BerandaTafsir TematikTafsir IsyariTiga Hikmah Peritiwa Isra Mikraj

Tiga Hikmah Peritiwa Isra Mikraj

Selain istimewa, peristiwa isra mikraj Nabi Muhammad saw. juga bisa dikatakan misterius. Banyak bagian dari peristiwa ini yang ramai diperbincangkan oleh kalangan mufasir karena ‘kerahasiaannya’. Mulai dari pembahasan tentang materi yang melakukan isra dan mikraj yang kemudian muncul pertanyaan ‘apakah yang berangkat isra dan mikraj itu jasad sekaligus ruh Nabi Muhammad saw. atau hanya ruh saja?’; tentang durasi peristiwa isra dan mikraj; kendaraan yang digunakan; kronologi disyariatkannya salat yang dibumbui dengan kisah ‘reunian’ Nabi Muhammad saw. dengan para seniornya; dan seterusnya.

Baca juga: Pemahaman Malam Isra Mikraj Secara Semiotik

Selain itu, para mufasir tersebut juga tidak lupa menjelaskan hikmah dari segala pernak pernik peristiwa isra mikraj yang tidak lain didasarkan pada redaksi ayat 1 surah Alisra. Setidaknya ada tiga hikmah isra mikraj yang terselip dalam penjelasan para mufasir.

سُبْحانَ الَّذِي أَسْرى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بارَكْنا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آياتِنا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Alisra [17]: 1)

Kode ketersambungan ajaran Nabi Muhammad saw. dengan para nabi sebelumnya

Hikmah isra mikraj yang pertama ini disampaikan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya, Marah Labid. Ketika memahami perjalanan malam Nabi Muhammad saw. ke Masjidilaqsa, beliau memahami bahwa hal ini adalah keinginan Allah untuk mempertemukan Nabi Muhammad saw. dengan dua kiblat yang sama-sama diberkati Allah.

Sebagaimana diketahui bahwa sebelum Nabi Muhammad saw. diperintah untuk salat menghadap arah Masjidilharam, kiblat umat Islam adalah Masjidilaqsa. Khusus Masjidilaqsa, tempat ini dikatakan istimewa dan diberkahi karena merupakan tempat turunnya wahyu para Nabi, mulai dari Nabi Musa hingga sebelum Nabi Muhammad saw. Selain itu, di sekitar tempat ini juga dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Hal ini menjadikan keberkahan Masjidilaqsa menjadi semakin lengkap. Demikian kurang lebih penjelasan al-Baidhawi dan Ibn ‘Atiyyah di masing-masing tafsirnya.

Baca juga: Surat at-Tin dan Simbol Ketersinambungan Antaragama

Disinggahkannya Nabi Muhammad saw. yang berkiblat Masjidilharam di Masjidilaqsa yang tidak lain adalah salah satu simbol tradisi ajaran para senior Nabi Muhammad saw. menandakan bahwa masih adanya ketersambungan antara mereka. Hal paling jelas dari ketersambungan ini adalah ajaran tauhid (mengesakan Allah) yang sama-sama dibawa dan didakwahkan oleh mereka.

Status hamba adalah status yang paling mulia dari makhluk

Hikmah isra mikraj yang kedua ini berdasar pada penafsiran al-Qurtubi dan al-Qusyairi. Khusus dalam menafsirkan sebutan ‘hamba’ untuk menunjuk Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa isra mikraj, al-Qurtubi menukil perkataan ulama,

قَوْلُهُ تَعَالَى: (بِعَبْدِهِ) قَالَ الْعُلَمَاءُ: لَوْ كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمٌ أَشْرَفُ مِنْهُ لَسَمَّاهُ بِهِ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ الْعَلِيَّةِ

 ‘jika ada sebutan lain yang lebih mulia daripada sebutan ‘abd (terj. hamba) -untuk menyebut Nabi Muhammad saw.-, maka beliau (Nabi Muhammad saw.) akan disebut dengan nama itu dalam kedaan yang tinggi ini (yakni ketika isra mikraj).” Kurang lebih demikian terjemahannya.       

Alquran lebih memilih mengistilahkan Nabi Muhammad saw. sebagai seorang hamba dalam peristiwa semisterius isra mikraj. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian ini benar-benar di luar kuasa seorang makhluk. Sebaliknya, hanya Allah yang benar-benar berkuasa mewujudkan kejadian di luar nalar ini. Dengan benar-benar menghamba, seketika itu pula seseorang benar-benar mengakui Tuannya.

Baca juga: Kaitan antara Taurat dan Alquran: Kajian Surah Alisra’ Ayat 2

Al-Qusyairi, seorang sufi, dalam tafsirnya memahami bahwa ayat narasi isra mikraj ini memperjelas dua hal. Pertama, yaitu meniadakan keterkejutan atas tindakan Allah swt. -karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk terjadinya peristiwa isra mikraj yang jika diukur dengan nalar makhluk dianggap sesuatu yang mustahil. Kedua, yaitu meniadakan keterkejutan tentang sifat Rasulullah saw. -yang tidak lain hanya seorang hamba yang hanya bisa menjalankan kuasaNya-.

Bukti keimanan seseorang

Hikmah isra mikraj berikutnya berasal dari riwayat yang menyatakan tentang respons Abu Bakar ketika mendengar peristiwa tersebut. Dalam Bahr al-‘Ulum, as-Samarqandi menukil kisah bahwa setelah tersebar berita tentang isra mikraj, sahabat yang pada awalnya mengikuti Nabi Muhammad saw. berubah menyangkalnya, namun tidak dengan Abu Bakar.

Ketika orang-orang musyrik mengabarkan berita yang sedang viral itu kepada Abu Bakar, beliau menjawab ‘saya bersaksi bahwa jika Muhammad yang berkata demikian, maka saya membenarkannya.’ ‘Apakah kamu percaya bahwa Muhammad pergi ke Syam (wilayah tempat Masjidilaqsa berada) dan kembali ke sini dalam satu malam?’ orang-orang musyrik bertanya untuk meyakinkan lagi ‘iya, saya membenarkannya meski ke tempat yang lebih jauh sekali pun.’ Jawab Abu Bakar dengan kemantapan hati.

Respons dan sikap Abu Bakar yang dapat tergambar dari narasi riwayat tadi menggambarkan visualisasi keimanan seseorang, yakni ketika keyakinan hati selaras dengan ucapan lisan dan bukti nyata tindakan.

Demikian setidaknya tiga hikmah dari banyak hikmah isra mikraj yang dijelaskan oleh para mufasir. Satu hal yang bisa diambil kesimpulan adalah banyak pesan yang tersimpan dalam peristiwa isra mikraj ini yang jika tidak diungkap, maka isra mikraj hanya akan menjadi cerita misterius belaka. Wallah a’lam.

Limmatus Sauda
Limmatus Sauda
Santri Amanatul Ummah, Mojokerto; alumni pesantren Raudlatul Ulum ar-Rahmaniyah, Sreseh Sampang
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Tiga Bentuk Amanah dalam Q.S. Alnisa’ Ayat 58 Perspektif al-Razi

0
Saling menjaga kepercayaan satu sama lain merupakan salah satu komponen terpenting dalam memelihara hubungan sosial, sekaligus menjadi bentuk ketakwaan kepada Allah. Kata amanah sendiri...