BerandaTafsir TematikTafsir TarbawiDhalla Tidak Hanya Bermakna ‘Sesat’, Simak Penjelasannya

Dhalla Tidak Hanya Bermakna ‘Sesat’, Simak Penjelasannya

Makna dhalla dalam Alquran tidak selalu diartikan sesat, tersesat atau menyimpang dari jalan yang benar. (Ar-Raghib al-Asfahani, Kamus al-Qur’an, Jilid 2, ,545). Ia selalu mempunyai makna tersendiri dalam setiap konteks ayatnya. Dalam Alquran, kata dhalla terulang tidak kurang dari 190 kali dalam berbagai derivasinya.  (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, 2002, 77).

Makna Dasar Dhalla

Makna dasar berarti makna yang akan selalu melekat pada kata tersebut dimana pun kata itu berada. (Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik Terhadap Alquran, 1997, 16). Kata dhalla sendiri (ضلال – يضل- ضل) memiliki arti menyimpang, sesat, musnah, kabur dan tergelincir, antonimnya adalah al-huda dan al-rasyad. (Ibnu mandur, Lisan Al-Lisan; Tahdib Lisan Al-Arab, 1993, 69).

Bintu Syati’ juga turut serta memberikan definisi dasar kata dhalla. Menurutnya, dhalla memiliki arti kehilangan arah atau kehilangan jalan. Sedangkan bangsa Arab pra-Islam menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan batu besar di dalam air yang di yakini di dalamnya ada kejelekan-kejelekan atau barang kotor, sesuatu yang menutupi jalan. (Aisyah Abdurrahman binti Syati’, At-Tafsir Al-Bayani Li Alquran Alkarim, Tt, 44).

Berikut beberapa makna dhalla dalam Alquran. Pertama, kekhilafan atau kelalain sebab ketidaktahuan, sebagaimana pada kisah Nabi Musa a.s yang membunuh salah seorang dari Qibti, sebab wahyu atas hukum tersebut belum diturunkan. (asy-Syu’ara [26]: 19-20).

Kedua, bermakna lupa, sebagaimana dalam lafaz in tadhilla ihdahuma (Albaqarah [2]: 282). Ketiga, bermakna lenyap atau hancurnya jasad di bumi (as-Sajadah [32]: 10). Keempat, bisa juga bermakna sia-sia yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang yang telah mengingkari ayat-ayat Allah (Alkahfi [18]: 104), doa-doa orang kafir kepada berhalanya (Alra’du [13]: 14) dan Ghafir [40]: 50), serta tipu daya orang kafir (Ghafir [40]: 25).

Sedangkan kata dhalla dalah surah adh-Dhuha memiliki beragam makna. Sebagaimana penjelasan Binti Syati’ yang mengutip dari pendapat ar-Razi, bahwa (1) salah dalam menentukan arah kiblat, (2) ragu-ragu dalam berhijrah karena khawatir terhadap kafir Quraisy dan saat itu juga Nabi Muhammad Saw. dalam proses menunggu perintah dari Allah untuk hijrah, (3) gelisah -bingung- terhadap perkara keduniaan dan perekonomian. Kemudian Allah memberi petunjuk jalan keluarnya. (Aisyah Abdurrahman binti Syati’, At-Tafsir Al-Bayani Li Alquran Alkarim, Tt, 45).

Baca Juga: Siapakah Orang-Orang yang Sesat dalam Surat Al-Fatihah Ayat 7?

Makna Batin Dhalla

Keberadaan makna batin atau deep structure ini dapat diketahui dengan menelaah ayat-ayat yang di dalamnya menyertakan kata dhalla. Dalam Alquran, dhalla dikaitkan dengan beberapa keadaan, yakni qasiyatul qulub (hati yang keras), kurf (kafir), musyrik (menyekutukan tuhan), ittiba’ an-nafs (mengikuti hawa nafsu), hubbu ad-dunya (mencintai dunia), al-kibr (sombong), dan al-kidzbu (bohong).

Makna batin ini juga bisa ditilik dari sisi historisitas sabab nuzulnya, sebagaimana dalam surah Alnisa’ [4]: 44, dhalla ditendensikan kepada seseorang yang mencela, menghina dan mengolok-olok Islam. Peristiwa ini berkaitan dengan kisah Rifa’ah binZait bin at-Tabut seorang tokoh Yahudi. Ketika ia berbicara dengan Nabi Saw., ia menjulurkan lidahnya, kemudian mulai menghina, mencela dan memperolok-olok Islam.

Dan juga, dalam sabab nuzul surah Luqman [31]; 6 yang berkaitan dengan an-Nadlr bin Haris yang menyuruh seorang biduanita untuk merayu dan menggoda seseorang yang tertarik dengan ajaran Islam. (Q. Shaleh, Asbabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Alquran, 2011, 141).

Dari konteks ayat di atas, dijelaskan bahwa kesesatan itu muncul karena ada seseorang yang memang dengan sengaja mencegah atau menghalangi yang lain untuk mendapatkan petunjuk. Dengan demikian, orang yang menghalang-halangi dari sebuah petunjuk sebenarnya ia ada dalam kesesatan.

Baca Juga: Penjelasan Al-Quran tentang Orang yang Tidak Bisa Disesatkan Iblis, Siapa Dia?

Padanan Kata Dhalla

Setidaknya ada tiga kata dalam Alquran yang mempunyai arti hampir sama dengan dhalla, pertama, pertama, zagha adalah keadaan hati seseorang yang condong pada kesesatan atau penyimpangan dari jalan yang benar, sebagaiman dalam surat Al‘imran [3]: 7-8.

Kedua, ‘amiha yang bermakna bergelimang dalam kesesatan dengan membabi-buta atau orang yang bingung jalan mana yang akan ditempuhnya. Keadaan ini sangat jelas digambarkan dalam surat Ala‘raf [7]: 186. Kata dhalla, hidayah dan ‘amiha berdampingan. Setelah Allah memberikan mereka petunjuk, mereka menolak. Oleh sebab itu, mereka menjadi sesat dan mengakibatkan mereka terombang-ambing hidupnya.

Ketiga, ghaflah yakni kelengahan, kecerobohan atau pun lalai. Kelalaian ini terjadi ketika seseorang tidak memedulikan atau pun mendustai ayat-ayat Allah. Kata dhalla muncul dalam Alquran beriringan kata ghaflah yakni mereka yang memilliki hati, mata dan telinga tapi tidak digunakan untuk memahami, melihat dan mendengar ayat-ayat Allah (Yusuf [12]: 13).

Dari penjelasan di atas, pemaknaan dhalla selalu dinamis, tergantung pada konteksnya. Setidaknya ada tiga poin penting yang bisa dijadikan kesimpulan terkait dinamisasi pemaknaan dhalla. Pertama, Alquran memberikan ruang dan sekat saat melabeli atau mengatakan bahwa seseorang telah sesat. Hanya ada tujuh unsur yang apabila salah satu dari unsur tersebut ada pada diri seseorang, amka sebenarnya ia telah berada dalam kesesatan. Yakni, orang yang hatinya keras, kafir, musyrik, menuruti hawa nafsu, terlalu cinta pada dunia, sombong dan bohong.

Baca Juga: Tafsir Surah Al Araf Ayat 179: Makhluk yang Lebih Sesat dari Binatang Ternak

Kedua, pemaknaan dhalla tidak selalu berada dalam ranah religius. Karena ditemukan unsur-unsur non-religius dalam konteks tertentu, seperti orang yang sombong, bohong, dan yang mengolok-olok terkait kebenaran. Dan, yang ketiga adalah ditemukannya kata kafir dan musyrik sebagai salah satu dari unsur dhalla. Kedua kata ini tidak bisa hanya dimaknai secara tekstual, namun juga harus kontekstual. Seperti yang diuraikan oleh Izutsu, semisal kafir, tidak bisa hanya diartikan sebagai lawan kata dari iman. Kafir juga bisa berarti kufur, yakni sikap ketidakberterimakasihan atas kenimakatan yang telah Allah berikan. (Toshihiko Izutsu, Etika Beragama dam Qur’an, 1993, 188).

Wallaahu a’lam.

Miatul Qudsia
Miatul Qudsia
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Tiga Bentuk Amanah dalam Q.S. Alnisa’ Ayat 58 Perspektif al-Razi

0
Saling menjaga kepercayaan satu sama lain merupakan salah satu komponen terpenting dalam memelihara hubungan sosial, sekaligus menjadi bentuk ketakwaan kepada Allah. Kata amanah sendiri...