BerandaTafsir TematikTafsir Tematik SurahMembaca Surah An-Nas ala The Qur’anything

Membaca Surah An-Nas ala The Qur’anything

Dalam surah an-Nas, waswas digambarkan sebagai penyakit yang akut dibanding gangguan eksternal lainnya. Sebab, selama batin tenang dan lapang, seluas apa pun gangguan dari luar tidak akan membebani. Waswas merupakan suatu penyakit yang datang dari dalam, membuat seseorang sibuk berputar dan berperang dengan prasangka serta pikiran negatifnya, tanpa jeda.

Masih kurang jelas, betapa serius waswas sehingga Alquran sendiri memberi isyarat yang sangat kuat tentangnya. Dalam surah an-Nas, untuk satu gangguan (waswas), seseorang diperintahkan oleh Allah untuk berlindung dengan tiga nama Tuhan: Rabbinnās, Malikinnās, Ilahinnās.

Hal ini berbeda dengan pembahasan surah  al-Falaq sebelumnya, yaitu satu nama Tuhan “Rabbul Falaq” digunakan untuk berlindung dari empat gangguan. Dengan demikian, sangat jelas bahwa waswas merupakan suatu ancaman yang datang dari dalam, dan menimbulkan dampak yang jauh lebih berbahaya daripada gangguan luar lainnya. (The Qur’anything, Sepuluh Surah dari Tuhan, hlm. 35)

Baca Juga: Inilah 3 Keutamaan Surah Al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)

Rahasia dibalik pengulangan kata Nās

Untuk membuat pembahasan lebih utuh, berikut redaksi surah an-Nas beserta artinya

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, (1) Raja manusia, (2) Sesembahan manusia (3) Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi (4) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (5) Dari (golongan) jin dan manusia.” (6)

Penyebutan kata Nās dalam surah an-Nas tidak hanya menunjukkan suatu pengulangan kata, melainkan memberikan makna yang berbeda dalam setiap ayatnya. Ismail al-Ascholy memberi pemahaman unik dalan bukunya, The Qur’anything, Sepuluh Surah dari Tuhan. Menurutnya, pada ayat pertama sampai ketiga menunjukkan arti manusia sesuai dengan berbagai tipe dan umurnya, berikut rinciannya.

Rabbinnās, nās tersebut digambarkan manusia yang masih bocah (anak kecil). Anak kecil mengenal Tuhan hanya lewat kasih-sayang-Nya. Jika merasa tidak sayang, mereka akan marah. Oleh karena itu, makna Rabbinnās disini berarti murabbinnas (yang mendidik manusia / anak kecil)

Malikinnās, menggambarkan manusia dalam fase remaja. Seorang remaja cenderung menginginkan kebebasan tanpa batas. Untuk menge-rem ego para remaja, mereka butuh aturan. Oleh karena itu, Allah disebut Malikinnas, Sang Raja membungkam ocehan remaja. Tutur Lora Ismail dengan bahasa recehnya.

Ilāhinnās, bermakna Tuhan manusia. Manusia disini sudah masuk pada fase dewasa. Pada tahap ini, manusia akan memahami segala hal, memahami makna ketuhanan secara sadar dan utuh, atau malah sebaliknya, manusia tidak akan mengetahui sama sekali.

Masuk pada ayat keempat, Khannās. Berbeda dengan nās sebelumnya, nās disini bukanlah diartikan sebagai manusia lagi, tetapi suatu lafadz yang berasal dari akar kata khonasa, artinya mengkerut, mengerucut, mengecil, dan lainnya. Ini artinya setan yang memberi bisikan kita akan mengecil atau menyusut, bahkan akan hilang ketika manusia tersebut ingat akan Tuhannya, Allah.

Baca Juga: Dalil Perbedaan Makki-Madani pada Surah Alfalaq dan Annas

Alladzī yuwaswisu fī sudūr al-nās. Pada ayat kelima ini, nās dipahami sebagai isim fa’il dari nisyan (orang yang sedang lupa), lupa kepada Allah. Terakhir, Minal jinnati wa al-nās, nās pada ayat keenam barulah menunjukkan manusia secara utuh. Dari ayat ke-enam ini me unjukkan bahwa manusia tidak selalu menjadi korban bisikan, tetapi kadang justru menjadi “setan” bagi sesamanya, bukan hanya jin saja.

Dari pengulangan kata nās itulah, penults yang dipanggil dengan Lora Ismail ini juga menegaskan bahwa pengulangan kata tersebut berangkat dari bentuk pengagungan terhadap manusia. Manusia ditempatkan sebagai makhluk yang sangat di muliakan oleh Allah (The Qur’anything, hlm. 38-39), sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Tin [95] ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Melalui susunan surah an-Nas yang rapi dan berlapis, Al-Qur’an tidak hanya menghadirkan doa perlindungan, tetapi Al-Qur’an sekaligus menampakkan kemukjizatannya sebagai kalam yang indah, yang tidak dapat ditiru dan ditandingi oleh siapapun, Wallah A’lam.

Qurrotul Aini
Qurrotul Aini
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Pelaku perusakan alam_tafsir surah al-Baqarah ayat 204-205

Pelaku Perusakan Alam dalam Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204–205

0
Kerusakan ekosistem alam dijelaskan oleh Alquran sebagai akibat langsung dari ulah manusia. Dengan kata lain, manusia dikatakan sebagai pelaku perusakan alam, namun di tengah...