Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Yasin Ayat 18-19: Menjadi Sial Akibat Berperilaku Buruk

Tafsir Surat Yasin Ayat 18-19: Menjadi Sial Akibat Berperilaku Buruk

Syariat Allah swt. diajarkan para rasul kepada umatnya agar mereka dapat mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Karena beribadah adalah tujuan utama diciptakannya jin dan manusia. Selain itu, syariat Allah juga menjadi petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia sebagai al-Khalifah fi al-Ardh agar tidak terjadi kekacauan di atas bumi. Maka dari itu, tidak jarang kita jumpai sebagian kaum mendapat peringatan dari Allah akibat perilaku buruk yang melampaui batas-batas syariat.

Alquran telah banyak mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kaum terdahulu, seperti musibah, nasib sial dan bahkan adzab.  Hal tersebut juga menjadi peringatan dan pelajaran bagi kaum lainnya. Dan terkait ini kita bisa mengambil pelajaran dari kaum Anthakiyah tentang keluhan nasib sial.

Allah swt berfirman dalam (QS. Yasin [36]: 18-19):

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S. Yasin [36]: 18-19)

Baca juga: Krisis Kemanusiaan, Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat

Dua ayat di atas adalah lanjutan kisah kaum Anthakiyah dari ayat 13 tentang ajakan untuk beriman kepada Allah swt. Singkat ceritanya, Nabi Isa as. mengirim tiga utusan untuk mendakwahi penduduk Anthakiyah, dan sebagian dari mereka beriman. Sebagian lainnya yang tidak menerima dakwah mereka mengucapkan kata-kata kasar, berperilaku buruk, melemparkan tuduhan kepada para utusan dan bersumpah akan mencelakainya.

Ketika menjelaskan ayat 18, para mufassir menyebutkan beberapa riwayat dari jawaban penduduk Anthakia saat mereka sudah tidak bisa beralasan apa-apa.

Pertama: mereka mengancam dengan mengatakan “bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan kalian (para utusan). (at-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran)

Kedua: mereka berkata, “bahwa kami mengalami musibah kemarau panjang dan tersebarnya banyak penyakit penyebabnya tidak lain adalah sebab kedatangan kalian”. (al-Hamami, Tafsir Yasin, hlm. 7)

Ketiga: riwayat Qatadah, mereka berkata ,“tidaklah suatu kampung dimasuki orang-orang seperti kalian, kecuali mereka akan mendapat adzab”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/ 505)

Dari berbagai penafsiran di atas intinya adalah penolakan kaum Anthakiyah terhadap dakwah para utusan, padahal tanda-tanda kebesaran Allah telah nyata di hadapannya. Mereka menganggap turunnya musibah disebabkan datangnya para utusan dan ajakan beriman kepada Allah swt. Respon mereka sangat mengherankan. Bagaimana mungkin kedatangan para utusan yang sejatinya mengupayakan anugerah, kenikmatan dan kemuliaan untuk mereka, tetapi mereka menyambutnya dengan kata-kata kasar dan tuduhan pembawa kesialan atau perilaku buruk lainnya.

Baca juga: Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

Dan anggapan mereka pun di bantah oleh para utusan melalui firman Allah pada (QS. Yasin: 19). At-Thabari dalam kitabnya menerangkan:

يقولون: أعمالكم وأرزاقكم وحظكم من الخير والشر معكم، ذلك كله في أعناقكم

“para utusan berkata: ‘amal perbuatan, rizki, dan nasib baik maupun buruk pada diri adalah disebabkan kalian sendiri, semuanya berada di pundaknkalian’”.

Al-Hamimi dalam kitabnya Tafsir Surat Yasin menambah keterangan, ‘yakni, nasib sial yang menimpa kalian sebabnya adalah kekufuran dan pengingkaran kalian’.

Senada dengan kandungan ayat di atas adalah firman Allah swt. tentang kaum nabi Shaleh as, ’Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”.. Shalih berkata: Nasibmu ada pada sisi Allah. (Q.S. An-Naml [27]: 47).

Dampak Berbuat Maksiat

Menurut al-Qurthubi, sebagian penduduk Anthakiyah yang tidak beriman, bahkan membantah, mereka kemudian dibinasakan oleh malaikat Jibril.  Ini adalah potret fenomena suatu kaum akibat berperilaku yang buruk.

Perilaku buruk seseorang disadari atau tidak secara langsung berdampak negatif pada dirinya sendiri (hati). Dan bahkan pengaruh maksiat terhadap hati adalah  asal dari berbagai dampak negatif lainnya yang sifatnya lahiriyah, bahkan dampaknya dapat menjalar kepada orang lain.

Diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (HR. al-Bukhari, No. 50)

Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan dari Allah swt. dalam menjaga kesucian hati. Karena perkataan yang baik, perilaku yang baik dan sikap yang baik adalah cerminan dari hati yang baik pula.  Wallahu A’lam.

M. Ali Mustaan
Alumnus STAI Imam Syafii Cianjur, mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pecinta kajian-kajian keislaman dan kebahasaaraban, penerjemah lepas kitab-kitab kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

0
Salah satu diksi yang sering digunakan Alquran untuk menyampaikan informasi adalah diksi tanya jawab. Dalam kajian asbabunnuzul, disebutkan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi...