Beranda Kisah Al Quran Ashabul Kahfi: Representasi Perjuangan Pemuda dalam Al-Quran

Ashabul Kahfi: Representasi Perjuangan Pemuda dalam Al-Quran

Ketika umat Islam ditanya berkenaan dengan diskursus pemuda dalam Al-Quran, mungkin yang terlintas di benak mereka adalah kisah masyhur ashabul kahfi. Ini merupakan kisah 7 orang pemuda idaman Al-Qur’an yang tertidur lelap di dalam sebuah goa selama 309 tahun. Kisah ini terjadi jauh sebelum zaman nabi Muhammad Saw.

Menurut sebagian sejarawan Islam, ketujuh pemuda tersebut bernama: Maxelmena, Thamlika, Martinus, Nainunis, Sariyulis, Dzunawanis, dan Falyastathyunis serta seekor anjing bernama Kithmir yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk surga. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas (al-Tafsir as-Shawi [2]: 12)

Kisah ashabul kahfi diabadikan oleh Allah Swt dalam Surat Al-Kahfi. Bagi masyarakat muslim Indonesia yang terbiasa membaca Surat Al-Kahfi setiap malam Jumat, kisah ashabul kahfi lumrah diketahui. Bahkan hampir tidak ada seorangpun yang tidak mengetahui surah tersebut dan kisah 7 pemuda dalam Al-Quran.

Baca Juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat

Sura Al-Kahfi sering dibaca masyarakat Indonesia karena – selain kepercayaan terhadap Al-Qur’an – dipercaya dapat memudahkan seseorang untuk mendapatkan rida Allah Swt. Di samping itu, membaca surah Al-Kahfi juga akan membuat orang yang membacanya mendapatkan cahaya keberkahan serta terhindar dari berbagai macam perasaan gelisah, takut, gundah, dan galau.

Ashabul Kahfi: Kisah Sekelompok Pemuda dalam Al-Quran

Alkisah, pada zaman dulu di sebuah negeri Afasus hiduplah seorang raja bernama Decyanus yang memerintah pada tahun 249 hingga 251 M. Dikisahkan bahwa Decyanus adalah raja yang sangat kejam dan suka menyembah berhala. Ia sering memaksa penganut agama Nasrani dan rakyatnya untuk ikut memuja berhala (Kisah-Kisah Dalam Surah Al-Kahfi).

Suatu ketika ia mendengar bahwa ada 6 orang pemuda golongan bangsawan yang menolak menyembah berhala. Ia kemudian menyuruh para tentara untuk menjemput mereka dan segera menghadap kepadanya. Ketika para pemuda itu sampai, Decyanus bertanya apakah alasan mereka tidak mau mengikuti perintahnya. Mereka berkata dengan berani bahwa mereka hanya mau menyembah Allah Swt.

Baca Juga: Meneladani Kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran

Sang raja kemudian menawarkan berbagai kenikmatan harta dan jabatan agar mereka mau meninggalkan keimanan kepada Allah Swt. Namun, mereka tetap teguh pada pendirian dan menolak semua tawaran Raja. Decyanus murka dan untuk terakhir kalinya memberikan kesempatan agar mereka memikirkan ulang di rumah. Pada akhirnya, mereka tetap teguh dalam keimanan dan berkat itu pula kisah mereka Allah Swt ceritakan sebagai kelompok pemuda dalam Al-Quran.

Pasca menghadap raja para pemuda ashabul kahfi melakukan perundingan serius. Mereka yakin bahwa raja tidak akan membiarkan mereka selamat seandainya tetap meyakini Allah Swt dan hanya beribadah kepada-Nya. Mereka sadar bahwa tanpa kekuatan yang besar, mereka tidak mungkin bisa melawan raja zalim itu. Akhirnya, mereka semua memutuskan untuk melarikan diri demi mempertahankan keimanan mereka.

Mereka pun pergi dan meninggalkan kota kekaisaran secara seumbunyi-sembunyi menuju sebuah gua di Gunung Tikhayus. Saat di perjalanan, mereka bertemu dengan seorang penggembala (Falyastathyunis) bersama anjingnya. Setelah bercakap-cakap, ia dan anjinya tersebut turut serta untuk melarikan diri karena mereka memiliki keyakinan yang sama. Pada saat itu lengkaplah 7 orang pemuda ashabul kahfi yang merupakan representasi pemuda dalam Al-Qur’an.

Ketika sampai di dalam goa, mereka beribadah kepada Allah Swt dengan bebas dan leluarsa. Mereka berdoa kepada Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya agar terhindar dari kejaran tentara raja Decyanus. Doa tersebut kemudian Allah Swt kabulkan dengan cara menutup indera dan menindurkan mereka dalam waktu yang sangat lama, yakni 309 tahun.

Baca Juga: Menggali Nilai-nilai Santri pada Kisah Nabi Musa As dalam Surat Al-Kahfi

Mereka terbangun 309 tahun kemudian, yakni pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Timur Theodosius II 408-450 Masehi (Encylopedia Britannica: 2015). Mereka sungguh terkejut bahwa raja Decyanus telah lama meninggal dan kekuasaan zalimnya telah digantikan oleh kekaisaran yang menjadi penyembah Allah Swt, tidak lagi menyembah berhala. Mereka lalu kembali diwafatkan oleh Allah Swt untuk selama-lamanya. Berakhirlah kisah ashabul kahfi, pemuda idaman Al-Qur’an.

Dar kisah ashabul kahfi di atas, setidaknya ada 3 kriteria pemuda idaman Al-Qur’an yang dapat kita tangkap, yakni: Pertama, pemuda yang beriman dan teguh pada keimanannya. Para pemuda ashabul kahfi telah menunjukkan bahwa seseorang harus beriman kepada Allah Swt dan teguh pada keimanannya tersebut apapun alasannya. Karena keimanan itulah yang akan menghantarkan seseorang kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Kedua, pemuda harus berani menentang kezaliman dan penindasan. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun harus berani menentang segala macam bentuk kezaliman, baik yang dilakukan oleh individu maupun para penguasa. Seorang pemuda harus mengatakan dan menyerukan kebenaran dengan seyakin-yakinnya, karena kebenaran adalah hal yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

Kriteria pemuda idaman Al-Qur’an yang ketiga adalah berusaha dan bertawakal kepada Allah Swt. Para pemuda ashabul kahfi telah menujukan usaha atau ikhtiar mereka dalam menentang kezaliman dan kekejaman raja Decyanus. Namun di sisi lain, mereka juga berserah diri kepada Allah Swt mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka yakin bahwa Allah Swt akan memberikan pertolongan bagi siapa yang meminta kepada-Nya. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Menyegerakan haji saat sudah mampu

Hukum Menerima Hadiah Naik Haji Gratis 

0
Salah satu media online memberitakan, Seorang jemaah Masjid Istiqlal, Jakarta, mendapatkan hadiah naik haji gratis dari Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi....