Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21: Orang itu Datang dari “Pinggiran Kota”

Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21: Orang itu Datang dari “Pinggiran Kota”

Pada pembahasan yang lalu, yakni Tafsir Surat Yasin Ayat 18-19 telah kita pahami bersama bahwa masyarakat Antokiah menganggap kedatangan para utusan itu membawa kesialan pada mereka dan para utusan itu diancam akan disiksa. Selanjutnya akan dipaparkan mengenai Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21.

Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21 ini memuat kisah tentang seseorang yang datang dari “pinggiran kota”. Ia datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar kabar tentang para utusan yang didustakan oleh masyarakat Antokiah dan mereka mengancam akan menyiksa para utusan itu.

Kedatangannya untuk memverifikasi dan menguatkan misi para utusan yang keselamatannya sedang terancam serta menghimbau kepada masyarakat Antokiah untuk menerima dakwah para utusan tersebut. Ia bernama Habib al-Najjar. Meski terdapat perbedaan pendapat tentang identitas sebenarnya, mayoritas mufassir menyepakati nama itu.

Sebelum memasuki pembahasan yang lebih panjang, mari kita sama-sama resapi redaksi asli al-Qur’an dalam surat Yasin ayat dua puluh dan dua puluh satu di bawah ini:

وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ  ۔

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Terjemah di atas merupakan versi al-Quran dan Terjemah Kemenag. Terkhusus pada kata “ujung kota” (اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ), jika pembaca masih ingat, penulis cenderung menggunakan istilah “pinggiran kota”. Apa pasal?

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah memaknai “ujung kota” tersebut dengan “pinggiran kota”. Ia mengutip dari Ibnu ‘Asyur yang mengatakan bahwa kata Aqsa (???) yang berarti ujung atau tempat jauh mengindikasikan bahwa sebelum tersebar di pusat kota, keimanan kepada Allah pada waktu telah menyebar di pinggiran kota terlebih dahulu. Lalu mengapa penyebaran tauhid itu tidak langsung di pusat kota?

Dalam al-Tahrir wa al-Tanwir dikatakan bahwa, hal itu terjadi karena di pusat kota merupakan pemukiman para penguasa dan pemuka-pemuka Yahudi yang tidak rela kekuasan mereka terusik. Ketiga utusan itu ditolak oleh penguasa dan pemuka-pemukanya dengan alasan-alasan yang tidak logis.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 15-17: Jawaban Para Utusan Ketika Didustakan

Secara tidak langsung hal itu turut memengaruhi terhadap pola pikir masyarakat sekitarnya. Pola pikir masyarakat menjadi ngawur dan tidak logis. Atas kericuhan ini, datanglah seorang lelaki dari “ujung kota” itu untuk menetralisir keadaan.

Para mufassir berbeda pendapat mengenai identitasnya. Suyuti mengatakan bahwa namanya adalah Habib al-Najjar. Hal serupa juga dikemukakan al-Bantani, Wahbah Zuhaili, al-Zamakhsyari, serta Ibnu Katsir. Menurut al-Tabari namanya adalah Habib bin Muro. Ibnu ‘Asyur mengatakan Habib bin Murrah.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, Quraish Shihab cenderung memfokuskan pada inti pesan redaksinya. Ia mengatakan bahwa siapapun orangnya atau namanya, yang terpenting adalah ayat di atas menunjukkan betapa tulusnya yang bersangkutan sehingga ia rela datang jauh-jauh demi membela para utusan tersebut. Agar lebih mudah, selanjutnya kita sebut orang dari “ujung kota” itu dengan nama Habib.

Pembelaah Habib atas utusan-utusan itu terkait dengan pendustaan dan ancaman yang dilakukan oleh masyarakat Antokiah. Dalam ayat ke 18 diyatakan bahwa masyarakat Antokiah memvonis tiga utusan itu sebagai pembawa sial. Anggapan ini merupakan hasil dari kebiasaan mereka dalam menentukan nasib, yaitu berdasarkan tradisi pelepasan burung ketika ingin bepergian. Terkait hal ini sudah di bahas dalam artikel sebelumnya.

Adapun kaitan anggapan negatif masyarakat Antokiah dengan kedatangan Habib adalah bentuk pembelaan logis yang ia kemukakan. Habib mengatakan bahwa ciri-ciri kejujuran utusan tersebut adalah mereka tidak meminta imbalan atas dakwah dan pertolongan mereka. Orang-orang seperti itu pantas untuk diikuti seruannya.

Hal ini secara tidak langsung menyindir tradisi aneh masyarakat Antokiah yang tidak logis. Bagaimana bisa seorang yang tidak memungut sepeserpun atas pertolongannya dianggap pembawa sial. Selain itu, pembelaan tersebut, menurut Quraish Shihab, menyiratkan kebiasan-kebiasan masyarakt Antokiah yang penuh pamrih.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 13-14: Utusan Itu Hanya Bertugas Menyampaikan

Ketulusan sudah hilang dari mereka. Pikirannya dipenuhi dengan kecurigaan atas untung material yang akan didapatkan oleh para utusan itu. Masyarakat Antokiah hampir tidak percaya adanya ketulusan. Kecurigaan yang demikian tidak akan timbul apabila tidak ada tradisi untung-rugi yang mendarah daging dalam setiap aktivitas sosial mereka.

Pantas saja, pembelaan yang dikemukakan oleh Habib adalah, “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Secara tidak langsung menyindir pandangan masyarakat Antokiah masa itu. Mereka mengukur semua orang dengan diri mereka sendiri dan selalu menduga adanya keuntungan material dibalik aktivitas semua orang.

Demikian kiranya tafsir singkat surat Yasin ayat 20-21. Semoga bermanfaat dan nantikan  artikel berikutnya. Wallahu ‘alam.

Maqdis
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pegiat literasi di CRIS Foundation.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Beberapa kesunahan dalam merawat jenazah

Beberapa Kesunahan dalam Merawat Jenazah

0
Dalam pengetahuan khalayak umum ada empat hal yang perlu dilakukan saat seseorang meninggal, yaitu memandikan, mengafani, mensalati dan menguburkan. Namun sebenarnya tuntunan agama dalam...