Beranda Tafsir Tematik Cara Jamuan Disuguhkan untuk Ahli Surga dalam Surah Al-Insan Ayat 5

Cara Jamuan Disuguhkan untuk Ahli Surga dalam Surah Al-Insan Ayat 5

Kata ‘jamuan’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘sesuatu yang dihidangkan kepada tamu; hidangan’. Islam sangat mengistimewakan tamu. Dalam hadis yang di antaranya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Abū Hurairah, Nabi menegaskan bahwa siapa pun orangnya yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menghormati tamu. Penghormatan ini berlaku selama tiga hari sejak kedatangan sang tamu. Dalam Fath al-Bārī (13/710), Imam Ibnu Hajar menuturkan bahwa dalam masa tiga hari ini, tuan rumah hendaknya memberikan jamuan istimewa pada hari pertama dan jamuan apa adanya pada dua hari berikutnya. Dan tulisan ini juga akan mengulas tentang gambaran jamuan disuguhkan untuk ahli surga sebagaimana dalam Firman Allah Swt.

Di Indonesia, jamuan yang disuguhkan untuk tamu undangan disajikan dalam berbagai bentuk. Ada yang menggunakan model piringan, kotakan, dan prasmanan. Untuk model pertama, semua makanan yang akan dihidangkan sudah ada dalam satu piring. Model piringan sendiri, ada perbedaan. Untuk makanan ringan biasanya satu berisi satu jenis makanan. Entah gorengan, makanan tradisional, kacang rebus, atau yang lainnya. Kemudian untuk makan berat biasanya menu hidangan sudah komplit tersaji dalam satu piring tersebut. Model kotakan tidak jauh berbeda dengan model piringan jenis kedua. Baik makan berat maupun ringan semuanya sudah tersaji komplit dalam satu kotak yang dibagikan kepada tamu.

Baca juga: Apa Maksud Qalbun Salim (Hati yang Sehat) dalam As-Syu’ara: 88-89?

Jadi dalam kondisi ini, tamu tidak bisa memilih makanan kecuali apa yang diperuntukkan baginya atau yang ada di hadapannya. Itupun ia dalam jumlah yang sangat terbatas.

Adapun model prasmanan, model ini, tuan rumah menyediakan aneka hidangan pada satu tempat tertentu dalam porsi yang besar. Di sana disediakan pula piring dan gelas kosong yang tertata rapi untuk digunakan tamu sebagai alat untuk menikmati aneka hidangan tersebut. Tamu dipersilahkan memilih makanan dan minuman manapun yang mereka suka dengan porsi sesuai selera masing-masing. Mereka tidak perlu khawatir akan kehabisan hidangan yang disajikan dan tidak perlu pula sungkan jika ingin mengambil lagi.

Jamuan Allah untuk Hamba-Nya di Surga

Demikianlah kurang lebih gambaran hidangan yang Allah janjikan kepada hamba-Nya yang beriman. Dalam surat al-insān atau al-dahr yang tergolong madaniyah, Allah mendeskripsikan penyajian hidangan tersebut dengan air minum yang akan dinikmati hamba-Nya di surga. Jika dalam QS. Muhammad [47]: 15 Allah menyebutkan jenis-jenis minuman yang disediakan-Nya, maka dalam surat ini menuturkan bagaimana caranya mereka bisa menikmati aneka minuman tersebut. Informasi tersebut Allah sampaikan dalam ayat ke-5, 6, dan 21 dari surat al-Insān.

  1. Jamuan ala piringan atau kotakan

Dalam surah al-Insan ayat 5 Allah memberi ilustrasi penyajian hidangan dengan model piringan atau kotakan.

إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

(Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas – berisi minuman – yang campurannya adalah air kafur).

Melalui penggalan yasyrabūna min ka`sin (minum dari gelas) dalam ayat ini, Allah menjamu hamba-Nya dengan minuman yang sudah dituang dalam gelas-gelas. Allah menyiapkan aneka menu yang ada dalam sebuah wadah yang bisa langsung dibawa oleh hamba-Nya untuk dinikmati tanpa bisa memilih isi dari menu tersebut. Dalam kehidupan ini, penyajian semacam ini merupakan penyajian hidangan yang paling sering kita jumpai. Ia lazim dan mudah ditemukan di banyak tempat sehingga tidak mengesankan apa-apa.

Baca juga: Alegori Keadaan Orang Munafik dalam Surah Al-Baqarah Ayat 17-20

  1. Jamuan model prasmanan

Kemudian dalam ayat ke-6 dari surah al-Insan, Allah memberikan ilustrasi yang lebih menarik dari ayat sebelumnya. Di sana Dia menggambarkan bahwa hamba Allah yang berada di surga bisa mengalirkan mata air apapun yang diinginkannya untuk diminum.

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

Mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya” kurang lebih demikian arti firman Allah.

Dalam Tafsir al-Ibriz juz 29/2184, KH. Bisri Musthofa menuturkan bahwa ayat ini mengilhami penggunaan pipa untuk menyambungkan aliran air ke tempat yang dikehandaki. Sebagaiman informasi Al-Qur’an, di surga ada air yang tidak payau, air susu, air madu, dan air khamr (QS. Muhammad [47]: 15).

Sewaktu-waktu penghuninya bisa menuang air manapun yang diinginkannya sebagaimana bunyi ayat yufajjirūnahā tafjīrā (mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya). Dalam kondisi ini, mereka ibarat tamu dengan jamuan prasmanan. Model jamuan mereka lebih elit dibanding model jamuan yang pertama. Mereka bisa mencicipi semua aneka hidangan yang disiapkan tuan rumah. Jamuan dengan model prasmanan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Ada semacam kebanggaan dan kebahagiaan ketika menjumpai jamuan dengan model ini.

Namun demikian, ada yang lebih dahsyat dan indah dari jamuan dengan model prasmanan ini. Yakni tuan rumah mengambilkan sendiri menu yang ada untuk tamu. Tidak seorang tamu pun yang mendapatkan perlakuan semacam ini kecuali dia adalah orang yang sangat istimewa di mata tuan rumah. Begitulah kira-kira yang dilakukan Allah terhadap segolongan hamba-Nya di surga nanti. Allah sendiri yang memberikan minuman secara langsung kepada mereka.

Hal istimewa ini diilustrasikan dalam ayat ke-21 dari surat al-Insān. Dalam ayat tersebut Allah berfirman:

عَٰلِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوٓا۟ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَىٰهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.

Sungguh sebuah penjamuan yang luar biasa indahnya. Jika undangan presiden untuk makan malam sudah membuat kita bahagia. Kemudian kebahagiaan itu semakin bertambah setelah tahu bahwa kita dilayani langsung oleh orang nomor satu di negeri ini dalam jamuan tersebut. Lantas bagaimana kira-kira perasaan kita jika diilayani langsung oleh Allah? Dzat yang Mahaindah dan pemilik segalanya.

Baca juga: Mengenal Dua Tafsir Karya Al-Ghazali, Jawahir al-Qur’an dan Al-Arba‘in fi Ushul al-Din

Demikianlah kurang lebih gambaran kenikmatan yang Allah janjikan untuk hamba-Nya di surga nanti. Meskipun secara tegas Nabi menuturkan bahwa Allah menyiapkan untuk hamba-Nya sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, didengar oleh telinga, dan terbayangkan dalam benak manusia (HR. Ahmad dari Sahabat Abu Hurairah; Musnad Ahmad/15: 407), paling tidak – dari informasi 3 ayat dalam surat al-Insān ini – kita bisa membayangkan betapa luar biasanya jamuan yang Allah siapkan untuk hamba-Nya yang saleh. Dia sendiri yang akan melayani jamuan yang diinginkan mereka. Semoga kita dikaruniai kesehatan dan semangat lahir batin untuk memberikan pengabdian yang terbaik untuk-Nya. wallāhu a’lam

Syafiul Huda
Musyrif dan mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...