Lailatul Qadar sering kali dipahami sebagai suatu malam mistis yang turun secara misterius pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan. Namun, di tangan Muhammad Syahrur (1938-2019), seorang pemikir kontemporer asal Suriah, konsep ini dibedah melalui kacamata rasional dan saintifik yang kontroversial di kalangan sarjana muslim. Dalam karya monumentalnya, al-Kitāb wa al-Qur’ān: Qirā’ah Mu‘āṣirah, Syahrur membawa perbincangan Lailatul Qadar keluar dari wilayah metafisika semata menuju realitas empiris yang bisa dijangkau oleh kesadaran manusia modern.
Ta’wīl sebagai Kunci Pembuka Makna
Bagi Syahrur, memahami Lailatul Qadar tidak cukup dengan tafsir tekstual konvensional, melainkan memerlukan proses penafsiran secara alegoris (ta’wīl). Syahrur sendiri mendefinisikan “ta’wīl”, yang berasal dari derivasi kata “awwala”, sebagai upaya menjadikan ayat menemui akhir pemaknaannya (mā tantahī ilaihi al-āyah) dalam bentuk realitas objektif yang dapat diterima indera atau nalar logis.
Objek penafsiran alegoris ini pun menurutnya hanyalah terhadap ayat-ayat mutasyābihāt saja. Hal ini karena ayat-ayat tersebut mengandung karakter tasyābuh. Dengan ini, ia pun berargumen bahwa Al-Qur’an mengandung hakikat mutlak yang dibungkus dalam bahasa manusia yang relatif. Dimensi mutlak Al-Qur’an diungkapkan dalam bentuk linguistik baru (al-Żikr). Sementara dimensi relatifnya tertuang dalam kandungannya yang senantiasa bergerak dalam setiap aktivitas penafsiran alegoris itu tadi, sekaligus menjadi proyeksi akan kandungan rahasia terbesar i‘jāz al-Qur’ān. Oleh karenanya, makna Lailatul Qadar harus terus-menerus diharmonisasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan agar pesan Tuhan tetap relevan dan tidak menjadi gersang.
Model Ta’wīl Syahrur pada Peristiwa Lailatul Qadar dalam QS. al-Qadar
Dalam konstruksi pemikiran Syahrur, Lailatul Qadar tidak dipahami sekadar sebagai peristiwa turunnya malaikat secara fisik ke bumi pada malam hari tertentu, melainkan sebuah proses transisi makrifati yang sangat sistematis. Dalam model penafsiran alegorisnya (namūżaj al-ta’wīl) terhadap QS. al-Qadar tentang fenomena Lailatul Qadar, Syahrur menggunakan pendekatan linguistik-rasional untuk membedah kata anzal-nā-hu dalam “innā anzal-nā-hu fī lailat al-qadr” melalui konsep al-inzāl—dan diferensiasinya dengan konsep al-tanzīl. Bagi Syahrur, al-inzāl adalah proses transmisi atau masuknya sesuatu ke dalam wilayah yang dapat dijangkau oleh akal manusia (dukhūl al-syai’ fī ‘ālam al-mudrakāt).
Sebelum proses ini terjadi, Al-Qur’an memiliki wujud “pra-eksistensi” di Lauḥ Maḥfūẓ dan Imām Mubīn yang tidak dapat diketahui hakikatnya oleh manusia. Melalui proses al-inzāl yang dibarengi dengan al-ja‘l (transformasi eksistensi), Al-Qur’an diubah wujudnya menjadi entitas linguistik dalam bahasa Arab yang terang. Inilah yang menurut Syahrur terjadi pada Lailatul Qadar; sebuah momen di mana pesan Tuhan yang abstrak menampakkan diri ke dalam struktur bahasa yang bisa dinalar.
Baca juga: Tips Mendapat Malam Lailatulqadar Ala M. Quraish Shihab
Syahrur memberikan ta’wīl yang unik terhadap terminologi “lailah” (malam). Ia berargumen bahwa karena Lauḥ Maḥfūẓ tidak tunduk pada ruang dan waktu, maka kata lailah itu tidak relevan jika diartikan sebagai waktu malam hari secara harfiah. Baginya, lailah adalah metafora dari “kegelapan” (aẓ-ẓalām) atau ketidaktahuan. Maka menurutnya, Lailatul Qadar adalah proses perpindahan Al-Qur’an dari wilayah yang gelap/gaib menuju wilayah yang terang benderang bagi akal manusia.
Menariknya lagi, Syahrur merekonstruksi makna alf syahr (seribu bulan) dalam “lailat al-qadr khair min alf syahr” secara antimainstream. Ia tidak melihatnya sebagai angka statistik—83 tahun lebih beberapa bulan, melainkan dari akar kata alafa (penyusunan/penghimpunan) dan al-syuhrah (penampakan). Maka, makna mainstream “lebih baik dari seribu bulan” baginya adalah: jika seluruh perkara Allah dan segala kumpulan pengetahuan dihimpun menjadi satu, maka peristiwa ditampakkannya Al-Qur’an ke dalam nalar manusia tetap jauh lebih utama dari semua itu. Kecondongan personalnya pun ditekankan pada makna ini.
Lebih jauh lagi, Syahrur juga kemudian mengaitkan Lailatul Qadar dengan hukum alam dan kosmologi. Ia memberi diferensiasi antara al-inzāl: transmisi teks yang terjadi sekali; dan al-tanzīl: proses perwujudan kandungan Al-Qur’an yang terus berlangsung. Menurutnya, kandungan Al-Qur’an yang berisi aturan universal alam semesta senantiasa “menampakkan diri” seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan ekspansi jagat raya.
Baca juga: Tafsir Isyari Ibnu Abbas r.a. tentang Lailatul Qadr
Syahrur juga memberi analogi sederhana bahwa peristiwa Lailatul Qadar itu ada di antara kita saat ini. Ia memberi contoh perihal ke-Mahakuasa-an Allah dalam menetapkan Lailatul Qadar—dalam arti isyhār al-Qur’ān—sebagai waktu untuk mengeluarkan suatu perkara—seperti pengampunan—lantas, dalam konteks kekinian, hal tersebut seolah-olah seperti “Presiden” yang mengeluarkan dekrit tentang pengampunan kepada para penjahat saat hari peradilan. Namun, menurutnya, perkara ini dikeluarkan oleh Tuhan Rabb al-‘ālamīn tanpa pengumuman publik, melainkan melalui wahyu. Tak ayal jika banyak dari kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepada-Nya; bermunajat dan memohon ampunan kepada-Nya. Menurut Syahrur, oleh karenanya Allah berfirman “tanazzalu al-malā’ikat wa al-rūḥ fī-hā bi-iżn rabbi-him min kulli amrin”.
Ta’wīl-nya atas “salām(un) hiya ḥattā maṭla‘ al-fajr” pun pada gilirannya tidak lagi dipersempit pada mafhum bahwa kesejahteraan Lailatul Qadar tidak berhenti hingga terbitnya fajar matahari pagi hari saja. Menurutnya, peristiwa isyhār al-Qur’ān ini akan terus berlanjut selama alam semesta ada, dan baru akan berakhir pada “fajar” yang sesungguhnya, yaitu peristiwa ledakan kosmik kedua (al-infijār al-kaunī al-ṡānī/big bang) terjadi, yakni hari kiamat, ketika seluruh kebenaran Al-Qur’an telah terbukti secara empiris di hadapan manusia.
Upaya Rasionalisasi Lailatul Qadar: dari Metafisika ke Empiris
Dari model ta’wīl yang dicontohkan Syahrur itu, dapat kita lihat bahwa ia menolak pembatasan pemahaman ayat yang hanya menyentuh pada sisi batin atau gaib yang tidak tersentuh nalar. Dalam pandangannya, Lailatul Qadar—sebagai sebagai salah satu model ta’wīl-nya itu—adalah bagian dari ayat-ayat mutasyābihāt yang menyimpan rahasia pesan Tuhan yang harus diungkap melalui rasionalisasi berikut pendekatan ilmiah modern.
Dalam upayanya itu, setidaknya rasionalisasi yang dibangun Syahrur menekankan beberapa poin penting. Pertama, melalui harmonisasi wahyu dengan sains. Lailatul Qadar dipandang bukan sekadar sebagai peristiwa spiritualitas dalam tatar metafisis belaka, melainkan peristiwa yang memiliki dimensi hukum alam dan sejarah yang logis. Kedua, melalui antisinonimitas. Di sini, Syahrur sangat menekankan bahwa setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki makna yang unik yang tidak bisa digantikan oleh kata lain. Kasus ta’wīl atas Lailatul Qadar telah menunjukkan bahwa istilah “lailah” dan “qadar” harus dibedah secara linguistik yang presisi untuk menemukan hakikatnya dalam realitas objektif. Ketiga, melalui evolusi kesadaran. Ia meyakini adanya evolusi risalah dan pengetahuan manusia. Konsekuensinya, kasus Lailatul Qadar ini memberikan potensi besar untuk meraihnya seiring dengan meningkatnya kedalaman ilmu pengetahuan (sains) dan kesadaran empiris seseorang.
Potensi Besar Meraih Lailatul Qadar
Hal menarik dan didaktik dari konstruksi ta’wīl atas Lailatul Qadar yang dilakukan oleh Syahrur semacam itu tadi, kiranya menjadi lebih mafhum bahwa kesejahteraan yang dihadirkan oleh Lailatul Qadar sangat akrab sekali dengan lingkungan sekitar kita. Berpijak dari konstruksi Syahrur perihal makna isyhār al-Qur’ān, analogi akrab pengampunan yang diberikan Sang Raja, hingga keberlangsungan Lailatul Qadar di setiap tahunnya, memberikan implikasi potensial yang besar bagi kita untuk meraihnnya. Yakni, upaya kita dalam melakukan taqarrub, ta‘abbud, taḍarru‘, dan lain sebagainya, tidak sepatutnya dipersempit secara temporal dalam malam-malam ganjil pada 10 hari Bulan Ramadan saja, melainkan sepanjang kita menghembuskan nafas di alam semesta ini.
Tak kalah pentingnya, ialah perihal penegasan Syahrur bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami secara keseluruhan oleh manusia. Bahkan menurutnya, pihak yang paling berpotensi melakukan ta’wīl—dan secara tidak langsung “menemui” hakikat Lailatul Qadar—adalah mereka yang mendalami ilmu-ilmu bantu yang objektif dan empiris, seperti halnya para saintis, astronom, fisikawan, hingga sejarawan. Namun, agaknya hal ini memang lebih patut kita tangkap, bahwa upaya kita memburu rahasia pesan Tuhan bukan sekadar menunggu secara pasif, melainkan secara aktif menggunakan seluruh kemampuan optimal kita dalam mengungkap misteri alam dan wahyu.
Penutup
Terlepas dari kontroversialnya model ta’wīl yang dilakukan, Syahrur mengajak kita untuk tidak lagi memandang Lailatul Qadar sebagai misteri yang menjauh, melainkan sebagai potensi besar yang bisa diraih melalui kesungguhan dalam mentadabburi Al-Qur’an dan berilmu pengetahuan untuk diamalkan secara terus menerus di kehidupan sehari-hari.


![Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam: Analisis Q.S. An-Nisā [4]: 58 Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/03/Screenshot-2026-03-08-at-15.10.40-218x150.png)











![Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam: Analisis Q.S. An-Nisā [4]: 58 Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/03/Screenshot-2026-03-08-at-15.10.40-100x70.png)


