Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Tafsir Tarbawi: Epistemologi ‘Irfani dalam Pendidikan Islam

Tafsir Tarbawi: Epistemologi ‘Irfani dalam Pendidikan Islam

Salah satu epistemologi penting dalam pendidikan Islam adalah epistemologi ‘irfani. Epistemologi ‘irfani–mengikuti pendapat Abid al-Jabiry dalam Takwin al-‘Aql al-‘Araby–adalah suatu kerangka berpikir atau pendekatan pemahaman yang bertumpu pada pengalaman batin dan intuisi (dzauq/ rasa, qalb/ hati, bashirah/mata batin). Epistemologi ini menekankan hubungan antara subjek dan objek berdasarkan pengalaman keagamaan (religious experience) secara langsung (mubasyarah) dari seorang muslim, tidak melewati medium atau bahkan perantara rasio sekalipun.

Meskipun epistemologi ini pada mulanya dianggap kontroversial di sebagian kesarjanaan Barat, namun sesungguhnya kejayaan peradaban Islam (the Islamic golden age) ditopang oleh epistemologi ‘irfani, selain burhani dan bayani. Lihat saja nama-nama ilmuwan Muslim yang mentereng dan sampai hari ini karyanya masih digunakan sebagai rujukan utama bagi peradaban Barat, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Khawarizmi, Ibn Haitsam, al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan sebagainya. Kesemuanya itu ditopang oleh epistemologi ‘irfani.

Karena itu, artikel ini akan menelaah sebagai refleksi sekaligus mengajak umat Islam bagaimana sesungguhnya jangkar epistemologi ‘irfani dalam pendidikan Islam dengan merujuk pada penafsiran surah Albaqarah ayat 146.

Tafsir Surah Albaqarah Ayat 146

Pada sub bab ini kami fokus pada kalimat ya’rifuna sebagai jangkar epistemologi ‘irfani dalam pendidikan Islam yang diulas dari penafsiran klasik maupun kontemporer. Allah berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui (-nya). (Q.S. Albaqarah [2]: 146).

Al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul, menuturkan ayat ini diturunkan kepada orang-orang ahlul kitab yang beriman, yaitu Abdullah bin Salah dan para sahabatnya. Mereka mengenal Rasulullah saw., baik karakternya, sifatnya, maupun visi misi yang akan diembannya melalui kitab mereka, sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka dengan penuh keyakinan dan kepastian.

Berkatalah Abdullah bin Salam:

لأنا [كنت] أَشدَّ معرفة برسول الله صلى الله عليه وسلم، مني بابني. فقال له عمر بن الخطاب: وكيف ذاك يا ابن سلام؟ قال: لأني أشهد أن محمداً رسول الله حقاً يقيناً، وأنا لا أشهد بذلك على ابني؛ لا أدري ما أحدث النساء. فقال عمر: وفقك الله يا ابن سلام

Karena aku lebih mengenal Rasul saw. lebih daripada aku mengenal anakku.” Maka bertuturlah Umar bin Khattab, “Bagaimana hal itu bisa terjadi Wahai Ibn Salam?” Ibn Salam menjawab, “karena Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan penuh keyakinan. Dan aku tidak bersaksi seperti itu pada anakku.” Lantas Umar berkata, “Semoga Allah memberimu taufik wahai Ibn Salam.

Jadi, makna ya’rifuna, menurut al-Wahidi, bermakna mengenal lebih dalam, tidak sebatas permukaan. Dalam artian, dia mengenal betul sifat-sifat kenabian dan misi yang diemban oleh Nabi saw. Dalam ayat serupa, yakni surah Alan’am [6]: 20 juga demikian. Hampir sedikit berbeda, Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan kata ya’rifuna sebagai berikut.

“Ulama Yahudi dan Nasrani berkata; ‘Kami mengetahui bahwa sesungguhnya baitul haram adalah kiblat kami, kiblat Nabi Ibrahim, dan kiblat para Nabi sebelum kamu (Muhammad), seperti halnya kami mengenal anak-anak kami.’”

Ibn Abbas, Al-Saddi, Ibn Zaid, Ibn Juraih sepakat memaknai ya’rifunahu dengan Ka’bah sebagai kiblat. Senada dengan itu, Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adzim, menuturkan bahwa Allah Swt. telah memberitahukan bahwa ulama Ahli Kitab sebetulnya telah mengetahui dan mengenal kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada mereka, sebagaimana masing-masing mereka mengenal anaknya sendiri.

Dalam hal ini Ibn Katsir mengumpamakan pengenalan itu bagaikan mengenal anak mereka sendiri yang penuh kepastian, keyakinan, dan tidak samar, apalagi ragu kepada anak mereka sendiri. Dari sini dapat diartikan bahwa mereka mengenal Nabi Muhammad saw. seperti halnya mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Namun demikian, sekalipun mereka mengetahui dan mengenal betul kenabian Nabi saw., mereka kemudian menyembunyikan kebenaran itu padahal mereka mengetahuinya.

Tidak jauh berbeda, Al-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaf menafsiri kata ya’rifuna dengan suatu pengetahuan yang terang benderang yang mampu menyingkap tabir (penghalang) sehingga seseorang mampu membedakan dan mengidentifikasi serta menyifatinya secara komprehensif. Dalam penafsiran yang lain seperti yang dikemukakan  Al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib. Menurut al-Razi, makna ya’rifuna kembali kepada baitul haram sebagai kiblat mereka seperti halnya yang diutarakan Ibn Abbas, Qatadah, al-Rabi’, dan Ibn Zaid.

Bersamaan dengan itu, makna serupa juga dikemukakan oleh mufassir yang lain seperti Makki bin Abi Talib dalam Tafsir Hidayah ila Bulugh al-Nihayah, Muqatil Bin Sulaiman dalam tafsirnya, Al-Samarqandi dalam Bahr al-‘Ulum, dan sebagainya.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Epistemologi Bayani dalam Pendidikan Islam

Epistemologi ‘Irfani dalam Pendidikan Islam

Dari berbagai pandangan mufasir atas kalimat ya’rifuna dapat ditarik benang merahnya bahwa epistemologi ‘irfani memiliki struktur pengetahuan (epistemologi) yang tidak berhenti hanya pada pengetahuan (fenomena), melainkan makna pengetahuan (noumena) itu sendiri. Jika merujuk pada gramatika bahasa Arab, ‘Irfan berasal dari kata dasar ‘arafa yang semakna dengan ma’rifat yang berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ‘ilm (ilmu).

Irfan atau ma’rifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung melalui pengalaman religius (religious experience) seseorang, sedangkan ilmu menunjuk pada konsepsi pengetahuan yang didapat melalui mekanisme bekerja rasionalitas (‘aql). Demikian pendapat Abdul Mukti Rouf dalam Kritik Nalar Arab Muhammad Abid al-Jabiri.

Karena itu, secara etimologis, irfan bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh melalui penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hamba-Nya (kasyf). Metode irfan juga sering disebut sebagai teosofi-filosofis yang dalam filsafat Islam dikibarkan oleh Suhrawardi dalam masterpiece-nya, “al-Hikmah al-Isyraqiyyah”. Jika nalar bayani membidik sesuatu yang tersurat (eksoteris), maka nalar ‘irfani adalah yang tersirat (esoteris). Demikian ujaran Al-Jabiri dalam Bunyah al-‘Aql al-‘Araby.

Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, ‘irfani dapat menjadi sebuah body of knowledge pada pendidikan Islam melalui tiga gradasi; Pertama, takhalli, sebuah tahapanan untuk membersihkan diri dari ketergantungan pada hal-hal yang material atau duniawi (profan). Tahapan ini dapat ditempuh salah satunya dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Kedua, tahalli, sebuah tahapan untuk menghiasi diri dengan perbuatan baik dan disenangi Allah. Ketiga, tajalli, sebuah tahapan untuk merasakan pengalaman eksklusif keagamaan dan merasakan pancaran nur Ilahi.

Jika ketiga tahapan ini yang terinduk pada epistemologi ‘irfani diarusutamakan kembali dalam pendidikan Islam, bukan tidak mungkin seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, mulai stakeholders, guru, peserta didik, hingga wali peserta didik, bahkan masyarakat semakin ‘arif (bijaksana) dan berakhlak, sehingga meminimalisasi degradasi moral yang selama ini terjadi di negeri ini. Semoga. Wallahu a’lam.

Baca juga: Epistemologi Tafsir Al-Quran Metalinguistik Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...