Beranda Ulumul Quran Contoh Lafadz Muradif dalam Al-Qur'an

Contoh Lafadz Muradif dalam Al-Qur’an

Redaksi atau lafad-lafad Al-Qur’an senantiasa terjaga sampai hari kiamat kelak, ia tidak perlu dikritisi, dalam arti tidak bisa diganti, direvisi dengan kata lain yang sama maknanya, apalagi dikurangi kosa katanya. Kita para pembaca dan penafsir ini hanya bisa menganalisa dan mecoba memahami makna dan maksud dari setiap lafad dalam Al-Quran. Misalnya saja pada kata yang memiliki lebih dari satu makna. Apalagi terkadang ditemukan satu lafaz terlihat sama dengan lafaz lain. Dan seakan juga tidak bermasalah bila mengganti lafaz itu dengan yang semakna. Hal ini bisa disebut dengan lafadz muradif. Berikut adalah kaidah muradif beserta contoh lafadz muradif dalam Al-Qur’an.

Kaidah muradif mengatakan:

“menempatkan dua lafaz muradif pada yang lain itu tidak bermasalah”

Kaidah ini juga didukung oleh Syekh Zakariyah al-Anshari dalam kitab Ghaya al-Ushul halaman 47, boleh-boleh saja menempatkan dua lafaz muradif pada tempat yang lain. Seperti dua lafaz al-insan dan al-basr.

Baca juga: Menelisik Makna Ta’lim dalam Pendidikan Islam

Lebih lanjut apabila dipahami dengan betul, lafaz yang sepintas muradif ternyata memilki konotasi makna yang berbeda. Masing-masing diantara lafaz itu punya tujuan makna yang ingin dicapai. Lafaz al-Insan tentu tidak sama dengan lafaz al-basr pada penunjukan maknanya. Insan menghendaki makna manusia dari aspek dia bisa bahagia dan selainnya. Sementara lafaz al-Basr menunjuk pada bagian yang tampak dari manusia yaitu Kulit. Sehingga keduanya menjadi penjelas satu sama lain pada setiap sifat yang ada pada manusia.

Banyak lafaz yang seakan serupa dalam Alquran. Dalam kitab al-Itqan fi Ulum Alquran, as-Suyuthi menjelaskan, diantaranya:

Al-Khauf dan Al-Khasya

 Dalam Al-Qur’an surah ar-Ra’du: 21, Allah berfirman:

            وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan,dan mereka takut kepada TuhanNya dan takut pada hisab yang buruk.”

Kata al-Khauf dan al-Khasya memang sama-sama bermakna takut. Namun takut yang dimaksud dari kedunya tentu berbeda. Al-Khauf bermakna suatu kekurangan akibat kelemahan dari ketakutan yang dialami, sekalipun yang ditakuti sebenarnya juga lemah. Namun takut disini tidak sampai secara total sehingga dapat membuat yang ketakutan tergolong cacat. Sementara Al-Khasya adalah ketakutan secara total akibat terlalu agungnya yang di takuti, sekalipun orang yang merasa takut termasuk orang kuat. Dari sini kita pahami, bahwa tidak bisa mengatakan lafaz al-Khauf dengan maksud makna al-Khasya dan juga sebaliknya.

As-Syukhu Al-Bukhlu dan Ad-dhannu

Ketiganya semakna dalam arti kikir. Namun makna kikir yang ada pada setiap kata tidaklah sama. As-Syukhu adalah sifat kikir yang juga disertai dengan ketamakan. Dan Al-Bukhlu adalah sifat kikir dikaitkan dengan pemberian. Sementara Ad-Dhannu terkait dengan barang-barang dagangan, Sepeti dalam firman Allah  Q.S at-Takwir: 24

            وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ

“dan Dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menjelaskan yang ghaib.”

As-Sabil dan Ath-thariq

Meski kedunya bermakna jalan namun jalan yang dimaksud tidaklah sama. As-Sabil digunakan untuk menunjuk berita atau kabar yang di dalam jalan itu ada kemudahan. Semantara ath-Thariq tidak digunakan untuk mengabarkan sesuatu. Melainkan ath-Thariq selalu diidhafahkan dan disandingkan dengan sifat, Seperti firman Allah pada Alquran surah al-Ahqaf: 30:

            قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“mereka berkata, hai kaum kami sesungguhnya kami telah mendengar kitab yang diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kepada kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan menunjukkan pada jalan yang lurus.”

Baca juga: Tafsir Ahkam: Mazhab Syafi’i dan Dasar Hukum Dua Kulah

Ja’a dan Ataa

Makna dasar keduanya adalah datang. Namun datang yang dimaksud dari masing-masing kedunya berbeda. Pertama Ja’a datang untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Semenatara Ataa digunakan untuk hal yang bersifat maknawi dan waktu dan kedatangannya berserta dengan kemudahan. Seperti pada firman Allah pada Alquran surah Yunus: 24:

            إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ

sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi karena air itu, ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan tanaman-tanamannya laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum tumbuh kemaren.”

Baca juga: Al-Quran dan Problem Sosial Kemanusiaan Perspektif Cendekiawan Muslim Kontemporer

As-Sanah dan Al-‘Am

As-sanah biasanya diguanakan pada tahun yang di dalamnya terdapat kekeringan dan panceklik. Contohnya seperti pada firman Allah pada surah al-Ankabut: 14:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُون

dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka orang-orang yang dzalim.”

Semenatara al-‘Ammu untuk tahun yang di dalamnya terdapat kemudahan dan kesuburan.

Moh. Rifqi Wahyudi
Alumni Nasy’atul Muta’allim. Maha santri Ma’had Aly Salafiyyah Syafiiyyah Situbondo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam...