Beranda Ulumul Quran Genealogi Kajian Tafsir di Kawasan Yaman: Masa Nabi dan Sahabat (1)

Genealogi Kajian Tafsir di Kawasan Yaman: Masa Nabi dan Sahabat (1)

Pada masa pra-Islam, kawasan Yaman dipenuhi oleh komunitas masyarakat yang terpolarisasi ke dalam tiga kepercayaan, yaitu penyembah berhala (al-watsaniyah), Yahudi (al-yahudiyah), dan Nasrani (al-nashraniyah). Namun, kondisi tersebut berubah ketika Nabi Muhammad diutus ke Jazirah Arab. Tatkala kabar kedatangan Nabi dengan agama barunya tersebut terdengar di telinga masyarakat Yaman, mereka langsung menyambut kabar tersebut dengan sangat antusias. Momen itu sekaligus menjadi pembuka cakrawala kajian tafsir di masa Nabi, yang selanjutnya diteruskan oleh Para Sahabat.

Sementara itu, bentuk antusiasme masyarakat Yaman dalam menerima dakwah Islam tersebut sebelumnya telah diisyaratkan dalam QS. al-Ma’idah [5]: 54, sebagaimana kutipan riwayat yang disampaikan Ibnu Abi Hatim al-Razi dalam karyanya Tafsir Al-Quran al-al-‘Adzim:

عَنْ جابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ عَنْ قَوْلِهِ﴿ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهم ويُحِبُّونَهُ ﴾قالَ :هَؤُلاءِ قَوْمٌ مِنْ أهْلِ اليَمَنِ، ثُمَّ مِنْ كِنْدَةَ، ثُمَّ مِنَ السَّكُونِ، ثُمَّ مِنْ تُجِيْبَ.

“Dari Jabir ibn Abdillah, ia berkata: Rasulullah ditanya mengenai ayat (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya). Beliau kemudian bersabda: mereka adalah sebuah kaum dari penduduk Yaman, kemudian dari penduduk daerah Kindah, al-Sukun, dan Tujib”

Dalam kitab al-Tafsir fi al-Yaman: ‘Ardlun wa Dirasah karya Ali ibn Hassan, dijelaskan bahwa wujud antusiasme tersebut dapat dibuktikan dari banyaknya utusan delegasi dari kabilah-kabilah di Yaman yang rela hijrah ke Madinah guna bertemu dan belajar kepada Nabi Muhammad secara langsung. Beberapa kabilah yang mengutus delegasi kepada Nabi antara lain adalah kabilah al-Asy’ariyyin, Hamdan, Kindah, Ma’afir, Himyar, Hadhramaut, Murad, Azad, Khaulan, Zabid, dan kabilah al-Abna’.

Baca juga: Ragam Kekhasan Kajian Madrasah Tafsir al-Qur’an Mekkah Masa Tabiin

Sesampainya di Madinah, para utusan delegasi kabilah tersebut mendengarkan dengan baik ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Nabi kepada mereka. Hingga akhirnya tatkala mereka kembali ke Yaman, merekalah yang mengajarkan dasar-dasar keislaman kepada masyarakat Yaman sebagaimana yang telah mereka dapatkan dari Nabi. Tidak berhenti disitu, Nabi juga mengutus beberapa pembesar sahabat untuk berdakwah dan mengajarkan Al-Quran di Yaman. Diantara nama sahabat yang diutus Nabi tersebut antara lain adalah:

Ali ibn Abi Thalib

Nabi Muhammad mengutus keponakanya sendiri yaitu Ali ibn Abi Thalib ke daerah Yaman sebanyak tiga kali: pertama, Ali diutus oleh Nabi ke Yaman pada bulan Jumadil Ula tahun 9 H. Pada masa penugasan pertama tersebut, Ali ditugaskan menjadi juru dakwah (da’i) Islam di tanah Yaman. Sebelum berangkat ke Yaman, Ali terlebih dahulu ke Najran untuk mengambil sedekah dari Khalid ibn Walid. Setelah dari tempat tersebut, Ali kemudian melanjutkan perjalanan ke San’a untuk mendakwahkan Islam ke masyarakat kabilah Hamdan. Dalam proses dakwah tersebut Ali tidak sendirian, ia ditemani dua sahabat lainya, yaitu al-Barra’ ibn ‘Azib, dan Baridah al-Aslami.

Kedua, pada periode pengutusan kedua, Ali diutus oleh Nabi Muhammad ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H. Berbeda dengan kunjungan pertama, pada kali kedua ini Ali diutus sebagai hakim (qadli). Karena memang sebagian masyarakat Yaman (khususnya kabilah Hamdan) telah masuk Islam pada masa kunjungan pertama. Sehingga memerlukan seorang tokoh sahabat guna mengatur kehidupan sosial masyarakat Yaman agar sesuai dengan panduan hukum yang berasal dari Al-Quran dan Hadis Nabi.

Baca juga: Tafsir Tabiin: Ragam Kekhasan Kajian Madrasah Tafsir Madinah

Ketiga, Ali diutus kembali ke Yaman pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Untuk kali ketiga ini, Ali diutus sebagai seorang pengajar (mu’allim) yang ditugaskan untuk mengajarkan Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman di beberapa tempat seperti Tihamah, al-Mashani’, Hadlur, Ardl ‘Ak, dan daerah Yaman lainya.

Mu’adz ibn Jabal

Nabi Muhammad mengutus Muadz ibn Jabal ke Yaman pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 9 H. Pada saat itu, Muadz ibn Jabal diutus oleh Nabi agar berdakwah kepada kerajaan Himyar dan masyarakat kabilah al-Sakasik. Bertepatan pada bulan Jumadil Akhir, Muadz ibn Jabal tiba di daerah Jennad, Yaman dan menyampaikan pesan Nabi kepada masyarakat bani al-Aswad yang sebelumnya telah memeluk Islam. Kemudian, pada awal hari jum’at bulan Rajab, Muadz ibn Jabal mengumpulkan masyarakat dan memberikan khutbah sholat jum’at.

Tepat pada tempat berkumpulnya masyarakat tersebut, Muadz ibn Jabal kemudian mendirikan masjid yang kemudian dikenal saat ini dengan nama Masjid Mu’adz, Jennad. Selama di Yaman, Muadz ibn Jabal merangkap sebagai hakim sekaligus guru agama secara bergantian. Salah satu yang menjadi titik fokus kajian yang diajarkan Mu’adz ibn Jabal kepada masyarakat Yaman adalah berkaitan dengan Al-Quran dan ragam ilmu keislaman lainya. Praktik yang demikian dilakukan oleh Mu’adz ibn Jabal di Yaman hingga masa kekhilafahan Abu Bakar al-Shiddiq.

Abu Musa al-Asy’ari

Dijelaskan oleh Abdul Hamid Mahmud Thahmaz dalam karyanya yang berjudul Abu Musa al-Asy’ari al-Shahabi al-’Alim al-Mujahid, bahwasanya Abu Musa al-Asy’ari diutus oleh Nabi ke Yaman pada waktu setelah perang Tabuk. Sedangkan dalam riwayat yang disampaikan Imam al-Bukhari, Abu Musa diutus pada waktu sebelum haji wada’. Proses pengutusan Abu Musa al-Asy’ari tersebut merupakan hasil permintaan dari dua orang kabilah al-Asy’ariyyin kepada Nabi Muhammad. Ada juga yang berpendapat bahwa yang meminta adanya pengutusan sahabat tersebut adalah delegasi kerajaan Himyar tatkala di Madinah.

Berbeda dengan dua pembesar sahabat sebelumnya, Abu Musa al-Asy’ari diutus oleh Nabi khusus untuk menyampaikan dan mengajarkan firman-firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran kepada segenap masyarakat Yaman. Sebagaimana dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. بَعَثَ مُعَاذًا وَأَبَا مُوْسَى إِلَى الْيَمَنِ، فَأَمَرَهُمَا أَنْ يُّعَلِّمَا النَّاسَ القُرْآنَ

“Sesungguhnya Rasulullah Saw mengutus Muadz dan Abu Musa ke Yaman, kemudian menyuruh mereka berdua untuk mengajarkan manusia (penduduk Yaman) tentang Al-Quran”

Selain tiga nama pembesar sahabat Nabi tersebut, terdapat juga para sahabat lain yang juga diutus Nabi dan ikut serta dalam mengembangkan khazanah keislaman di Yaman, semisal Jarir ibn Abdillah al-Bajli, ‘Ukasyah ibn Tsaur al-Asdi, al-Muhajir ibn Abi Umayyah al-Makhzumi, Ziyad ibn Labid al-Bayadli, Khalid ibn Sa’id al-Qarsyi, Ya’la ibn Umayyah al-Tamimi, al-Thahir ibn Abi Halah al-Tamimi, dan ‘Amir ibn Syahr al-Hamdani.

Baca juga: Perbedaan Fungsi Mushaf dan Tafsir dalam Internal Umat Islam

Keberadaan tiga pembesar sahabat Nabi dan para sahabat lainya tersebut menjadi semacam periode awal atau periode formatif dari periodisasi genealogi kajian tafsir di Yaman. Periode ini sangat penting bagi perkembangan kajan tafsir kawasan Yaman, karena pada masa ini dasar-dasar pondasi dalam kajian Al-Quran beserta penafsiranya sedang dibangun oleh para sahabat Nabi. Selain itu, periode pertama ini juga akan menjadi dasar rujukan bagi generasi selanjutnya dalam melakukan pengembangan kajian tafsir di kawasan Yaman. Wallahu a’lam.

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23

0
Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23 berbicara mengenai dua hal. Pertama akan dibahas mengenai sebab turunnya ayat ini. kedua berbicara mengenai orang kafir yang tengah...