Beranda Tafsir Al Quran Al-Quran sebagai Sumber Perdamaian

Al-Quran sebagai Sumber Perdamaian

Ketentraman dan ketenangan merupakan kondisi yang diharapkan oleh setiap orang, karena itu adalah fitrah manusia. Sehingga wajar sekali apabila di luar sana ada aksi-aksi non-manusiawi maka tindakan tersebut akan cepat menyulut suhu emosional seseorang. Namun sangat disayangkan jika ada persepsi dari sekelompok orang atau golongan bahwa Islam dipandang sebagai agama yang jauh dari kata perdamaian. Lantas bagaimana kita menjawab tuduhan tersebut terhadap Islam?

Islam dengan pengertian epistimologi memiliki makna penyerahan diri, pasrah, patuh dan tunduk kepada kehendak Allah swt., ia adalah agama yang membawa kedamaian di muka bumi ini bagi siapapun.

Al-Quran sebagai pegangan umat Islam, di dalamnya terdapat nilai-nilai agama yang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Diantaranya adalah seruan untuk menjadi muslim secara Kaffah (keseluruhan) dan memegang erat perdamaian.

Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).           

Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, kata “as-Silm” bermakna berserah diri dan tunduk kepada Allah swt. lalu kemudian diartikan dengan istilah perdamaian dan agama Islam. Dan pada ayat tersebut al-Maraghi menjelaskan makna “Kaffah” dalam berislam:

كافة : أي في أحكامه كلها التي أساسها الاستسلام والخضوع لله والإخلاص له، ومن أصوله الوفاق والمسالمة بين الناس وترك الحروب بين المهتدين بهديه

Artinya: “(Kaffah), yakni pada semua hukum-hukumnya yang terdiri dari asas menyerahkan diri, tunduk dan tulus kepadaAllah Swt. dan termasuk pokok-pokok ajaran (Islam) adalah kerukunan, berdamai dengan manusia dan tidak berperang dengan orang-orang yang mendapat petunjuknya”.

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa  dalam ajaran Islam, perdamaian merupakan kunci pokok menjalin hubungan antar umat manusia, sedangkan perang dan pertikaian adalah sumber malapetaka yang berdampak pada kerusakan sosial. Agama mulia ini sangat memperhatikan keselamatan dan perdamaian, juga menyeru kepada umat manusia agar selalu hidup rukun dan damai dengan tidak mengikuti hawa nafsu dan godaan Syaitan yang merupakan musuh yang nyata dan penyebab perpepacahan.

Islam hadir untuk menjadi penyelamat dan penyejuk di muka bumi ini, oleh karenanya setiap ajaran Islam memiliki nilai kebenaran yang tidak diragukan lagi. Dan sebagai agama damai, Islam tidak membenarkan adanya praktek kekerasan atau cara-cara yang bukan islami untuk mencapai tujuan politis. Di dalam tradisi peradaban Islam sendiri juga tidak dikenal adanya label radikalisme. Allah Sw. menyampaikan dalam firman-Nya:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiyaa’ : 107).

Dari ayat diatas para mufassir menjelaskan bahwa Islam diturunkan oleh Allah swt. ke muka bumi dengan perantaraan seorang Nabi yang diutus kepada seluruh manusia untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan bukan hanya untuk pengikut Muhammad saw. semata.

As-Sya’rawi juga memberi komentar atas ayat tersebut dalam tafsirnya, bahwa semestinya umat Islam atau non-Islam hendaknya berkumpul dan bertemu pada ayat ini untuk mengambil rahmat dari sumbernya, sehingga akan terdapat titik temu yang baik dengan sama-sama memulai memperbaiki diri sendiri. Kehadiran damai dalam kehidupan setiap makhluk merupakan tuntutan, karena dibalik ungkapan damai itu menyimpan keramahan, kelembutan, persaudaraan dan keadilan.

Islam pada intinya bertujuan menciptakan perdamaian dan keadilan bagi seluruh manusia, Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau menyebarkan dendam di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukan, bagaimana sikap tasāmuh (toleran) dan kasih sayang kaum muslim terhadap pemeluk agama lain, baik yang tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum musyrik, bahkan terhadap seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan kedamaian. Maka semua tidakan arogansi, radikalisme dan terorisme adalah tidakan yang bukan bersumber dari Islam. Wallahu A’lam.

M. Ali Mustaan
Alumnus STAI Imam Syafii Cianjur, mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pecinta kajian-kajian keislaman dan kebahasaaraban, penerjemah lepas kitab-kitab kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...