BerandaTafsir TematikMasih Perlukah Berdoa Jika Takdir Sudah Tertulis?

Masih Perlukah Berdoa Jika Takdir Sudah Tertulis?

Kita sering mendengar sebuah ungkapan “Jika takdir sudah ditetapkan, lantas untuk apa manusia masih perlu berdoa?” Pertanyaan ini sering muncul dalam kesadaran beragama masyarakat kita. Di sisi lain, QS. Al-Baqarah [2]:186 justru menegaskan kedekatan Tuhan dengan doa hamba-Nya. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas pandangan Az-Zamakhsyarī dalam Tafsir Al-Kasysyāf mengenai penjelasan rasional atas relasi berdoa dan takdir.

Mengapa Doa Dipertanyakan Jika Takdir Sudah Ada?

Alasan utama manusia berdoa terletak pada sifat Allah sendiri. Ar-Raḥmān dan ar-Raḥīm menunjukkan kasih sayang-Nya yang meliputi semua makhluk, sementara al-Ghafūr menegaskan keterbukaan ampunan-Nya. Doa menjadi medium utama bagi manusia untuk mengakses sifat-sifat ilahi tersebut.

Doa juga berfungsi sebagai ekspresi kesadaran teologis bahwa manusia lemah, membutuhkan pertolongan, dan sepenuhnya bergantung pada kasih sayang Tuhan.

Hal ini menegaskan bahwa doa adalah bagian dari takdir Allah dan tidak bertentangan dengannya. Allah menetapkan sebab sekaligus akibat, dan doa menjadi sebab yang sah dalam ketetapan ilahi. Dengan berdoa, manusia tidak menentang takdir, tetapi menjalani mekanisme yang Allah tetapkan untuk menurunkan rahmat dan memberi jalan keluar hidup.

Baca juga: Makna Doa dalam Kajian Semantik Alquran

Sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadis Nabi SAW pada kitab Sunan At-Tirmidzi nomor Hadis 2060 : hlm. 581

عَنْ ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رُقًى نَسْتَرْقِيهَا، وَدَوَاءً نَتَدَاوَى بِهِ، وَتُقَاةً نَتَّقِيهَا، هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ شَيْئًا؟ قَالَ: هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ.

Dari Ibnu Abī ‘Umar, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan, obat yang kami gunakan untuk berobat, dan bentuk perlindungan yang kami upayakan; apakah semua itu dapat menolak takdir Allah?” Beliau menjawab, “Semua itu juga termasuk bagian dari takdir Allah.”

Hadis ini menegaskan bahwa usaha manusia, seperti ruqyah, pengobatan, dan perlindungan diri, tidak berada di luar ketetapan Allah, melainkan termasuk bagian dari takdir-Nya. Dengan demikian, doa dan ikhtiar tidak bertentangan dengan takdir, tetapi justru menjadi sarana yang telah ditetapkan Allah untuk mewujudkan suatu hasil.

Jawaban Nabi SAW menunjukkan bahwa Allah menetapkan akibat melalui sebab-sebab tertentu. Doa, sebagaimana usaha lainnya, merupakan sebab yang sah dalam sistem ketetapan ilahi. Karena itu, berdoa bukanlah bentuk penolakan terhadap takdir, melainkan cara menjalani takdir dengan penuh kesadaran dan ketundukan kepada Allah.

Baca juga: Allah Berjanji Mengabulkan Doa, Lantas Mengapa Banyak Doa Belum Terkabul?

Pesan QS. Al-Baqarah [2]:186 tentang Doa

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.”

Sebagai sarana untuk memahami ayat ini, Az-Zamakhsyarī menjelaskan QS. Al-Baqarah [2]:186 bahwa doa lahir dari kondisi manusia yang merasakan ketidaksesuaian antara harapan dan realitas hidup.

Ketika manusia menghadapi keterbatasan, kesulitan, atau ketidakmampuan mengendalikan keadaan, maka permohonan (as-su’āl) menjadi ekspresi fitri ketergantungan kepada Allah. Doa tidak muncul dari kelimpahan, tetapi dari kebutuhan dan kegelisahan eksistensial manusia.

Sementara itu, frasa “ujību da‘wata ad-dā‘i” menegaskan bahwa pengabulan doa sepenuhnya hak Allah. Dalam Al-Kasysyāf, ijābah tidak selalu berarti memenuhi keinginan manusia, tetapi merealisasikan hikmah-Nya. Doa menampilkan relasi manusia yang meminta dan Allah yang berdaulat menjawab.

Baca juga: Biografi Al-Zamakhsyari: Sang Kreator Kitab Tafsir Al-Kasysyaf

Cara Al-Kasysyāf Memahami Doa dan Takdir

Ungkapan fa innī qarīb dalam tafsir Al-Kasysyāf dipahami Az-Zamakhsyarī sebagai tamṡīl maknawi, bukan kedekatan fisik. Kedekatan Allah digambarkan melalui kemudahan dan kecepatan-Nya dalam mengabulkan doa, tanpa terikat jarak atau ruang.

Penafsiran ini dikuatkan oleh konteks pertanyaan sahabat tentang apakah Allah dekat sehingga dapat dimunajati atau jauh sehingga harus diseru. Dalam Al-Kasysyāf, ayat ini menegaskan bahwa doa tidak bergantung pada suara atau jarak, melainkan pada kehendak Allah.

Dalam Al-Kasysyāf, doa dipahami sebagai sebab yang telah ditetapkan Allah dalam sistem takdir. Doa tidak mengubah kehendak ilahi, tetapi menjadi bagian dari mekanisme sebab-akibat yang menunjukkan kebijaksanaan dan keadilan Allah.

Perintah “fal-yastajībū lī” menunjukkan relasi timbal balik antara Allah dan manusia. Jika Allah menjawab doa hamba-Nya, maka manusia dituntut merespons dengan iman dan ketaatan. Doa menjadi praktik spiritual yang etis dan rasional dalam tatanan ilahi. Wallahu a’lam.

Muhammad Arifin Murad Pohan
Muhammad Arifin Murad Pohan
Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta dengan minat fokus kajian tafsir Al-Qur’an dan teologi Islam.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU