh.

Baca juga: Pendengaran dan Penglihatan dalam Al-Quran, Bagaimana Mensyukurinya?

Ketiga, sikap kufur akan nikmat bisa menyebabkan rasa tersiksa. Rasa tersiksa ini muncul karena ia tidak tahu (tertutup) akan nikmat Allah sehingga ia juga tidak benar-benar mengetahui Allah. Katidak tahuan itulah yang menurut ar-Razi sebagai siksa yang besar.

Selain daripada itu, yang menarik dalam ayat ini ada pada janji Allah. Secara tegas Allah akan memberikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur. Namun, jika berbicara pada orang-orang yang kufur, Allah tidak langsung memberikan azab kepada mereka melainkan hanya mengingatkan bahwa azab-Nya sangatlah pedih. Ini merupakan bentuk kasih sayang-Nya karena Ia tidak secara langsung memberi azab bagi yang kufur.

Syukur Tidak Hanya dalam Ucapan

Rasa syukur tidaklah cukup hanya melalui ungkapan semisal hamdalah, melainkan juga dibuktikan dengan tindakan.  Seperti halnya nikmat sehat yang kemudian dimanfaatkan untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan, nikmat sakit yang membuat kita lebih mengingat-Nya.

Ini juga terlihat dari perintah dalam Surat Ibrahim ayat 7 kepada Bani Israil untuk bersyukur. Dalam mewujudkan rasa syukurnya, Bani Israil dituntut berusaha bangkit dan membangun peradaban sendiri setelah diberi nikmat kebebasan dari kedzaliman Fir’aun.

Memang bagi sebagian orang, menjalani kehidupan sangatlah terasa sulit. Namun bila kita mampu melihat hal-hal lain dibalik kesulitan tersebut, justru akan menemukan kenikmatan lain, dan itu boleh jadi lebih banyak. Ucapan hamdalah menjadi pertanda bahwa seseorang telah menemukan kenikmatan. Oleh karena itu, sebagai umat Islam harusnya malu untuk mengeluh. Karena sungguh nikmat Allah telah berlimpah ruah, namun kitanya saja yang sulit menyadarinya. Wallahu a’lam[]

Muhammad Anas Fakhruddin
Sarjana Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

0
Telah saya sebutkan di tulisan sebelumnya bahwa saya menemukan sekurangnya empat tafsir model Tartib Nuzul, yaitu Bayan al-Ma’ani karya Abdul Qadir Mulla Huwaisy, al-Tafsir...