Beranda Tafsir Tematik Doa Nabi Ayyub as dalam Al-Quran untuk Kesembuhan Penyakit

Doa Nabi Ayyub as dalam Al-Quran untuk Kesembuhan Penyakit

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang berbicara mengenai kesembuhan penyakit. Salah satunya adalah doa nabi Ayyub ketika meminta kesembuhan penyakit kepada Allah swt pada surat al-Anbiya’ [21] ayat 83. Doa ini beliau lantunkan setelah mengalami sakit menahun yang membuat dirinya dijauhi dan ditinggalkan oleh orang-orang terdekat. Namun beliau tetap sabar, taat kepada Allah swt dan senantiasa mengusahakan kesembuhan.

Doa nabi Ayyub tersebut diabadikan Allah swt dalam firman-Nya:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: ayat 83).

Menurut Quraish Shihab,  konteks surat al-Anbiya’ [21] ayat 83 merupakan informasi dari Allah swt bahwa setiap manusia pasti akan mendapatkan ujian dan anugerah. Dalam hal ini Dia menceritakan nabi Ayyub yang begitu sabar menghadapi ujian dari-Nya, yakni kemusnahan harta dan kehadiran penyakit menahun (Tafsir Al-Misbah [8]: 494).

Baca Juga: Doa Al-Quran: Surat Ali Imran Ayat 8 untuk Ketetapan Hati dalam Iman

Pada ayat ini, Allah swt memerintah nabi Muhammad saw untuk mengingat kisah kesabaran Ayyub tersebut. Beliau tidak pernah menggerutu, marah maupun menyalahkan  Allah swt. Sebab beliau sadar bahwa kehidupan akan senantiasa disi oleh cobaan dan ujian. Dalam doanya di atas, nabi Ayyub bahkan tidak memaksa Allah untuk memberikan kesembuhan penyakit baginya.

Meskipun pada surat al-Anbiya’ [21] ayat 83 tidak ada doa secara eksplisit dari nabi Ayyub kepada Allah swt, namun sebenarnya di sana ada permohonan secara implisit. Beliau seakan berkata, “Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa kesulitan, sedang Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, maka Wahai Tuhan perlakukanlah aku sesuai kebesaran dan keagunan rahmat-Mu.”

Al-Sa’adi menyebutkan dalam tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan, surat al-Anbiya’ [21] ayat 83 merupakan perintah Allah swt untuk mengingat kesabaran nabi Ayyub yang ditimpa penyakit menahun. Beliau senantiasa bersyukur dan tidak pernah mengeluh di dalam penderitaannya tersebut. Nabi Ayyub hanya meminta kepada Allah yang Maha Penyayang untuk memberikan yang terbaik bagi masalahnya tersebut.

Permohonan yang tulus ini kemudian – menurut Quraish Shihab – disambut oleh Allah swt, “Kami mendengar permohonannya, maka Kami pun tidak mengecewakannya. Kami memperkenankan untuknya apa yang ia harapkan, kemudian kami lenyapkan apa yang ada padanya dari kesulitan.” Allah swt lalu memerintahkan, “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shad [38] 42).

Melalui kisah nabi Ayyub ayat di atas, setidaknya kita dapat belajar bahwa setiap cobaan dan ujian hidup adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Ujian tersebut pada hakikatnya ditujukan untuk menguji kesabaran dan keimanan kita. Meskipun demikian, bukan berarti kita harus berpangku tangan dan diam atas keadaan yang terjadi. Kita sebaiknya berusaha, berdoa dan bertawakal kepada Allah swt secara proporsional.

Surat al-Anbiya’ [21] ayat 83 juga dapat kita jadikan sebagai doa untuk memohon kesembuhan penyakit kepada Allah swt sebagaimana doa nabi Ayyub as. Melalui doa ini kita mengadu kepada Allah swt dengan kondisi yang dihadapi dan berharap semoga Dia mencurahkan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui kebutuhan dan keinginan hamba-Nya.

Selain doa di atas, kita juga dapat menambah doa lain berdasarkan riwayat hadis Nabi Muhammad saw. Beliau pernah mengajarkan sahabat sebuah doa bagi siapa saja yang mengalami sakit agar Allah swt segera mengangkat penyakitnya dan memberikan kesembuhan. Doa ini dapat ditemukan dalam Sahih al-Bukhari nomor 5309. Berikut doa yang dipanjatkan Rasulullah:

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذهِبِ البَأسَ اشفِ أَنتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.

Allahumma Rabban nasi, adzhibil ba’sa isyfi anta asy-syafi la syifa’a illa syifauka syifaan la yughadiru saqman.”

Artinya: “Ya Allah Tuhannya manusia, hilangkanlah rasa sakit ini sembuhkan lah, Engkau Dzat Yang Maha Penyembuhan, tak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tak meninggalkan rasa sakit.”

Baca Juga: Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Terakhir – sebagai catatan bagi pembaca – seyogyanya kita menjaga kesehatan sebelum sakit. Adapun jika seseorang mengalami sakit, maka sebaiknya ia bersabar, berdoa, dan berusaha menyebuhkannya, tidak berputus asa serta berpangku tangan. Kita – sebagai seorang muslim – juga harus meyakini bahwa segala penyakit datang dan sembuh atas izin Allah swt. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Alumni UIN Sunan Kalijaga dan PP. LSQ Ar-Rohmah
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam...