BerandaTafsir Al QuranZakaria Kamal, Penulis Scientific Tafsir of The Qur'an dari Bangladesh

Zakaria Kamal, Penulis Scientific Tafsir of The Qur’an dari Bangladesh

Zakaria Kamal melalui karya tafsir sainsnya, Scientific Tafsir of Qur’an turut meramaikan khazanah penafsiran al-Qur’an dengan pendekatan yang khas. Dalam tafsir ini, Zakaria Kamal seorang pemikir Muslim Bangladesh mengintegrasikan kajian keislaman dengan temuan-temuan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam menjelaskan ayat-ayat kauniyah.

Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan peradaban manusia, diskursus penafsiran al-Qur’an juga mengalami transformasi yang signifikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuka ruang bagi lahirnya corak penafsiran baru yang memanfaatkan sains modern sebagai pendekatan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Pendekatan ini diarahkan untuk menampilkan pesan al-Qur’an secara relevan dan aktual, sehingga mampu menjawab problematika intelektual umat Islam di era modern. Dalam kajian Ulumul Qur’an, model penafsiran tersebut dikenal dengan istilah manhaj at-tafsir al-‘ilmi.

Tafsir ilmi merupakan salah satu model penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan teori-teori sains atau fenomena alam dan realitas kosmik untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an (Mustaqim, 2016: 136). Salah satu tokoh kontemporer yang mengembangkan pendekatan ini adalah Zakaria Kamal, yang dalam penafsirannya berusaha mengaitkan sains dengan penguatan tauhid dan akidah, sehingga sains tidak berdiri secara netral, melainkan berfungsi sebagai sarana utuk meneguhkan keimanan kepada Allah.

Biografi Singkat

Zakaria Kamal adalah mufassir kontemporer dari Bangladesh yang dikenal luas sebagai pakar tafsir sains al-Qur’an. Lahir di Dhaka tahun 1959, ia menjalani perjalanan intelektual unik karena memiliki latar belakang studi keislaman dan pengalaman panjang di bidang militer serta misi perdamaian internasional. Pengalaman kerjanya di Bangladesh Army, pasukan penjaga perbatasan, dan misi PBB di kawasan konflik seperti Irak, Kuwait dan Republik Demokratik Kongo membentuk pandangannya yang rasional, sistematis, dan disiplin. Latar ini memengaruhi pendekatannya dalam membaca al-Qur’an, terutama ayat-ayat kosmik dan fenomena alam. Menurut Zakaria Kamal, al-Qur’an bukan hanya teks keagamaan normatif, tetapi juga sumber inspirasi intelektual yang mendorong dialog antara wahyu dan sains modern.

Dalam bidang keilmuan, Zakaria Kamal dikenal sebagai pendiri dan Ketua Academy of Scientific Tafsir of the Qur’an (ASTAQ) di Dhaka. Melalui lembaga ini, ia mengembangkan proyek penafsiran al-Qur’an dengan pendekatan ilmiah, mengaitkan makna ayat dengan temuan sains kontemporer seperti kosmologi, biologi, dan fisika. Ia menulis karya penting seperti Man and Universe, Fallacious Faiths, Judgment day, six day model of Creation, ABC Of Sufism serta tafsir ilmiah al-Qur’an yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Bengali. Selain buku, gagasan tafsirnya juga disebarluaskan melalui seminar dan media digital, termasuk situs web dan kanal YouTube, sehingga menjangkau audiens global. Pendekatan Zakaria Kamal menegaskan upaya rekonstruksi tafsir al-Qur’an yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tanpa mengabaikan landasan teologisnya.

Baca juga: Tafsir Ilmi Q.S. An-Nur Ayat 34: Proses Terbentuknya Awan

Sekilas tentang Scientific Tafsir of the Quran

Scientific Tafsir of the Quran merupakan salah satu produk penafsiran al-Qur’an berbahasa Inggris yang menggunakan pendekatan ilmiah dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam karya ini, Zakaria Kamal menafsirkan keseluruhan ayat al-Qur’an dengan cara mengelompokkannya ke dalam beberapa topik tertentu. Setiap kelompok ayat terlebih dahulu diterjemahkan, kemudian dianalisis dan ditafsirkan dalam bentuk diskusi yang bersifat argumentatif. Pola ini menunjukkan upaya sistematis penulis dalam mengaitkan makna ayat dengan realitas ilmiah serta aqidah tauhid, sehingga tafsir tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis.

Karya tafsir tersebut disusun dalam tiga jilid pembahasan yang masing-masing memiliki fokus tematik utama. Jilid pertama mencakup Surah al-Baqarah sampai at-Taubah dengan tema pembukaan, pedoman bagi orang-orang bertakwa (Hudan lil Muttaqīn), serta kitab pembeda dan perjuangan (al-Furqān). Jilid kedua meliputi Surah Yunus sampai ar-Rum dengan tema petunjuk bagi seluruh umat manusia (Hudan lil Nās). Adapun jilid ketiga mencakup Surah Luqman sampai an-Nas dengan tema petunjuk bagi orang-orang yang berbuat baik (Hudan lil Muhsinīn). Secara metodologis, karya ini dapat dikategorikan sebagai tafsir yang bercorak tahlili dengan penguatan pendekatan tematik dan ilmiah.

Di beberapa topik pembahasan Zakaria Kamal menampilkan visualisasi atau gambaran perhitungan terkait penafsiran yang dibahas. Seperti contoh topik yang menjelaskan tentang peredaran bulan Zakaria menyajikan gambar fase bulan atau tentang DNA maka tertera gambar struktur DNA secara jelas beserta pon-poin gambarnya.

Sebagai contoh penafsirannya dapat kita lihat di, Q.S. al-‘Alaq [96]: 15-16 dari bagian 2 bab 96 (9-19)

كَلَّا لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ ەۙ لَنَسْفَعًاۢ بِالنَّاصِيَةِۙ

“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka).” (Al-‘Alaq [96]:15) (Terjemah dari Quran Kemenag)

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍۚ

“(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan (kebenaran) dan durhaka.” (Al-‘Alaq [96]:16) (Terjemah dari Quran Kemenag)

Visualisasi struktur otak dalam penafsiran Zakaria Kamal

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Tafsir Ilmi: Pengertian dan Perkembangannya

Dalam menafsirkan ayat tentang “ubun-ubun orang yang mendustakan (kebenaran) dan durhaka”, Zakaria Kamal memulai dengan menguraikan makna kebahasaan ayat beserta konteks peringatan moral yang dikandungnya. Setelah itu, lafaz nāṣiyah (ubun-ubun) dihubungkannya dengan fungsi lobus frontal otak melalui pendekatan ilmiah kontemporer. Ia menjelaskan peran lobus frontal dalam proses berpikir, kemampuan berbicara, pengambilan keputusan, serta pembentukan perilaku moral dengan merujuk pada kajian neurosains. Selanjutnya, Zakaria Kamal mengintegrasikan konsep ruh, qalb, dan nafs sebagai kerangka teologis untuk menjelaskan dinamika kesadaran manusia. Dengan demikian, penafsiran ayat tersebut didukung oleh penggunaan istilah-istilah ilmiah seperti frontal lobe, pineal gland, dan pituitary gland guna memperkuat pemaknaan ayat secara rasional.  

Demikian sekilas tentang Zakaria kamal dan contoh penafsirannya dengan corak tafsir Ilmi melalui karyanya Scientific Tafsir of The Quran. Wallahu a’lam.

Nayla Alfi Azizah
Nayla Alfi Azizah
Mahasiswi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

penafsiran ar-razi tentang frasa 'kembali kepada Allah dan Rasul'

Penafsiran Ar-Razi tentang Frasa ‘Kembali Kepada Allah dan Rasul’ dalam Surah...

0
Frasa 'kembali kepada Allah dan Rasul' pada surah an-Nisa' ayat 59 bagi sebagian kalangan muslim dipahami sebagai dasar teologis untuk selalu menyandarkan segala urusan...