Beranda Tafsir Tematik Empat Tipologi Bencana dalam Perspektif al-Quran

Empat Tipologi Bencana dalam Perspektif al-Quran

Tulisan sedehana ini mencoba mengurai tentang berbagai tipologi bencana dalam perspektif  al-Quran. Ini mengingat bahwa bencana dalam perspektif al-Quran disebut dengan  banyak istilah. Ada istilah balâ’ (ujian untuk menguji kesabaran dan kualitas amal perbuatan), adzab (siksa sebagai akibat perbuatan zhalim dan fasik), tadmîr (penghancuran secara total akibat pendustaan ayat-ayat Allah dan para rasulNya), fitnah  (cobaan untuk menguji keimanan seseorang) dan mushîbah (bencana yang mengenai seseorang atau kaum secara tepat sasaran).

Dari sekian istilah yang ada, yang paling popular untuk menyebut bencana dalam perspektif al-Quran adalah term mushîbah. Di dalam al-Quran, term tersebut terulang sebanyak sepuluh kali. Secara bahasa, kata mushîbah  dari kata ashâba-yushîbu-ishâbah,  berarti suatu peristiwa yang menimpa seseorang atau kaum secara tepat sasaran.  Dari sisi bahasa,  sebagaimana dinyatakan pakar tafsir al-Quran ar-Râghib al-Asfihâni, musibah sebenarnya bisa berupa hal yang baik (khair), dan bisa pula berupa yang buruk (syarr). Namun, umumnya orang kemudian menisbatkan kata ‘musibah’, hanya  pada saat tertimpa hal-hal buruk dan yang tidak disukai. Inilah yang disebut proses penyempitan makna mushibah.

Lalu mengapa musibah itu bisa terjadi? Al-Quran menjelaskan bahwa seringkali musibah terjadi karena perilaku manusia yang menyalahi sunnatullâh, sehingga merusak  hukum keseimbangan dalam kehidupan.  Misalnya karena manusia menggunduli hutan, maka terjadi musibah tanah longsor. Karena manusia membuang sampah sembarangan, maka menyebabkan kotor, polusi dan banjir.

Itulah mengapa Al-Quran menyebut bahwa musibah terjadi karena perilaku manusia.Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. Q.S. al-Syûra [42]: 30. Dengan begitu mestinya manusia mau melakukan introspeksi diri atau muhasabah, agar ke depan perilakunya menjadi lebih baik.

Namun  demikian,  secara teosentris tidak ada musibah  yang terjadi, kecuali atas izin Allah Swt. Dalam konteks bencana dalam perspektif Al-Quran, terdapat satu ayat yang berbunyi:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (Q.S. al-Taghabun [64]: 11).

Terjadinya musibah memang diizinkan Allah Swt sebagai sebuah mekanisme dalam sistem hukum kehidupan, namun  belum tentu diridlai oleh Allah Swt. Jadi, istilah “atas izin  Allah” itu tidak berarti mesti diridlai oleh Allah Swt. Bagaimana mungkin diridhai, sementara penyebab terjadinya musibah tersebut adalah perilaku penyimpangan.

Baca Juga: Musibah Ledakan di Beirut, Ingat Tafsir Surat At Taghabun Ayat 11

Lalu masalahnya apakah  setiap bencana yang menimpa masyarakat kita  ini secara pasti bisa kita katakan sebagai azab?  Nanti dulu,  jangan  terburu-buru menghakimi, apalagi melakukan blamming the victim  (menyalahkan korban). Memang sekarang ini banyak bencana  menimpa kita, mulai dengan bencana gempa bumi, gunung melatus, banjir tsunami, dan pandemi wabah corona (Covid 19) akhir-akhir ini.

Bencana  memang bisa merupakan azab, bisa juga merupakan ujian atau peringatan, bahkan  mungkin justru merupakan rahmat bagi kita. Hemat penulis, dengan menganalisa term-term bencana dalam perpektif al-Quran dan konteks internal ayatnya, maka setidaknya musibah atau bencana yang menimpa manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

Pertama, bencana atau musibah sebagai azab atau siksaan. Ini biasanya menimpa pada orang-orang  yang berbuat zhlim dan fasik. Umat-umat terdahulu  yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, mendustakan para nabi dan kafir, mereka banyak tertimpa musibah sebagai azab. Hal ini antara lain ditegaskan  dalam al-Quran: “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”. (Q.S. al-Araf [7]: 165). Ayat ini konteksnya adalah bahwa orang-orang  Yahudi Bani Israil berlaku zhalim dan fasik, ditimpkan  siksa yang keras.

Kedua, bencana atau musibah sebagai indzâr (peringatan). Ini biasanya menimpa pada orang-orang  ‘beriman’, tetapi masih  sering melakukan pelanggaran. Artinya, ada tindakan dan perilaku  mereka yang sudah terlalu jauh  melenceng. Banyak kerusakan di muka  bumi,  karena perilaku kekufuran teologis, maupun kekufuran sosial  yang dilakukan manusia. Maka, Allah Swt mengingatkan antara lain dengan memberikan musibah yang menimpa pada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Al-Quran menyatakan: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Rum [30]: 41). Literatur tafsir klasik  seperti  Tafsir al-Thabari,  menjelaskan bahwa  fasad (kerusakan)  yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kemaksiatan dan kekufuran.

Baca Juga: Penjelasan Al Quran tentang Musibah dan Pandemi

Ketiga, bencana atau musibah sebagai  bala’  (ujian). Ini  secara umum akan menimpa semua manusia  untuk melihat kualitas amal perbuatannya, sebagaimana  firman Allah Swt,  “Dia  Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun  (Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Apabila bala’ ini menimpa pada orang-orang yang beriman, maka biasanya  untuk konteks menguji kesabaran mereka. Di antara bentuk bentuk ujian ini adalah rasa takut, kelaparan, kehilangan harta, jiwa dan gagal panen misalnya Allah Swt berfirman:  Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar  (Q.S. al-Baqarah [2]: 155).

Keempat, bencana atau musibah sebagai rahmat. Ini biasanya menimpa pada orang-orang mukmin yang muhsinin. Akan tetapi, tampaknya untuk melihat bencana sebagai rahmat diperlukan kejernihan hati nurani.  Agak sulit  rasanya memahami musibah sebagai  rahmat, kecuali  orang-orang yang sudah  mencapai maqam ‘mukmin plus (baca muhsinîn). Al-Quran jelas menyebut bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang muhsinîn (orang-orang yang berbuat baik).

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah di Balik Musibah

Siapa muhsinin itu? Dalam al-Quran  antara lain dijelaskan, mereka adalah orang yang ahli mendermakan hartanya di jalan Allah Swt, mereka yang berinfak baik di saat senang maupun susah dan menahan amarahnya serta mau memberi maaf kepada orang lain, mereka yang beriman, beramal shalih dan bertakwa kepada Allah Swt.

Walhasil, bagi orang yang beriman,  tidak ada suatu musibah yang terjadi dan menimpa hamba-Nya,  kecuali pasti ada nilai kebaikan dan kemaslahatan. Hanya saja kadang pandangan dan ilmu kita yang terlalu sempit, dalam  melihat setiap peristiwa musibah dari sudut kepentingan manusia semata. Wallahu A’lam.

Abdul Mustaqim
Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pengasuh Pesantren Mahasiswa LSQ Ar-Rohmah.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...