Beranda Tafsir Tematik Tiga Macam Bentuk Jadal (Perdebatan) Yang Direkam dalam Al-Quran

Tiga Macam Bentuk Jadal (Perdebatan) Yang Direkam dalam Al-Quran

Sebagai makhluk yang dianugrahi akal oleh Allah, manusia memiliki satu keistimewaan yaitu kemampuan untuk berpikir dan bernalar logis. Akal inilah yang menurut Hamka dalam Pandangan Hidup Muslim (hal. 62) membuat sosok manusia menjadi lebih utama daripada hewan. Semakin maju kehidupannya maka semakin maju pula akalnya, berbeda dengan hewan yang hanya memiliki insting.

Karena dianugrahi akal inilah manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, dan karenanya pula manusia cenderung suka berdebat atau dalam bahasa Arab disebut dengan kata jadal atau munazharah. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi [18]: 54.

…وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“…Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatannya.

Bahkan salah satu metode dakwah yang digariskan oleh Allah dalam Al-Quran adalah dengan metode debat ini, misalnya dapat dijumpai dalam firman Allah Q.S. Al-Nahl [16]: 125.

…وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…

…dan debatlah mereka dengan cara yang baik…

Dalam tafsirnya (4/613), Ibn Katsir menjelaskan bahwa berdebat atau dialog adalah salah satu cara untuk mendakwahkan agama Allah, khususnya terhadap mereka yang menentang dan mendebat kebenaran Islam. Tentu saja disertai dengan cara yang baik dan adab-adabnya.

Baca Juga: Perdebatan Nabi Musa dengan Fir’aun tentang Hakikat Tuhan

Nah, persoalan bagaimana bentuk dan metode yang digunakan Al-Quran ketika beradu argumen (jadal) dengan para penentangnya ini tak luput dari perhatian para ulama. Pembahasan ini dalam ulumul qur’an kemudian diberi tajuk jadal Al-Quran yang beberapa macamnya akan coba dibahas secara ringkas dalam artikel ini.

Macam-Macam Bentuk Jadal dalam Al-Quran

Ada banyak ragam bentuk jadal dalam Al-Quran, namun berikut akan ditampilkan beberapa contohnya saja.

1. Jadal antara Allah dengan Orang-Orang Kafir

Contohnya ketika orang-orang yang mengingkari nubuwah Muhammad serta risalah yang dibawanya, lalu mereka menuntut kepada Allah agar seandainya menurunkan utusan dari kalangan malaikat, tentu mereka akan beriman.

Namun hal ini langsung disanggah oleh Allah pada ayat selanjutnya, yakni Q.S. Al-An’am [6]: 9 yang berbunyi,

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ

Dan sekiranya Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan Kami akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu

Al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Munir (4/149) menjelaskan bahwa seandainya Allah mengutus malaikat, tentu malaikat itu akan ‘menyamar’ dalam bentuk manusia agar memungkinkan adanya interaksi dan penyampaian risalah kepada mereka. Mereka tak akan mampu melihat malaikat yang tercipta dari cahaya. Sehingga ujung-ujungnya akan sama saja keadaannya sebagaimana pengutusan nabi Muhammad.

Maka jelaslah hal di atas hanya alibi mereka karena tidak mau beriman kepada Rasulullah. Mereka mencari celah untuk mendukung ketidak berimanan mereka, namun Allah membantahnya pada ayat tesebut.

2. Jadal antara Nabi dengan Kaumnya

Bentuk jadal pada model kedua ini bisa ditemukan antara nabi Ibrahim dengan kaumnya yang dimunculkan pada beberapa tempat dalam Al-Quran, salah satunya ketika nabi Ibrahim as. berdialog dengan kaumnya seperti yang terdapat dalam Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 51-70.

Pada ayat-ayat tersebut dikisahkan bahwa nabi Ibrahim mengajak berpikir kaumnya tentang konsep ketuhanan, spesifiknya soal penyembahan berhala. Maka, pertama-tama nabi Ibrahim menghancurkan semua berhala-berhala kaumnya itu, hingga akhirnya beliau ‘disidang’ oleh kaumnya.

Mereka bertanya kepada Ibrahim, ‘apakah engkau yang melakukan ini kepada tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?’, nabi Ibrahim menjawab, ‘berhala paling besar yang melakukannya, tanyalah dia kalau dia memang bisa berbicara’. Seketika mereka pun sadar akan kekeliruannya dan mengakui bahwa berhala-berhala yang selama ini tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

Nabi Ibrahim lalu menutup perdebatannya dengan pertanyaan seperti disebutkan pada ayat 66-67 yang berbunyi,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata: Maka mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudharat sedikitpun kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka tidakkah kalian berpikir?

Al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir (2/268) menyebutkan ada tiga kecacatan logika dalam penyembahan berhala, 1). Berhala itu berupa benda mati, 2). Mereka menyembah benda mati yang tidak bisa memberi manfaat atau membahayakan, 3). Berhala tidak bisa berbicara, bahkan tak bisa melindungi diri sendiri, maka bagaimana bisa melindungi mereka?

Anehnya, kaumnya ini malah kembali menentang nabi Ibrahim bahkan berkehendak membakar beliau, padahal sebelumnya mereka sadar akan kesalahannya dan argumentasinya sudah dikalahkan. Wa kana al-insanu akthara syai’in jadala.

3. Jadal antara Sesama Manusia

Contohnya adalah perdebatan pemilik dua kebun yang terdapat pada Q.S. al-Kahfi [18]: 32-44, al-Sya’rawi dalam Surah al-Kahfi (hal. 32-42) menyebutkan bahwa sang pemilik kebun dengan banyaknya nikmat yang diberikan kepadanya, malah membuatnya angkuh dan lupa diri kepada Dzat yang memberikannya kenikmatan tersebut, sampai-sampai mengklaim kekayaannya itu akan kekal abadi, bahkan ia mengingkari hari kiamat.

Logika yang dipakainya sangat materialistis, yakni kekayaan dan banyaknya anak di dunia ini adalah tanda ridha-Nya Allah, kalaupun benar nantinya mereka akan dibangkitkan, ia yakin di akhirat akan mendapatkan nikmat yang serupa. Padahal kenyataannya belum tentu begitu, keduanya bisa saja menjadi nikmat maupun azab dari Allah, tergantung bagaimana seseorang menyikapi amanah Allah tersebut.

Lalu sahabatnya mencoba mengajaknya merenung, sebagaimana digambarkan pada ayat 37 yang bunyinya,

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

Temannnya berkata kepadanya sambil berdialog dengannya: “Apakah kamu ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?

Baca Juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Masih menukil al-Sya’rawi, temannya itu seakan-akan berkata kepadanya, ‘apakah kamu lupa siapa dirimu sebenarnya sampai berkata demikian? bukankah dulu kau hanyalah bongkahan tanah, lalu Allah meniupkan ruh kepadamu? Lalu dia juga yang menciptakanmu dari air mani hingga menjadi manusia yang utuh? Atau seakan-akan ia mengatakan apakah kamu yang menumbuhkan sendiri tanaman di kebunmu itu ataukah Allah yang menumbuhkannya?

Si pemilik kebun terdiam dan tidak bisa membantah argumentasi temannya tersebut. Namun ia tetap dalam kekufuran, hingga akhirnya azab Allah menimpanya dan ia ‘terpaksa’ sadar dan mengakui ke Maha Kuasa-an Allah serta kelemahan dirinya.

Sebetulnya masih ada lagi bentuk perdebatan yang lain dalam Al-Quran, seperti ketika Allah menyebutkan ayat-ayat kauniyah sebagai dalil untuk menyadarkan lawan debat seperti pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 21-22, ada juga membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan sebaliknya seperti pada Q.S. Al-An’am [6]: 91, menghimpun dan memerinci seperti tercantum dalam Q.S. Al-An’am [6]: 143-144 dan masih banyak lagi yang tentu menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Wallahu a’lam.

Achmad Syariful Afif
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, peminat kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU