Beranda Tafsir Tematik Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat di setiap kondisinya. Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam seringkali memberikan teladan bagi umatnya dalam hal ini.

Disebutkan dalam buku Etika Pendidikan Islam Perspektif Tafsir Manajemen Pendidikan bahwa salah satu contoh etika pemimpin yang dapat dijadikan teladan adalah sikap Rasulullah ketika umat Islam menghadapi kekalahan di Perang Uhud. Kekalahan tersebut disebabkan pasukan pemanah tidak patuh menjaga bukit. Sikap Rasulullah tersebut tercantum dalam Q.S. Ali Imran [3]: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah sangat bijaksana dalam bersikap. Beliau tidak marah kepada para pemanah dari golongannya yang tidak patuh terhadap perintahnya. Beberapa sikap Rasulullah yang bisa dijadikan teladan dari kisah ini yang disebutkan di Q.S. Ali Imran [3]: 159 di atas.

  1. Lemah Lembut

Rasulullah bersikap lemah lembut kepada mereka yang melanggar instruksinya di Perang Uhud. Andai saja Rasulullah marah atau mencaci mereka, bisa jadi para pasukan tersebut justru akan pergi jauh dari rombongannya atau bahkan bisa balik memusuhi Rasulullah.

Allah Swt. juga menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang penyayang dan memiliki rasa belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. Allah Swt. berfirman di Q.S. Attaubah [9]: 128:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”

Berdasarkan penjelasan Tafsir Al-Azhar, hal ini menjadi tuntunan untuk para pemimpin supaya mereka hendaknya bersikap lemah lembut. Jika seorang pemimpin selalu bersikap kasar dan berkeras hati, maka tidak akan sukses dalam memimpin.

Baca juga: Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

  1. Suka Bermusyawarah

Rasulullah juga suka bermusyawarah dengan para sahabat dalam menanggapi berbagai hal, termasuk dalam menaggapi kekalahan di Perang Uhud. Ketika memutuskan suatu perkara, Rasulullah tidak pernah bersifat otoriter. Beliau sering meminta pendapat para sahabatnya. Hal itu yang membuat para sahabat nyaman dengan piawai Rasulullah yang selalu mempertimbangkan masukan dari para sahabat.

Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabatnya saat Perang Uhud. Saat itu beliau menawarkan dua hal, yakni apakah lebih baik bertahan di Madinah atau keluar bertemu dengan musuh. Ketika mayoritas dari sahabat memilih untuk menghadapi musuh, maka Rasulullah pun memutuskan memilih hal tersebut.

Sayyid Quthb menyimpulkan dalam kitab Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, “Demikianlah hati Rasulullah dan kehidupan beliau di masyarakat. Beliau tidak marah karena persoalan pribadi. Tidak sempit dadanya ketika mereka melakukan kesalahan, bahkan beliau memberi kepada umat segala hal yang beliau miliki dengan lapang dada.”

  1. Kebulatan Tekad kemudian Bertawakal

Setelah bermusyawarah, Rasulullah pun menetapkan keputusan. Buya Hamka menjelaskan, seorang pemimpin setelah memutuskan sesuatu dan membulatkan tekadnya, maka selayaknya dia jangan lagi ada perasaan ragu ketika menjalaninya. Pemimpin yang ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu adalah pemimpin yang gagal. Oleh sebab itu jangan ragu, jangan bimbang, dan hendaknya siap menanggung segala risiko. Keraguan hanya akan menggerogoti keyakinan dan memberi celah bagi setan merusak suara hati dan kejernihan pikiran.

Selanjutnya untuk memperkuat hati yang telah bertekad, hendaknya pemimpin itu bertawakal kepada Allah Swt. Setelah ikhtiar menentukan keputusan dengan musyawarah dan mempertimbangkan antara manfaat dan mudaratnya, maka semua itu cukup sebagai bukti usaha kita sebagai manusia.

Tahap selanjutnya kita serahkan pada pemilik kekuasaan tertinggi yang mutlak, yakni kepada Allah Swt. Ketika manusia tawakal kepada Allah Swt., maka hati akan bersifat lapang untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan jika hasilnya mengecewakan. Selain itu jika hasilnya baik pun, seseorang tidak akan sombong karena semuaya merupakan taufik dari Allah Swt.

Demikianlah sebagian etika pemimpin yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan diabadikan di dalam Alquran. Semoga dengan mengetahui dan meneladaninya, akan lahir banyak para pemimpin masa depan yang memiliki sikap seperti Rasulullah. Amin.

Baca juga: Reinterpretasi Kepemimpinan dalam Surah Al-Nisa Ayat 34

Sa'adatul Lailah
Alumni Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Jakarta 2017
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kesenjangan sosial

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang...