Beranda Kisah Al Quran Hikmah Membaca Surat Maryam bagi Ibu Hamil

Hikmah Membaca Surat Maryam bagi Ibu Hamil

Al Quran merupakan salah satu mukjizat Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril. Membaca dan mempelajarinya tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mampu memberikan cahaya kepada hati yang redup. Begitu pula atas apa yang dirasakan seorang ibu hamil, yang kebanyakan mengalami kekhawatiran terhadap bayi yang dikandungnya, Hormon gelisah sering kali menyelimuti perasaan perempuan hamil. Membaca bagian tertentu dalam Al Quran dapat menjadi salah satu cara menghilangkan kegelisahan.

Salah satu surat yang biasa dibaca pada saat perempuan hamil yaitu surat Maryam. Surat Maryam merupakan surat ke 19 dan berjumlah 98 ayat serta termasuk golongan surat Makiyyah. Surat Maryam berisikan kisah Siti Maryam yang harus ikhlas menghadapi kehamilan seorang diri dengan izin Allah, tanpa adanya seorang suami.

Kisah Maryam tersebut mengajarkan pekerti bahwa ibu hamil harus mampu menghadapi perasaan gelisah dan khawatir terhadap bayi yang dikandungnya, dan menjadi ibu hamil yang tangguh dan rasa percaya diri yang kuat, maka Allah memberikan ketenangan hati kepada ibu hamil melalui membaca surat Al Quran. Sebagaiaman firman Allah dalam QS. Maryam ayat 23-25:

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَالَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا ﴿٢٣﴾ فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ﴿٢٤﴾ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴿٢٥﴾

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaka dia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “ janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”

Singkat cerita, Firman Allah di atas tentang kisah Maryam berserah diri kepada ketetapan Allah. Di saat itu, malaikat meniupkan ruh di lengan bajunya, yang kemudian ruh itu turun hingga mengalir ke farji, sehingga Maryam mengandung anak dengan izin Allah. Ketika Maryam hamil, sangat merasa kesulitan, karena masyarakat  tidak akan menganggap atas apa yang diceritakan Maryam dianggap tidak benar, mana mungkin perempuan hamil tanpa adanya seorang laki-laki.

Firman Allah tersebut yang berbunyi fa ajaa-ahal makhaadlu ilaa jidz’in nakhlati (Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma) yaitu menandakan terasa amat sakit dan terpaksa menyandarkan diri pada pangkal pohon kurma di tempat pengasingannya.

Kemudian pendapat dari Ibnu Abbas dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, bahwa Firman Allah, qaalat yaa laitanii mittu qabla Haadzaa wa kuntu nas-yam mansiyyan (“Ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”) di dalamnya mengandung dalil tentang dibolehkannya mengharap kematian di saat terjadinya fitnah. Karena, Maryam mengetahui bahwa ia akan diuji dan dicoba, setelah bayi yang dikandungnya dilahirkannya, akan hilangnya dukungan manusia dan sikap mereka yang tidak akan percaya cerita yang disampaikan Maryam.

Setelah dahulunya Maryam dikenal sebagai perempuan ahli ibadah, kini, menurut pandangan masyarakat, Maryam adalah seorang pelacur dan penzina. Maka ia pun berucap: yaa laitanii mittu qabla Haadzaa (“Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini,”) sebelum kejadian ini. Wa kuntu nas-yam man-siyyan (“Dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan,”) yaitu aku tidak diciptakan dan tidak menjadi sesuatu apa pun.

Kemudian Qatadah berpendapat tentang lafadz  wa kuntu nas-yam man-siyyan (“Dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan,”) yaitu sesuatu yang tidak dikenal, tidak disebut dan tidak pula diketahui sedikit pun siapa aku. Sesungguhnya telah dibahas  pada hahadits-hadits yang menunjukkan larangan mengharapkan kematian kecuali ketika terjadi fitnah pada firman Allah: “Wafatkan-lah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf: 101).

Dengan membaca Surat Maryam hati seorang ibu hamil akan menjadi tenang, hikmah yang lainnya adalah memberikan kelancaran dan kemudahan dalam melahirkan dan meringankan rasa sakit disaat melahirkan. Mengingat kisah perjuangan Maryam berproses menerima keputusan Tuhannya. Kemudian, Maryam hanya menyerahkan kehendak Allah, percaya bahwa keyakinan Maryam kepada Allah akan dihargai, bahwa kebaikan dan ke ikhlasan Maryam tidak akan ditinggalkan, hingga akhirnya tertulis dalam Al-qur’an. Wallahu ‘alam

Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

0
Telah saya sebutkan di tulisan sebelumnya bahwa saya menemukan sekurangnya empat tafsir model Tartib Nuzul, yaitu Bayan al-Ma’ani karya Abdul Qadir Mulla Huwaisy, al-Tafsir...