Beranda Khazanah Al-Quran Ayat-Ayat Syifa’, Penjelasan dan Pengalaman Para Mufasir Tentangnya

Ayat-Ayat Syifa’, Penjelasan dan Pengalaman Para Mufasir Tentangnya

Bagi beberapa orang, khususnya para santri, wirid dan zikir adalah rutinitas yang sulit mereka tinggalkan, seolah wirid dan zikir telah menjadi bagian dari diri mereka yang harus diamalkan demi meraih keseimbangan hidup antara olah jasad dan olah hati. Demikian memang sudah menjadi tradisi di pesantren dari masa ke masa. Untuk tetap dalam rutinanitas itu, mereka pada umumnya memanfaatkan buku saku yang memuat wirid, zikir, dan doa-doa, disamping karena daya hafal yang lemah, juga dikarenakan buku saku itu lumayan kecil sehingga mudah dibawa kemana saja.

Umumnya, dzikir atau wirid yang dimuat dalam buku-buku wirid itu adalah ayat-ayat Al-Quran yang memang dianjurkan untuk dibaca, bisa karena bernilai pahala atau karena diyakini memiliki khasiat tertentu yang tentunya atas petunjuk Nabi dan orang-orang saleh yang diyakini integritas kesalehannya. Seperti surah al-Kahfi, al-Waqi’ah dsb. Selain ayat-ayat Al-Quran, buku wirid itu juga banyak didominasi oleh doa-doa dan zikir yang biasa dibaca oleh Nabi saw. di waktu, tempat, kondisi, dan situasi tertentu.

Baca Juga: Quranic Immunity: Kajian Ayat-Ayat Syifa dalam Al-Quran

Diantara buku-buku wirid yang popular adalah Khulashah Syawariqul Anwar buah karya Imam besar Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki yang lahir dan wafat di kota Makkah al-Mukarramah. Buku saku yang dapat dibawa kemana saja ini, banyak berisi doa-doa, zikir, ratib, dan hizib yang disusun oleh ulama-ulama pilihan, seperti wirid Imam al-Haddad, Imam at-Tijani, Imam Nawawi dsb.

Dan di bagian akhir kitab, Khulashah Syawariqul Anwar hal.162, Abuya Sayyid Muhammad mencantumkan enam ayat Al-Quran yang menyebutkan frasa syifa’ (kesembuhan) dalam berbagai bentuk derivasinya dan ayat-ayat Al-Quran ini populer disebut ayat-ayat syifa’. Enam ayat itu adalah sebagai berikut,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ ما هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين

وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

شِفاءٌ لِما فِي الصُّدُور

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدىً وَشِفاءٌ

وَإِذا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

فِيهِ شِفاءٌ لِلنَّاسِ

Al-Quran dan penyembuhan penyakit

Seperti yang terlihat jelas, di antara ayat-ayat di atas menegaskan bahwa Al-Quran adalah syifa’ yakni obat yang dapat menyembuhkan penyakit. Hanya saja ulama masih berselisih tentang sakit yang bisa disembuhkan oleh Al-Quran, tetapi semua ulama sepakat penyakit hati pasti dapat tersembuhkan oleh Al-Quran, mereka hanya berselisih, apakah Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit fisik atau tidak.

Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir-nya mengatakan bahwa ulama memiliki dua pandangan tentang penyakit apakah yang dimaksud dapat disembuhkan oleh Al-Quran. Pendapat pertama mengatakan hanya penyakit hati yang dapat tersembuhkan oleh Al-Quran, seperti menghilangkan kebodohan, kegelapan hati dan menjernihkannya. Pendapat lain mengatakan tidak hanya penyakit hati, tapi Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit badan yaitu dengan ruqyah dan ta’awudz.

Beliau, Wahbah Zuhaili kemudian menampilkan beberapa dalil yang menguatkan pandangan kedua, di antaranya; Nabi Muhammad melegalkan sahabatnya melakukan ruqyah dengan Al-Quran, Nabi juga menyuruh ber-isytisfa’ atau berobat dengan Al-Quran. Dari kalangan Tabi’in, Sa’id ibn Musayyib membolehkan berobat dengan Al-Quran yaitu dengan menuliskan beberapa ayat Al-Quran -seperti al-Fatihah- ke dalam wadah yang berisi air lalu airnya diberikan kepada orang yang sedang sakit.

Seorang Imam Malik pun pernah berkata “boleh mengalungkan tulisan-tulisan yang berisi nama Allah di lehernya orang sakit, dengan niat tabarruk (mengharap berkahnya untuk kesembuhan).” Kemudian di akhir uraiannya Wahbah Zuhaili mengutip pendapat Imam Al-Qurtubi, bahwa pandangan pertamalah yang paling diyakini benar, tetapi beliau menambahkan bahwa upaya pengobatan dengan Al-Quran seperti ayatus syifa’ dan doa-doa lain hanyalah sebatas perantara yang harus diyakini tidak dapat menyembuhkan tanpa izin Allah Swt. dan harus menyakini hanya Dia semata yang dapat menyembuhkan dengan cara apa pun yang dikehendakinya termasuk dengan berkah ayatus syifa’ (Tafsir Munir, juz 15 hal. 154)

Baca Juga: Tafsir Ayat Syifa: Al-Quran sebagai Obat Penyakit Hati Manusia

Keutamaan ayat-ayat Syifa’

Sebagaimana yang sering dikutip oleh Quraish Sihab dalam buku-bukunya dan di berbagai kesempatan, Abdullah Darraz menulis “Ayat-ayat al-Quran bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lainnya, dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat banyak dibanding apa yang kita lihat” itu sebabnya para sufi banyak yang menemukan rahasia-rahasia al-Quran yang tidak diketahui oleh orang lain. Mereka melihat ayat-ayat al-Quran sejatinya bersatu padu, yang terikat dalam sebuah rahasia. Ayat-ayat syifa’ yang tercecer dalam mushaf Al-Quran sejatinya memiliki kaitan satu sama lain yang secara tidak langsung merupakan sebuah kesatuan yang memiliki rahasia tersendiri diantranya adalah dapat digunakan untuk kesembuhan suatu penyakit.

Mengenai keutamaan ayat-ayat syifa’ ini, banyak ulama yang menyebutkan kisah yang dialami oleh Imam Abu Qasim al-Qusyairi. Imam Qusyairi menceritakan sendiri bahwa suatu hari putranya mengalami sakit yang sangat parah. Tidak satu pun yang mampu mengobatinya. Namun beliau tidak putus asa dan terus berusaha, sampai kemudian sang Imam tertidur dan bermimpi “melihat Allah” seraya mengadukan keadaan putranya dan bermohon agar kiranya diberi petunjuk untuk kesembuhan anaknya.

Allah swt. pun berfirman “Wahai Qusyairi bacakanlah ayat-ayat syifa’, lalu tuliskan di secarik kertas lalu masukkan kedalam wadah yang telah berisi air kemudian berikan kepada anakmu agar diminumnya” setelah terbangun beliau pun segera melakukan apa yang baru saja diajarkan Allah kepadanya, dan dengan izin Allah anaknya seketika itu pula sembuh dan pulih sehat seperti sedia kala.

Kisah ini diantaranya diceritakan oleh, Imam Abdurahman Bin Abdissalam dalam kitab Nuzhatu al-Majalis Wa Muntakhabu an-Nafais-nya, Ibn Saif dalam Thabaqat, Sihabuddin ibn Ahmad ibn Muhammad di dalam Hasyiyah ‘Ala Tafsir al-Baidhowi, Imam as-Subki dalam Thabaqat-nya dan Ismail Mustafa Haqqi di dalam tafsirnya, Ruhul Bayan dan ulama-ulama lain.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82: Al-Qur’an Sebagai Syifā’ (Penyembuh) Lahir dan Batin

Imam as-Subki berkata “ayat-ayat syifa’ ini telah diuji coba dan sering diamalkan dan aku banyak melihat ulama yang menulis ayat-ayat ini kedalam wadah air kemudian diberikan kepada orang yang sedang sakit mengharap sembuh dengan berkah ayat-ayat ini”. (Hasyiatus Syihab ‘Ala Tafsir al-Baidhawi [6] 55 dan Ruhul Bayan [5] 194). Wallahu a’lam.

M. Yoeki Hendra
Mahasantri Ma'had 'Aly Situbondo, gemar membaca kitab-kitab turats
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...