Beranda Tafsir Al Quran Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain Paling Populer di Indonesia

Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain Paling Populer di Indonesia

Dari sekian kitab penjelas Tafsir Jalalain, Hasiyah Al-Sawi merupakan kitab yang paling populer di Indonesia. Kitab ini digunakan di beberapa pesantren untuk bahan kajian, terlebih saat bulan Ramadhan. Hasiyah ini juga menjadi satu-satunya kitab penjelas Tafsir Jalalain yang dicetak penerbit lokal Indonesia. Paling tidak, jika kita mengetik kata kunci Hasiyah Tafsir Jalalain di google, maka yang keluar adalah Hasiyah Al-Sawi. Popularitas yang begitu tinggi, tentu membawa pertanyaan apa keunikan kitab ini?

Pertama kita perlu tahu penulisnya. Ia adalah Ahmad bin Muhammad al-Sawi Al-Misri Al-Khalwati Al- Maliki salah seorang pimpinan ulama Al-Azhar Kairo. Ia lahir pada tahun 1175 H/1761 M. di desa So’ al-Hijr dan wafat pada tahun 1241 H/1825 M. di Madinah. Tumbuh menjadi penganut tarekat, ia pun dikenal sebagai pembesar sufi, sekaligus mufassir. Dalam catatan sanad pendidikannya, ia pun tersambung pada dua penulis Tafsir Jalalain, yakni Jalaluddin Al-Mahalli dan Al-Suyuthi.

Kedua kita perlu mengetahui juga, mengapa kitab Hasiyah Al-Sawi begitu populer di Indonesia? Padahal kitab ini ditulis oleh ulama dari madzhab fiqh Maliki, sementara muslim di Indonesia bermadzhab fiqh Syafi’i. Nampaknya, hasiyah ini memiliki keistimewaan khusus yang mendukung pembelajaran tafsir di pesantren. Selain itu, karya ulama Al-Azhar memang lazim menjadi bahan kajian tanpa membedakan latar belakang madzhabnya.

Baca juga: Kajian Semantik Kata Nikmat dalam Al-Quran: Perbedaan Kata An-Ni’mah dan An-Na’im

Sejarah Penulisan Kitab Hasiyah Al-Sawi

Dalam muqaddimahnya, Syekh Al-Sawi begitu memuliakan ilmu tafsir. Ia menyebut bahwa tafsir adalah ilmu pengetahuan yang paling agung derajatnya. Dan pada zamannya, Tafsir Jalalain merupakan tafsir yang populer dan mendapat perhatian lebih dari para pengkaji dan peneliti. Hingga ia diminta oleh seorang da’I yang tidak disebutkan namanya untuk membacaka Tafsir Jalalain. Ia pun membaca dan menuliskannya menjadi kitab Hasiyah ini.

Masih dalam muqaddimah itu, Syekh Al-Sawi menyebut kitab ini sebagai ringkasan dari karya gurunya Syekh Sulaiman Al-Jamal. Memang Syekh Sulaiman Al-Jamal juga menuliskan hasiyah Tafsir Jalalain dengan judul Al-Futuhat al-Illahiyah bitaudihi al-jalalain bi Daqa’iq al-Khafiyyah. Ia meringkas kitab gurunya karena ia menganggap karangan gurunya itu telah merangkum 20 kitab tafsir yang ia punya.

Ia pun menyebutkan 20 tafsir itu terdiri dari: Tafsir Al-Baidawi, Al-Khazin, Al-Khatib, Al-Samin, Abu Su’ud, Al-KAwasyi, Al-Bahr, Al-Nahr, Al-Saqiyah, Al-Qurtubi, Al-Kasyaf, Ibn ‘Atiya, Al-Tahrir, dan Al Itqan.

Baca juga: Inilah 16 Kitab Hasiyah Tafsir Jalalain dari Berbagai Madzhab (Part 2)

Ada salah satu catatan menarik mengenai tafsir ini. Muhammad Ali Iyyazi dalam Al-Mufassirun Hayatuhum wamanhajuhum menyebut bahwa kitab ini baru dicetak pada tahun 1988 M. Artinya, terdapat jarak selama 181 tahun dari waktu rampungnya penulisan. Namun karena begitu populernya, Imam Zaki Fuad dalam penelitiannya Kajian atas Kitab Hasiyah Al-Sawi ala Tafsir Al-Jalalain berasumsi bahwa sebelum adanya percetakan, sudah terjadi pengajian dengan menyalin ulang secara manual.

Keistimewaan Hasiyah Al-Sawi 

Hasiyah Al-Sawi disusun dengan metode tahlili, sebuah metode dengan analisis yang mendalam. Ia menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk menganalisa suatu penafsiran. Tak heran jika banyak bahasan  fikih, nahwu, saraf, dan qiraat dalam kitabnya.

Selain itu, Al-Sawi memberikan narasi-narasi yang beragam. Ia tak hanya meringkas dari karya gurunya, namun juga mensyarah, mengoreksi, dan membandingkan dengan penafsiran-penafsiran lainnya. Karakter pengkritik, pensyarah, ahli bahasa, hingga sufistik pun ia sertakan.  Setidaknya itulah beberapa keistemawaan Hasiyah Al-Sawi sehingga sangat populer di Indonesia. Tentu, alangkah baiknya jika kita membaca lebih lanjut penjelas tafsir Jalalain ini. Semoga bermanfaat!

Wallahu a’lam[]

 

 

 

 

Metode tahlili, corak tafsir bil ra’yi

 

 

 

 

 

Zainal Abidin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di kajian Islam Nusantara Center dan Forum Lingkar Pena. Minat pada kajian manuskrip mushaf al-Quran.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...