Beranda Kisah Al Quran Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Kisah adalah salah satu media yang digunakan al-Qur’an untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah kepada manusia. Melalui kisah, manusia diharapkan mampu mengambil ibrah atau pesan pelajaran maupun keteladanan (Shihab, Kaidah Tafsir). Seperti halnya saat membaca kisah-kisah Nabi dan Rasul, di dalamnya banyak ibrah yang bisa diambil termasuk di dalamnya doa-doa yang mereka panjatkan. Pada tulisan ini akan secara khusus dibahas doa-doa yang dipanjatkan Nabi Musa dalam Surat al-Qashash, surat ke-28 dalam urutan tartib mushafi.

Kisah Nabi Musa dalam Surat al-Qashash dapat dibagi ke dalam beberapa episode kisah jika merujuk pada tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhaili. Dari sekian episode tersebut ada beberapa episode kisah yang memberikan informasi mengenai beberapa doa yang dipanjatkan Nabi Musa beserta konteks yang mendorongnya, sehingga didapati maksud dan tujuan dari doa yang dipanjatkan.

Doa Taubat

Doa pertama ditemukan pada episode ayat 15-21, yang menceritakan tragedi pembunuhan yang dilakukan Nabi Musa terhadap seorang Qibti. Tragedi itu terjadi tatkala Musa ingin menolong kawannya dari pem-bully-an seorang Qibti yang merupakan salah satu utusan Fir’aun. Musa pun memukulnya hingga tewas dan kemudian ia pun begitu menyesali perbuatannya sehingga ia pun memanjatkan doa sebagai bentuk pertaubatannya sebagaimana direkam dalam Surat al-Qashash [28]: 16:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”

Dari lafadz doa ini dapat dilihat betapa menyesalnya Musa kala itu atas perbuatannya. Ia juga mengutarakan bahwa suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya merupakan bentuk kezaliman pada diri sendiri. Maka doa ini juga seakan memberikan pesan bahwa tindakan kezaliman apapun kepada orang lain haruslah dijauhi sebab apabila dilakukan maka sejatinya tindakan itu juga merusak diri sendiri.

Baca Juga: Tafsir Surat Taha Ayat 29-35: Diangkatnya Harun Menjadi Nabi Atas Permintaan Nabi Musa

Hal ini sebagaimana didapati pada dua ayat selanjutnya bahwa akibat dari perbuatannya ini, Musa menjadi serba ketakutan saat berjalan di kota.

فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ

Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya)

Ayat ini memberikan gambaran sisi kemanusiaan, di mana apabila manusia melakukan sebuah kezaliman atau dosa maka hatinya akan was-was dan ketakutan. Hal ini juga sebagaimana disampaikan dalam sebuah Hadis pada kitab Bulugh al-Maram:

والإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَاسُ

Dosa adalah sesuatu yang (kamu kerjakan dan) mengusik hatimu dan kamu benci atau tidak ingin jika sesuatu (yang kamu kerjakan) itu diketahui oleh orang lain.

Maka jika sudah terlanjur melakukan sebab tidak bisa menahan, maka sesalilah perbuatan yang dilakukan dan panjatkan doa ini sebagai bentuk pertaubatan. Sebab sebagaimana di akhir ayat ke-16 ini dikatakan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Doa Terbebas dari Kezaliman dan Mendapat Tempat yang Lebih Baik

Doa kedua ini ditemukan masih dalam episode ayat kisah yang sama dengan doa pertama. Doa kedua ini juga sekaligus menjadi penutup episode pertama di mana akhirnya Musa meninggalkan Mesir (sebab adanya niatan Fir’aun untuk mengepung dan membunuh Musa) dan berhijrah menuju Madyan. Doa ini dicatat dalam Surat al-Qashash [28]: 21:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

Sesuai konteksnya, bahwa doa ini dipanjatkan Musa tatkala dirinya sudah tidak kuasa melawan Fir’aun yang ingin membunuhnya. Lalu akhirnya ia berhijrah dari Mesir menuju Madyan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan terbebas dari kezaliman, sebelum nantinya kembali dan mengalahkan Fir’aun.

Maka berdasarkan penjelasan di atas, doa yang dipanjatkan Nabi Musa ini dapat diamalkan oleh umat Islam yang mengalami kezaliman di lingkungan tempat tinggalnya, tempat kerjanya ataupun tempat-tempat beraktivitas lainnya, lalu ingin pindah dan ingin mendapatkan tempat yang lebih baik.

Doa Saat Tersesat dalam Perjalanan

Doa ketiga ini didapati pada episode ayat 22-28 yang mengisahkan tentang perjalanan Musa ke Negeri Madyan dan pernikahannya denga putri Nabi Syuaib. Doa yang termaktub dalam Surat al-Qashash [28]: 22 ini digambarkan, dalam penafsiran Ulama, terjadi saat situasi Nabi Musa yang sedang tersesat di tengah perjalanan ke Madyan. Maka ia pun melafadzkan doa berikut:

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”

Dikatakan bahwa Musa kala itu menemui tiga cabang jalan di depannya. Maka setelah ia berdoa ia pun ditunjukkan oleh Allah jalan yang tepat untuk dilewati hingga akhirnya sampai di Madyan. Maka umat Islam apabila tersesat di jalan dan tidak ada seseorang pun yang bisa dimintai petunjuk, panjatkanlah doa ini dan gantungkanlah segala harapan hanya kepada-Nya.

Doa Lancar Rezeki dan Jodoh

Doa terakhir ini masih berada pada satu episode yang sama dengan kisah sebelumnya. Doa ini merupakan salah satu doa yang masyhur didengar atau bahkan dipraktekkan oleh sebagian umat Islam sebab ditengarai mampu memperlancar jalan mendapat jodoh. Tapi apakah hanya jodoh saja yang diperlancar oleh doa ini? Mari lihat terlebih dahulu lafadz doanya:

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (Surat al-Qashash [28]: 24)

Konteks dari doa ini ialah menggambarkan keadaan Musa yang akhirnya berhasil memberi minum hewan ternak kedua gadis tersebut (putri Syuaib) dari sumur Madyan yang ditutup batu. Di mana batu penutup sumur itu tidak akan bisa dibuka kecuali diangkat bersama-sama oleh sepuluh orang. Maka setelah menutup kembali sumur, Musa pun berteduh di bawah pohon untuk beristirahat. Musa yang sangat kelaparan pun berdoa kepada Allah dengan lafadz doa tersebut.

Baca Juga: Ingin Diberi Kelancaran Urusan? Baca Doa Nabi Musa Ini!

Jadi pada dasarnya niat Musa saat memanjatkan doa tersebut ialah memohon kepada Allah agar dikaruniai makanan. Sebab kondisinya saat itu saat lelah dan lapar. Namun doa ini dikatakan dapat memperlancar jalan mendapat jodoh, sebab melalui doa ini juga Musa ditakdirkan berjumpa dengan Nabi Syuaib karena telah menolong putrinya dan kemudian dijadikan menantu olehnya.

Berdasarkan konteksnya, doa ini sejatinya bisa diamalkan dalam keadaan sempit secara ekonomi dan memohon kepada Allah agar dikaruniai kelapangan serta tercukupinya kebutuhan. Selain itu sebagaimana dikenal, doa ini juga tepat untuk diamalkan sebagai wasilah melancarkan azam ingin segera menikah namun belum memiliki pasangan.

Doa-doa Nabi Musa dalam Surat al-Qashash yang telah dijabarkan, baik dari sisi konteks maupun tujuannya, semoga bisa menambah referensi doa-doa harian yang ingin diamalkan oleh pembaca yang mungkin saat ini sedang dalam kondisi dan keadaan yang menyerupai konteks dari masing-masing doa. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23

0
Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23 berbicara mengenai dua hal. Pertama akan dibahas mengenai sebab turunnya ayat ini. kedua berbicara mengenai orang kafir yang tengah...