Beranda Tafsir Tematik Beberapa Sikap Manusia terhadap Nikmat yang Digambarkan Al-Quran

Beberapa Sikap Manusia terhadap Nikmat yang Digambarkan Al-Quran

Ada sejumlah ayat di dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang sikap manusia terhadap nikmat itu. Allah menggambarkan hal itu dalam beberapa ayat berikut. Di dalam QS. Al-Isra’ (17): 83 Allah menyatakan: “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”

Ayat ini menerangkan bahwa manusia, ketika mendapatkan nikmat-nikmat dari Allah, tidak taat kepada Allah, menyimpang dari ajaran Allah, dan berpaling dari Allah Swt. Mereka berhura-hura, bersenang-senang dengan nikmat itu. Begitu senangnya mereka, sampai lupa daratan. Akan tetapi, ketika mereka ditimpa musibah, ditimpa kekurangan, ditimpa kesulitan, mereka mengeluh, mereka berputus asa. Mereka juga berkata, ya Allah mengapa Engkau menguji aku dengan beban yang berat begini. Demikianlah tabiat manusia menghadapi nikmat. Jika nikmat berlimpah kepada mereka, mereka yang memberi nikmat. Jika mereka ditimpa musibah, kesulitan, mereka mengeluh tidak pernah habis-habisnya.

Baca Juga: Membayar Utang Adalah Tanda Bagi Keimanan Seseorang

Di dalam QS. Fushshilat (41): 51 Allah mengungkapkan tabiat manusia yang lain dalam menghadapi nikmat itu. Allah mengungkapkan tabiat manusia seperti itu adalah sebagai berikut: “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.”

Ayat ini menerangkan bahwa manusia, ketika mendapatkan nikmat-nikmat dari Allah, tidak taat kepada Allah, menyimpang dari ajaran Allah, dan berpaling dari Allah Swt. Mereka berhura-hura, bersenang-senang dengan nikmat itu. Begitu senangnya mereka, sampai lupa daratan. Akan tetapi, ketika mereka ditimpa musibah, ditimpa kekurangan, ditimpa kesulitan, mereka mengeluh, doa mereka panjang-panjang. Dalam doanya, mereka memohon kepada Allah agar Allah tidak menimpakan kepada mereka kesulitan seperti itu. Ketika mendapat musibah, mereka banyak berzikir, banyak berdoa, wiridnya panjang-panjang.

Dua ayat ini menggambarkan dua sikap manusia ketika menghadapi nikmat Allah. Ketika ada nikmat Allah mereka lupa daratan, lupa yang memberi nikmat dan karena itu mereka menyimpang dari Allah Swt. Apabila mereka mendapat musibah, ditimpa kekurangan, nikmat dicabut oleh Allah dari mereka, mereka putus asa, doa mereka panjang-panjang, selalu mengingat Allah.

Ada beberapa ayat lain lagi yang menerangkan sikap manusia terhadap nikmat-nikmat Allah. Sikap-sikap mereka itu digambarkan oleh Allah dalam beberapa ayat berikut. Di dalam QS. Az-Zumar (39): 8:

وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيۡهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعۡمَةٗ مِّنۡهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدۡعُوٓاْ إِلَيۡهِ مِن قَبۡلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادٗا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦۚ قُلۡ تَمَتَّعۡ بِكُفۡرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ٨

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.”

Manusia ketika ditimpa masalah, musibah, kesulitan, bermohon dan berdoa kepada Allah agar Allah segera melepaskan mereka dari kesulitan itu. Akan tetapi, apabila Allah telah melepaskan kesulitan mereka dan mengabulkan apa yang telah mereka, dan memberikan nikmat-Nya kepada mereka, mereka lalu lupa akan Allah. Bahkan, mereka mengada-adakan sekutu-kutu bagi Allah dan menyimpan dari jalan-Nya. Inilah sifat dan tabiat manusia. Ketika susah dia berdoa untuk diberikan nikmat oleh Allah. Ketika yang dimintanya dikabulkan Allah, dia lupa Allah.

Di dalam QS. Al-Zumar (39): 49 Allah menegaskan lagi bahwa nikmat yang didapatnya bukan karena diberikan Allah, tetapi karena kepintarannya sendiri. Allah menyatakan:

فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۢۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٩

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru kami, Kemudian apabila kami berikan kepadanya nikmat dari kami ia berkata: “Sesungguhnya Aku diberi nikmat itu hanyalah Karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak Mengetahui.”

Baca Juga: Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Ini salah satu ayat yang menerangkan tabiat dan sifat buruk manusia. Tabiat buruknya itu adalah ketika manusia ditimpa bahaya dan kesulitan, mereka berdoa kepada Allah agar segera dilepaskan dari bahaya dan kesulitan itu. Ketika Allah mengabulkan permintaan bukan bersyukur kepada Allah dan menyatakan Allah yang telah memberi rezeki kepadanya. Tetapi, mereka mengatakan bahwa rezeki itu datang karena kepintaranku.

Semoga kita terhindar dari sikap sombong sebagaimana digambarkan pada ayat terakhir di atas. Seluruh nikmat bersumber dari Allah Swt. Sikap manusia terbaik terhadap Tuhan-Nya atas karunia nikmat adalah bersyukur dengan cara menyebarkan kebaikan secara terus menerus. Wallahu A’lam.

Ahmad Thib Raya
Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran (PSQ)
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...