Beranda Tafsir Tematik Bukan Kitab Suci Biasa, Ini 5 Keistimewaan Al-Qur’an

Bukan Kitab Suci Biasa, Ini 5 Keistimewaan Al-Qur’an

Sebagai kitab suci terakhir, Al-Qur’an memiliki beberapa keistimewaan. Yang menarik, Al-Qur’an sendiri melalui ayat-ayatnya memperkenalkan keistimewaan dirinya. Ada banyak keistimewaan yang disandang kitab ini. Namun, artikel ini hanya akan membahas lima hal saja. Berikut uraian ringkas lima karakteristik Al-Qur’an yang membuatnya menjadi kitab yang istimewa.

Tidak Tercampur Kebatilan Sedikitpun

Al-Qur’an merupakan kitab yang memiliki keserasian di antara ayat-ayatnya. Selain tidak terdapat keraguan di dalamnya (Lā raiba fīhi), di dalam Al-Qur’an tidak terdapat kebatilan sedikitpun. Hal ini diterangkan dalam surah Fussilat ayat 42:

لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Artinya: Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”

Berkaitan dengan ayat ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa kebenaran Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak, tidak dipengaruhi oleh subjektifitas masa. Apa yang diberitakan Al-Qur’an hari ini dan bertentangan di kemudian hari. Serta, selalu relevan dengan setiap masa (Tafsir Al-Misbah).

Terjaga dari Perubahan

Keistimewaan Al-Qur’an yang kedua adalah dari sisi keterjagaan ayat-ayatnya. Keterjagaan ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab terdahulu. Jika kitab terdahulu mengalami perubahan (tahrīf), maka Al-Qur’an menjadi satu-satunya kitab yang terhindar dari segala bentuk perubahan.

Hal ini ditegaskan oleh Fakhr Razi dalam tafsirnya, bahwa “Ketahuilah bahwa tidak ada satupun kitab yang disepakati keterjagaannya kecuali kitab ini, serta kitab ini tidak dimasuki oleh perubahan.” (Tafsir Al-Kabīr).

Selain dijaga oleh para penghafal dan ditulis di lembaran-lembaran mushaf, Al-Qur’an benar-benar dijaga langsung oleh Allah. Ini adalah jaminan yang Allah berikan sebagaimana yang dinyatakannya dalam surah Al-Hijr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pula yang memeliharanya.”

Baca juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82: Al-Qur’an Sebagai Syifā’ (Penyembuh) Lahir dan Batin

Tidak Ada Kontradiksi di dalamnya

Setelah memahami bahwa Al-Qur’an tidak tercampur kebatilan dan terjaga dari perubahan, selanjutnya kitab ini tidak mengandung kontradiksi. Artinya, ayat-ayat di dalamnya merupakan satu kesatuan yang tidak saling bertentangan.

Selain itu, antarayat Al-Qur’an saling menguatkan dan menjelaskan. Oleh karena itu, untuk memahami Al-Qur’an kita perlu melihat rangkaian ayat-ayatnya secara komprehensif, sehingga mampu menangkap spirit utamanya, bukan hanya memahami secara parsial. Ayat yang menyatakan hal ini adalah surah An-Nisa’ ayat 82:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فيهِ اخْتِلافاً كَثيراً

Artinya: “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Perihal ayat ini, Asy-Sya’rawi menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan sifatnya kalam Allah adalah kesempurnaan. Sementara pertentangan adalah lawan dari kesempurnaan. Makna pertentangan di sini adalah ditemukannya kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. (Tafsir Asy-Sya’rawi).

Dengan begitu, jelas bahwa Al-Qur’an tidak memuat pertentangan sedikitpun di dalamnya. Karena ia berasal dari sisi Allah.

Tak Ada yang Mampu Membuat Semisalnya

Tiga keistimewaan Al-Qur’an sebelumnya menjadikannya benar-benar firman Allah yang mulia. Kemudian, keontetikan kitab ini didukung dengan adanya tantangan untuk membuat semisalnya. Berulang kali ayat-ayat Al-Qur’an mengajak seluruh jin dan manusia untuk membuat semisal Al-Qur’an, bahkan satu surah saja yang semisalnya.

Dan terbukti, sampai saat ini tidak ada yang mampu membuat serupa Al-Qur’an walau satu surah darinya. Ini menggambarkan keaslian, kedalaman dan keistimewaan Al-Qur’an. Surah Yunus ayat 38 adalah satu di antara ayat yang berisi tantangan itu. Berikut redaksi ayatnya:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَراهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَ ادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صادِقينَ

Artinya: “atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.

Baca juga: Ayat-Ayat ‘Lucu’ Musailamah Al-Kadzdzab dalam ‘Menjawab’ Tantangan Al-Quran

Penyempurna Kitab-Kitab Sebelumnya

Sebagai kitab samawi terakhir dan dibawa oleh penutup para Nabi, Al-Qur’an menjadi kitab yang membawa kebenaran dan membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Selain itu, juga sebagai penyempurna kitab-kitab terdahulu.

Peran Al-Qur’an ini disebut dalam surah Al-Maidah ayat 48, berikut ayatnya:

وَ أَنْزَلْنا إِلَيْكَ الْكِتابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتابِ وَ مُهَيْمِناً عَلَيْهِ

Artinya: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, sedang kitab ini membenarkan dan menjaga kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya.

Secara bahasa, kata muhaiminan, menurut Quraish Shihab jika diartikan sebagai tolok ukur menjadi kurang tepat. Padahal kata ini terambil dari haimana yang berarti penguasaan, pengawasan serta wewenang atas sesuatu. (Tafsir Al-Misbah).

Artinya, kebenaran dan kesalahan kitab terdahulu menjadi wewenang Al-Qur’an. Sehingga, Al-Qur’an memiliki peran kontrol untuk “mengoreksi” dan “merevisi” kitab terdahulu agar menjadi sempurna dan relevan di setiap zaman.

Inilah lima karakter unik yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang istimewa dari kitab-kitab samawi sebelumnya. Semoga setelah mengetahui keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an ini, membuat kita semakin dekat dan cinta dengan Al-Qur’an dengan terus membaca, mengkaji dan tak lupa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Amin ya rabbal ‘alamin.

Baca juga: Adab Lahiriah dan Adab Batiniah dalam Membaca Al-Qur’an

Ahmed Zaranggi Ar Ridho
Mahasiswa pascasarjana IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @azzaranggi atau twitter @ar_zaranggi
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tirakat dalam menuntut ilmu

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan...