Beranda Tafsir Tematik Urgensi Taubat dari Perbuatan Dosa dalam Surat Al-Furqan Ayat 68 - 70

Urgensi Taubat dari Perbuatan Dosa dalam Surat Al-Furqan Ayat 68 – 70

Manusia dalam hidupnya tidak akan pernah lepas dan bersih dari dosa, sebagaimana dia tidak pernah terlepas dari perbuatan baik. Artinya, bagaimanapun baiknya seorang manusia, pasti memiliki kesalahan dan melakukan perbuatan dosa.

Sebaliknya bagaimanapun jahatnya seorang manusia, pasti ada juga perbuatan baik yang dilakukannya. Ini berarti bahwa tidak satu pun manusia yang bersih dari dosa, dan tidak ada satu pun manusia yang bersih dari perbuatan baik. Mengapa demikian?

Setiap manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan membawa dua potensi, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Potensi baik selalu membawa seseorang untuk melakukan perbuatan baik, dan potensi buruk selalu membawa seseorang kepada perbuatan buruk. Kedua potensi ini selalu tarik-menarik di dalam diri seseorang untuk melakukan pekerjaan, baik atau buruk.

Baca Juga: Surat An-Nisa [4] Ayat 17-18: Taubat Nasuha Menurut Al-Qur’an

Jika potensi baik yang menang, maka seseorang akan melakukan pekerjaan baik. Jika yang dominan adalah potensi buruk, maka seseorang akan melakukan pekerjaan buruk. Agar selalu berbuat baik, seseorang harus berupaya agar potensi baik itu selalu mendominasi situasi kehidupan dengan cara melakukan segala yang diperintahkan Allah swt., dan meninggalkan segala hal yang dilarang. Seseorang yang selalu melanggar perintah Allah, kecenderungannya untuk melakukan hal-hal yang buruk akan bertambah besar.

Taubat dari perbuatan salah dan perbuatan dosa adalah salah satu ciri dari hamba-hamba Allah yang sangat disayangi dan dicintai oleh Allah Swt. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah di dalam QS. al-Furqan [25]: 68-70:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا () يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا () إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا      فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), 69. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, 70. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di antara ciri-ciri hamba-hamba Allah yang disayangi dan dicintai Allah Swt itu adalah orang yang tidak melakukan dosa-dosa besar, seperti tidak menyembah Allah Swt bersama dengan tuhan yang lain (tidak menyekutukan Allah), tidak membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Semua ini adalah dosa-dosa besar.

Jika perbuatan-perbuatan dosa besar dilakukan maka akan memberi hukuman yang sangat berat dan belipat ganda kepada pelaku, dan mereka akan kekal dengan azab itu. Akan tetapi, apabila pelakunya itu melakukan taubat, kembali kepada Allah dan memohon ampun atas segala dosanya, maka dosa-dosanya akan dihapuskan oleh Allah dan digantikannya dengan kebajikan-kebajikan.

Taubat adalah sarana yang dipersiapkan oleh Allah swt. kepada umat manusia untuk kembali ke jalan Allah pada saat berada di persimpangan jalan, dan yang menyimpang dari jalan yang dikehendaki Allah, dan yang berada pada kondisi dosa.

Baca Juga: Pengertian Kata Taubat dan Perintah Bertaubat dalam Al-Quran

Taubat adalah jalan keluar untuk kembali kepada Allah setelah seseorang melakukan pelanggaran terhadap perintah-Nya. Taubat bagi orang yang telakukan perbuatan dosa adalah perbuatan puji dalam pandangan Allah. Hal ini seperti yang digmabarkan di dalam hadsi Nabi yang menyatakan:

كُلُّكُمْ خَطَّـاءُ وْنَ وَخَيْـرُ الْخَطَّائِيْـنَ التَّـوَّابُوْنَ

“Semua kalian berbuat kesalahan, dan orang-orang yang paling baik di antara mereka yang melakukan kesalahan itu adalah orang-orang yang bertaubat.”

Jadi, taubat mempunyai urgensi yang sangat penting dalam rangka menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, dan memohon ampun kepada Allah swt. Atas semua dosa yang telah dilakukan disertai tekad yang kuat untuk meninggalkan dan menjauhi yang kesalahan yang pernah dilakukan, dan meningkatkan amal kebajikan di masa-masa berikutnya. Semua taubat yang dimohon secara sungguh dan tulus akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Ahmad Thib Raya
Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran (PSQ)
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

sejarah kalimat hasbalah

Sejarah Kalimat ‘Hasbalah’: Peneguh Semangat Orang Islam

0
Dalam tradisi Islam, ada satu ungkapan zikir yang dikenal dengan istilah kalimat hasbalah. Bunyi lengkap kalimat tersebut yaitu hasbunallah wa ni'ma al-wakil. Jika ditelusuri...