BerandaKisah Al QuranAlasan Umar bin Khattab Menebang Pohon ‘Baiatur Ridwan’

Alasan Umar bin Khattab Menebang Pohon ‘Baiatur Ridwan’

Baiatur Ridwan merupakan momen penting dalam sejarah Islam. Singkatnya, pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H. saat Nabi Muhammad saw. mengutus Utsman bin Affan untuk menemui kaum Quraisy dan menyampaikan informasi tentang maksud kedatangan Nabi saw. dan para sahabatnya ke Makkah adalah hanya untuk melaksanakan umrah. Namun, orang-orang Quraisy justru menahan Utsman dalam waktu yang cukup lama, sehingga tersebar berita Utsman telah dibunuh. (Al-Rakhiq Al-Makhtum, 337-342)

Akhirnya, Nabi Muhammad saw. menyeru para sahabatnya untuk berbaiat (sumpah setia) siap perang dan tidak melarikan diri. Mereka berkumpul di bawah sebuah pohon, baiat pun dilakasanakan. Baiat ini kemudian dikenal dengan Baiatusy Syajarah atau Baiatur Ridwan. Sedang para sahabat yang ikut baiatur ridwan dikenal dengan ashabusy syajarah.

Orang-orang Quraisy khawatir setelah mendengar baiat tersebut dan akhirnya melepaskan Utsman. Utsman datang kembali setelah baiat selesai. Namun, sebelum itu Nabi Muhammad saw. telah mengetahui bahwa Utsman tidak dibunuh dengan wahyu (nur nubuwwah), (Marah Labid, II/428) Sehingga diketahui bahwa berita tersebut hanyalah hoax atau rumor belaka.

Baca Juga: Ucapan Umar bin Khattab (Khulafaur Rasyidin) yang Diabadikan dalam Ayat Al-Quran

Baiatur Ridwan dalam Alquran

Peristiwa baiatur ridwan menunjukkan keimanan para sahabat yang sangat luar biasa. Saat itu, tanpa persenjataan perang, mereka bersumpah setia untuk tidak melarikan diri dalam melawan orang-orang kafir Quraisy. Melihat kesetiaan para sahabatnya, Nabi Muhammad saw. berkomentar, “Kalian hari ini adalah penduduk bumi yang terbaik”

Keistimewaan lain dari para sahabat yang ikut baiat adalah jaminan Nabi Muhammad saw. bahwa mereka tidak akan ada yang masuk neraka.

Jumlah mereka ada yang mengatakan 1.400 orang ada juga yang mengatakan 1.500 orang. (Al-Rakhiq Al-Makhtum, 337). Pendapat lain mengatakan berjumlah 1.525 orang (Marah Labid, II/428).

Momen bersejarah ini diabadikan dalam Alquran pada Q.S. al-Fath [48]: 18 sebagai berikut:

لَقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِيۡنَ إِذۡ يُبَايِعُوۡنَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيۡ قُلُوۡبِهِمۡ فَأَنۡزَلَ ٱلسَّكِيۡنَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحًا قَرِيۡبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Baca Juga: Memahami Tabarruk Sebagai Tradisi Orang-orang Saleh Terdahulu

Pohon Baiatur Ridwan

Saat itu Umar bin Khattab yang memegang tangan Nabi Muhammad saw. yang berada di bawah suatu pohon tersebut. Hanya saja, para sahabat yang ikut berbaiat tidak ada yang tahu persis tepatnya pohon yang mana. Hal ini sesuai reportase al-Bukhari dalam kitab Shahihnya (III/129).

Diriwayatkan bahwa Thariq bin Abdurrahman bertanya kepada Said bin al-Musayyib mengenai kaum yang salat di bawah suatu pohon yang diklaim sebagai pohon baiatur ridwan. Said menjawab bahwa ayahnya pernah berkata:

فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ العَامِ الْمُقْبِلِ نَسِيْنَاهَا، فَلَمْ نَقْدِرْ عَلَيْهَا

Saat kami keluar di tahun depannya, kami lupa pohon tersebut, maka kami tidak bisa menentukan pohon yang mana (yang dulu pernah digunakan untuk baitur ridwan).

Said mengomentari, “Sungguh para sahabat Nabi Muhammad saw. saja tidak ada yang tahu pohon baitur ridwan itu yang mana, kalian kok mengklaim tahu, kalian kok sok lebih tahu!” Dalam riwayat lain saat disebutkan keberadaan pohon baitur ridwan, Said malah tertawa, dan berujar bahwa ayahnya menceritakan ketidaktahuannya mengenai keberadaan pohon baitur ridwan, padahal dia dulu menyaksikannya.

Di masa hidup, para sahabat yang ikut baiat saja tidak ada yang bisa memastikan pohon tempat dilaksanakam baiatur ridwan, lalu bagaimana dengan pohon yang ada di zaman Umar saat menjadi khalifah yang sudah melewati beberapa tahun lamanya dari peristiwa agung tersebut?

Baca Juga: Penafsiran Umar bin Khattab sebagai Dasar Model Tafsir Kontekstual menurut Abdullah Saeed

Kebijakan Umar

Umar sangat perhatian terhadap atsar nubuwwah (jejak historis kenabian). Oleh karena itu, dia tidak membiarkan keberadaan pohon baiatur ridwan yang masih diperselisihkan, yang diklaim kepastiannya oleh sebagian orang. Para sahabat Nabi yang hadir, yang menyaksikan dan ikut berbaiat di bawah pohon tersebut saja tidak mengetahui secara pasti. Bagaimana mungkin selain mereka bisa tahu dan memastikan keberadaan pohon baiatur ridwan?

Sebagai khalifah, Umar tentu tidak ingin umat Islam menjadi gaduh mengenai hal yang belum pasti kebenarannya, dirasa tepat sekali ketika dia mengambil kebijakan, memerintahkan untuk memotong pohon yang disangka sebagai pohon baiatur ridwan oleh sebagian orang.

Kiai Najih Maimun dalam kitabnya Al-Madkhol Ila Dirasah Mafahim Yajibu An Tushaha (106-107) menegaskan bahwa Sayyidina Umar memotong pohon tersebut (Syajaratur Ridwan) karena terjadinya perselisihan pendapat dalam menentukan pohon yang dimaksud, bukan karena mencegah mengambil berkah dengannya.

Selain itu supaya orang-orang yang haji dan umrah tidak terganggu ibadahnya karena membahas dan berselisih mengenainya, dan pulang pergi ke tempat tersebut padahal belum ada kepastian.

Dengan demikian, anggapan sebagian orang yang menjadikan kebijakan Umar tersebut sebagai legitimasi dan bukti Umar anti ngalap berkah yang dianggap berujung kesyirikan sebagaimana yang dimuat dalam sebuah artikel kiranya perlu dikaji ulang. Wallah a’lam.

Muhammad Hisyam Wahid
Muhammad Hisyam Wahid
Mahasiswa IAT IAIN Pekalongan dan Mutakhorrijin PP. Nurul Huda, peminat kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...