Beranda Tafsir Tematik Makna Kata 'afwan, Istilah yang Sering Disebut Dalam Do’a Al Quran

Makna Kata ‘afwan, Istilah yang Sering Disebut Dalam Do’a Al Quran

Kata ‘afwan kerap diartikan sebagai permohonan maaf dari seseorang karena melakukan kesalahan. Begitu juga, ‘afwan sering digunakan saat merespons ucapan syukran (terimakasih) dari seseorang. Di sisi lain, kata al-‘afwu yang merupakan derivasi ‘afwan sering ditemukan dalam do’a Al Quran. Lalu, bagaimana makna kata ‘afwan dalam Al Quran? Simak penjelasannya berikut ini!


Baca juga: Makna Insyaallah dan Biidznillah Sama atau Beda? Ini Penjelasannya!


Makna ‘Afwan dan ‘Afiyah: Menjauhkan dari Hal Negatif

Kata ‘afwan diambil dari bahasa Arab ‘afa-ya’fu-‘afwan. Kata ini terbentuk atas tiga huruf yaitu ‘ain, fa’, dan waw. Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Kosakata Keagamaan, istilah ‘afwan memiliki dua makna dasar. Pertama, meninggalkan sesuatu dan yang kedua, dimaknai dengan meminta. Dari dua makna tersebut, lahir dan berkembang dengan beragam makna.

Dalam konteksnya, kata ‘afa ialah sesuatu yang tadinya ada kemudian ia menjadi lapuk karena terpengaruhi oleh jauhnya perjalanan masa. Dalam arti ia telah meninggalkan keasliannya bahkan telah dihapusnya. Quraish Shihab mengulas konteks ini dengan sederhana. Ia mengutarakan bahwa memaafkan orang yang telah bersalah adalah meninggalkan sebuah tuntutan hidup. Tak hanya itu, ia pun berusaha untuk menghilangkan kecaman atasnya serta menghapus segala bekas luka yang ada di hatinya.

Selanjutnya, ‘afwan  dikaitkan dengan kata al‘afiyah. Yang dimaksud dengan al‘afiyah ialah kondisi yang bisa menjauhkan diri dari perilaku negatif. Berkat kehadirannya, segala yang negatif akan meninggalkannya. Ada banyak redaksi doa yang menggunakan kata al‘afiyah, yang manfaatnya adalah terhindar atau ditinggalkan dari sesuatu yang negatif.  Salah satunya terdapat dalam kitab Mushnaf bin Abi Syaibah, yang ditulis oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah:

 عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَخْنَسِ، قَالَ: مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثًا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ أَشْهَدُ، وَإِذَاأَصْبَحَ قَالَ: اللَّهُمَّ أَصْبَحْتُ أَشْهَدُ أَنَّهُ مَا أَصْبَحَ بِنَا مِنْ عَافِيَةٍ وَنِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، لَمْ يُسْأَلْ عَنْ نِعْمَةٍ كَانَتْ فِي لَيْلَتِهِ تِلْكَ وَلَا يَوْمِهِ إِلَّا قَدْ أَدَّى شُكْرَهَا 

“diriwayatkan dari Bukair bin al-Akhnas, ia berkata: (ketika ia di penghujung sore atau di pagi hari, maka berdoalah dengan doa ini sebanyak tiga kali: yaa Allah, aku sudah melewati  hari soreku, maka aku bersaksi. Dan jika pagi hari “yaa Allah, di pagiku ini aku bersaksi bahwa sesungguhnya pagi yang telah kami rasakan ada dalam keadaan baik (positif) dan dianugerahu kenikmatan, dan hanya kepadamu seorang tidak ada yang menyekutukan engkau, kepadamu segala pujian, tidak patut untuk dipertanyakan nikmat di malam dan harinya kecuali kesyukurannya telah ditunaikan.”


Baca juga: Mengulik Makna Silaturahim dan Manfaatnya


Beragam Makna ‘Afwan dalam Al Quran

Ada tiga surat dalam Al Quran diantaranya yang menjelaskan tentang kata ‘afwan dalam beberapa redaksi kata yang berbeda. Diantaranya QS. Al-Baqarah (2): 219, QS. Al-A’raf (7):199, dan Aurat Al-Insan (76): 9.

  1. Al-Baqarah (2): 219, kata al‘afwu menjelaskan tentang kadar harta yang disedekahkan.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَ يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ 

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamr dan judi. Katakanlah “pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, namun dosanya lebih besar ketimbang manfaatnya. Dan mereka menanyakan kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Maka katakanlah “kelebihan (dari apa yang diperlukan)”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu berfikir.”

Ayat ini menjelaskan tentang sesuatu yang berlebih (al-‘afwu) sangat wajar jika diberikan kepada pihak lain. Dalam arti, kata al-‘afwu disini menjawab pertanyaan tentang apa dan sebesar apa kiranya kadar yang harus disedekahkan. Oleh karena itu, kata al‘afwu tersebut mengandung makna kemudahan. Karena ia diartikan sebagai sesuatu yang berlebih, banyak kemudahan, dan tidak sulit untuk dikeluarkan.

  1. Al-A’raf (7): 199, kata al-‘afwu dipahami sebagai menerima semua anugerah yang ada.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan perintahkan untuk mengerjalan kebaikan, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”.

Kata al-‘afwu disini dipahami sebagai perintah untuk menerima semua anugerah Allah dan manusia tanpa adanya susah payah atau menyulitkan diri sendiri. Dengan kata lain, ia mampu mengambil yang mudah atau ringan dari semua tingkah manusia. Ia bisa menerima dengan tulus apa yang mudah untuk dilakukan, dan jangan sekali-kali menuntut kesempurnaan dari manusia, karena itu akan memberatkan mereka.

  1. Al-Insan (76): 9, kata al-‘afwu dipahami sebagai sesuatu yang tidak membutuhkan balasan.

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridlaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih darimu.”

Quraish Shihab mengutip ayat ini sebagai bukti bahwa kata ‘afwan selain diartikan sebagai permohonan maaf atau perlindungan, ia juga serupa dengan makna “terimakasih kembali”. Bahkan, menurut Shihab, makna al-‘afwu disini bermakna meninggalkan. Beliau melanjutkan, bahwa di daerah kampung halamannya, Sulawesi Selatan, ada yang menjawab ucapan terimakasih dengan kalimat “ambil saja terimakasihnya”. Dalam arti lain, tinggalkan ucapan itu, karena ia tidak membutuhkan ucapkan kata terimakasih atau syukur.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 56: Selawat adalah Bentuk Terima kasih


Hal ini selaras dengan respon “jazakallahu khairan katsiran (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan yang banyak)”. Di satu sisi, ia merupakan doa, dan disisi lain ia menggambarkan bahwa yang bersangkutan tidak perlu membalas kebaikan dari sisinya, karena ia berdoa agar Allah memberi balasan yang banyak. Wallahul muwafiq ila maa yuhib wa yardha.

Rifa Tsamrotus Saadah
Aktif kajian islamic studies, alumni Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dan pernah mengenyam kajian seputar Hadis di Darussunah International Institute For Hadith Sciences.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...