Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ekologi Etika Produksi dalam Alquran

Etika Produksi dalam Alquran

Produksi merupakan salah satu bagian dari pembahasan ekonomi yang penting. Sebab, tanpa kegiatan produksi, proses kegiatan ekonomi tidak akan berjalan. Pengertian kegiatan produksi itu sendiri adalah proses dalam ekonomi untuk menciptakan, menghasilkan, dan membuat barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh konsumen sebagai pengguna.

Dalam Alquran, disebutkan setidaknya ada tiga etika produksi Islami yang mesti diperhatikan para pelaku ekonomi. Berikut penjelasannya.

Konsep produksi dalam Islam

Konsep produksi dalam ekonomi Islam pertama-tama harus didasari keyakinan bahwa sumber daya alam (materi) yang telah ada merupakan kepunyaan Allah. Manusia  diciptakan Allah sebagai khalifah yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola sumber daya alam tersebut menjadi suatu hal atau barang yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Almulk ayat 15:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat di atas. Bahwa Allah-lah yang menundukkan bumi untuk manusia agar mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka perlukan, seperti bercocok tanam, mendirikan bangunan, membuat jalan yang menghubungkan ke tempat yang jauh dan berbagai negara.

Selain itu, konsep produksi dalam sudut pandang Islam bukan saja bertujuan  untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tetapi harus ada unsur kemaslahatan individu dan masyarakat secara berimbang. Sebagaimana firman Allah dalam surah Alhadid ayat 7:

ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَأَنفَقُوا۟ لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

Etika produksi dalam Islam

Aturan produksi dalam Islam tidak terlepas dari konsep yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan sebagai landasan hukum syariat. Hal itu yang menyebabakan perbedaan antara  konsep produksi konvensional dengan produksi dalam Islam. Etika yang diperhatikan dalam konsep produksi Islam antara lain:

  1. Produksi barang halal

Memproduksi barang halal merupakan sesuatu mendasar dan penting yang harus diperhatikan oleh produsen. Hal ini penting karena produk halal merupakan kebutuhan setiap konsumen muslim. Oleh karena itu, produsen perlu memperhatikan produk yang akan dipasarkan haruslah diproduksi berasal dari bahan dan sumber yang jelas kehalalannya.

Perintah untuk mengonsumsi segala sesuatu yang halal disebutkan dalam firman Allah Ta’ala di surah Albaqarah ayat 168:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi; dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya dia itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Menurut Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wajiz, ayat ini merupakan ajakan bagi seluruh  manusia agar mengonsumsi makanan yang halal. Maksud dari halal di sini adalah yang tidak ada larangan untuk mengonsumsinya. Ayat ini turun untuk menjawab anggapan dari Tsaqif, Khuza’ah, dan Amir bin Sha’sha’ah yang mengharamkan apa yang telah Allah halalkan atas diri mereka sendiri; hasil panen dan hewan ternak.

  1. Tidak melebihi batas

Sesungguhnya sumber daya alam di bumi telah dipersiapkan Allah Ta’ala untuk dimanfaatkan sebaik mungkin oleh manusia, termasuk dalam urusan memproduksi. Misalnya produksi kertas yang bahan bakunya berasal dari kayu pohon. Seyogianya pohon yang digunakan sebagai bahan baku kertas dibatasi dan pihak perusahaan menanam kembali jenis  pohon yang telah ditebang.

Di samping itu, pemanafaatan pohon seyogianya tidak melebihi batas hingga akhirnya menimbulkan kerusakan alam yang masif. Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam surah Ala’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Menurut Muhammad Sulaiman al-Asyqar dalam Zubdah al-Tafsir min Fath al-Qadir, yang dimaksud jangan membuat kerusakan di muka bumi adalah larangan untuk membunuh manusia, menghancurkan rumah-rumah, membunuh hewan-hewan, menebang pepohonan, dan mengeringkan sungai-sungai.

Termasuk berbuat kerusakan di muka bumi juga adalah kafir terhadap Allah, terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan tidak menjalankan aturan syariat setelah ia ditentukan dan ditetapkan. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya yang telah disediakan Allah harus digunakan secara bijak dan tidak melebihi batas sehingga dapat menimbulkan kerusakan.

Baca juga: Isyarat Mitigasi Bencana dalam Mimpi Sang Raja di Kisah Nabi Yusuf

  1. Demi kemaslahatan umat

Etika dalam produksi Islam selanjutnya adalah mempunyai tujuan untuk kemaslahatan atau kebermanfaatan bagi umat. Misalnya meningkatkan kualitas taraf hidup orang lain agar finansialnya lebih baik dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, dalam setiap proses produksi dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang sedang membutuhkan. Pembukaan lapangan pekerjaan bisa dihitung sebagai infak dan dianggap sebagai amalan kebaikan kepada sesama. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Albaqarah ayat 195:

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Quraish Shihab dalam Tafsir AlMisbah menjelaskan kata ahsin (berbuat baiklah) terambil dari kata hasan yang artinya baik. Patron kata ini berbentuk perintah dan membutuhkan objek. Namun objeknya tidak disebut, sehingga ia mencakup segala sesuatu yang dapat disentuh oleh kebaikan; bermula terhadap lingkungan, harta benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri, bahkan terhadap musuh pun harus berbuat baik dalam batas-batas yang dibenarkan.

Kesimpulan

Konsep produksi dalam Islam tentunya berbeda dengan konsep produksi konvensional. Etika produksi dalam Islam harus mencerminkan nilai-nilai Islam seperti barang yang diproduksi haruslah barang yang halal, tidak melakukan eksploitasi atau melebihi batas, dan harus mempunyai dampak manfaat bagi manusia lain yang timbul karena hubungan saling membutuhkan.

Konsep produksi dalam Islam sejatinya adalah aturan-aturan yang dibuat Allah Ta’ala agar manusia memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia dengan sebaik-baiknya dan itu demi kebaikan manusia itu sendiri. Sehingga, manusia bisa bersikap bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam yang Allah sediakan dan harapannya tidak hanya berorientasi kekayaan dunia, tetapi juga memperhatikan amal kebaikan untuk bekal di akhirat nanti. Wallahu a’lam.

Baca juga: Strategi Alquran dalam Mengembangkan Ekonomi Maritim

Kholid Irfani
Alumni jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...