Beranda Tokoh Tafsir Tokoh Tafsir Indonesia Dinamika Awal Pencetakan Al-Qur’an dalam Kajian Hamam Faizin

Dinamika Awal Pencetakan Al-Qur’an dalam Kajian Hamam Faizin

Sejarah pencetakan Al-Qur’an merupakan salah satu kajian yang kurang diperhatikan oleh ulama sejarah Al-Qur’an. Padahal, Al-Qur’an yang ditemui umat Islam saat ini adalah Al-Qur’an yang tidak lepas dari proses pencetakan itu sendiri. Di sini, satu dari sedikit sarjana yang peduli terhadap sejarah percetakan Al-Qur’an tersebut adalah Hamam Faizin, sebagaimana kehadiran bukunya Sejarah Pencetakan Al-Qur’an.

Kelangkaan kajian pencetakan Al-Qur’an sebagai pembahasan dalam kitab-kitab sejarah Al-Qur’an atau Ulumul Qur’an menjadikan Hamam Faizin bertekad melakukan penelusuran bagaimana awal dan perkembangan pencetakan Al-Qur’an? Siapa yang mencetak pertama? Kapan dan di mana? serta berbagai pertanyaan serupa lainnya. Berbagai pertanyaan tersebut dijawab dalam, minimal, dua tulisannya; artikel jurnal dan buku yang mengangat isu yang sama.

Lebih jauh, Hamam Faizin mengemukakan empat alasan pentingnya mengkaji sejarah pencetakan Al-Qur’an. (1) jarangnya buku yang membahas pencetakan Al-Qur’an, (2) tema pencetakan Al-Qur’an absen dibahas dalam banyak buku sejarah Al-Qur’an, (3) sejarah pencetakan Al-Qur’an merupakan sejarah Al-Qur’an itu sendiri, (4) karena ia adalah bagian sejarah, sehingga sejarah pencetakan Al-Qur’an tidak lepas dari konflik dan kepentingan.

Sekilas tentang Hamam Faizin dan Kajiannya

Hamam Faizin lahir pada tanggal 02 Januari 1982. Sejak kecil beliau terdidik di lingkungan madrasah: Madrasah Ibtidaiyyah Assalam, Cepu Blora, lanjut ke Madrasah Tsanawiyah sekaligus Aliyah Salafiyah di Kajen Margoyoso Pati. Studi S1-nya ditempuh di jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga, kemudian lanjut di pascasarjana konsentrasi Ulumul Qur’an dan Tafsir Kelas International di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dengan beasiswa Kementrian Agama RI, dan melanjutkan jenjang doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah juga dengan beasiswa Kemenag RI.

Baca Juga: Jalan Sunyi dan Tugas Berat Menjadi Penerjemah Al-Qur’an

Sebagaimana telah dikemukan terdahulu bahwa kajian tentang pencetakan Al-Qur’an dibahas di dua bentuk: artikel jurnal dan buku. Pada artikel jurnal, kajian ini berjudul “Percetakan Al-Qur’an dari Venesia hingga Indonesia”, terbit di jurnal Esensia, volume XII, nomor 1, tahun 2011. Pada buku, kajian ini berjudul Sejarah Pencetakan Al-Qur’an, diterbitkan di Era Baru Pressindo Yogyakarta, November 2012.

Buku Hamam Faizin tersebut berisi lima bab. Pembahasan pada artikelnya dimuat dalam bab IV. Sekalipun merupakan kerja perbaikan-perluasan dari artikelnya, buku tersebut masih tergolong pengantar, belum dianalisis secara mendalam. Ini juga yang menjadi salah satu sorotan Ahsin Sakho Muhammad dalam pengantarnya di buku tersebut. Demikian juga diakui oleh Hamam Faizin dalam pengantarnya.

Buku ini menyajikan pencetakan Al-Qur’an sebagai bagian dalam sejarah Al-Qur’an/Islam. Terbukti pemaparan seputar sejarah Al-Qur’an/Islam pada bab-bab sebelumnya: Bab satu “Mengenal Al-Qur’an, Memahami Wahyu Tuhan”, bab dua “Al-Qur’an Dicatat: dari Ingatan menjadi Tulisan”, bab tiga “Islam Mengenal Kertas, Islam Masuk Barat, dan Penemuan Mesin Cetak”, bab empat “Pencetakan Al-Qur’an dan Problematikanya”, dan bab lima “Penutup”.

Dinamika Awal Pencetakan Al-Qur’an

Menurut Hamam Faizin bahwa informasi mengenai kapan, di mana, siapa, dan bagaimana pencetakan awal Al-Qur’an belum dapat dipastikan. Lebih jauh. paparan Hamam Faizin mengenai awal pencetakan Al-Qur’an dapat dipetakan menjadi tiga model: pencetakan versi Venice (Venezia, Venetian, Venesia, atau Venexia), pencetakan terjemahan Al-Qur’an, dan pencetakan surah tertentu. Tiga model ini memiliki dinamikanya masing-masing terutama kaitannya dengan peredaran Al-Qur’an.

Mengenai pencetakan Al-Qur’an versi Venice, Hamam Faizin mengatakan bahwa mayoritas sarjana, baik dari muslim maupun non-muslim, sepakat bahwa Al-Qur’an pertama kali dicetak dalam bentuk the moveable type, yaitu jenis mesin cetak yang dicetuskan oleh Johannes Guterberg, sekitar tahun 1440 M di Mainz, Jerman. Al-Qur’an cetak tersebut dikerjakan oleh Paganino dan Alssandro Paganini, yang keduanya adalah anak-bapak yang ahli pencetakan dan penerbitan, antara 9 Agustus 1537 dan 9 Agustus 1538 di Venice, Italia.

Al-Qur’an versi cetakan Venice ini sempat tidak diketahui kabarnya, dan diduga hilang. Keadaan ini memunculkan berbagai dugaan. Tetapi, kopian cetakan Venice ini ditemukan di Perpustakaan Fransiscan Friars of San Michele di Isola, Venice, oleh Angela Nouvo. Pemiliknya kopian ini adalah Teseo Ambrogio degli Albonesi, yang meninggal setelah tahun 1540. Dalam tulisannya, Angela Nouvo mengatakan bahwa pencetakan Al-Qur’an versi Venice ini tidak ditujukan kepada para sarjana Eropa, tetapi kepada Impreium Ottoman, Istanbul, Turki.

Sayangnya, ini tidak berhasil karena Al-Qur’an cetakan ini memiliki banyak kesalahan yang mereduksi makna Al-Qur’an, dan setting serta layout-nya yang terlalu jelek. Selain itu, muslim Ottoman meyakini bahwa Al-Qur’an hanya boleh disentuh oleh orang suci (muslim), sementara Paganini dan Paganino adalah non-Muslim. Meski demikian, menurut Hamam Faizin bahwa berbagai sumber telah meyakinkan adanya dua sarjana yang memiliki kopian Al-Qur’an versi cetakan Venie ini. Salah satunya telah ditemukan dan dapat diakses melalui kumpulan microfile.

Mengenai pencetakan terjemahan Al-Qur’an, Hamam Faizin mengatakan bahwa jauh Al-Qur’an versi Venice, telah terjadi pencetakan atas terjemahan Al-Qur’an di Eropa, tetapi itu dilarang  terutama era Paus Clemens VI sekitar 1309 M. Hingga akhrnya dibolehkan dengan syarat harus menyertai komentar penyangkalan atas kebenaran isi Al-Qur’an. Di sini, muncul karya Robert of Ketton yang ditulis pada 1142-1143 M.

Baca Juga: Robert of Ketton dan Dinamika Penerjemahan Al-Quran, Menjawab Kesimpulan Keliru Soal Kontribusi Orientalis dalam Studi Al-Quran

Mengenai pencetakan surah tertentu, Hamam Faizin menjelaskan bahwa surah Al-Fatihah, konon, telah dicetak oleh seorang Persia bernama Salman pada tahun 1600-an M. Surah Yusuf juga disebut telah dicetak oleh Thomas Epernius pada tahun 1617 M, d Leiden. Cetakan surah Yusuf ini disertai terjemahan dua bahasa Latin: satu terjemahan literal-linier, dan lainnya terjemahan bebas yang fokus ke substansinya.

Percetakan Al-Qur’an kemudian marak dilakukan. Hamam Faizin menyebut Al-Qur’an di cetak di Hamburg yang dilakukan oleh Abraham Hinckelmann pada tahun 1694 M dengan judul Alcoranus s. lex Islamitica Muhammadis, filli Abdallae Pseudoprophetae. Al-Qur’an cetakan St. Petersburg pada tahun 1878 M, yang dicetak ulang pada 1789, 1790, 1793, 1796, dan 1798.

Al-Qur’an cetakan Maula Ottoman/Utsmani pada tahun 1787 oleh Kekaisaran Ottoman, di St. Petersburg, Rusia. Edisi ini lebih dikenal dengan Malay ‘Utsmani. Edisi ini kemudian diikuti oleh pencetakan lainnya. Al-Qur’an juga dicetak di Volga-Kazan, pada tahun 1801/1803 M. di Persia dimulai tahun 1838, di London dimulai tahun 183, di India dimulai tahun 1852, di Jerman dimulai tahun 1834, di Mesir dimulia tahun 1924, dan di Indonesia dimulai tahun 1950. [] Wallahu A’lam.

Muhammad Alwi HS
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Studi Al-Quran dan Hadis.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...