Beranda Khazanah Al-Quran Hikmah Taqdim dan Ta’khir dalam Al-Quran

Hikmah Taqdim dan Ta’khir dalam Al-Quran

Al-Quran memiliki keindahan susunan kata dan bahasa. Keindahan ini juga ternyata menyimpan rahasia berupa makna dan pesan-pesan tertentu. Salah satu keindahan tersebut adalah adanya lafaz/kata yang harus atau boleh didahulukan (taqdim) dan diakhirkan (ta’khir) atas yang lain. Pada tulisan ini juga mengungkap hikmah taqdim dan ta’khir dalam Al-Qur’an.

Quraish Shihab dalam Kaidah Tafsir menyebutkan bahwa penyebutan suatu kata lumrahnya disebutkan di awal kalimat. Namun, jika kemudian diletakkan di akhir kalimat, maka ada maksud dan pesan tertentu yang ingin disampaikan ayat tersebut. Maksud tersebut adakalanya: untuk menghindari kesalahpahaman; memberi makna takhsis; mengundang rasa takut; menjaga keindahan nada susunan; serta maksud-maksud lainnya. Perubahan susunan kata tersebut tetap dibenarkan oleh tata bahasa selama tidak berakibat pada hilangnya keindahan susunan kata atau bahkan kerancuan makna.

Baca juga: Sihir itu Nyata ataukah Hayalan? Inilah Tafsir Ayat tentang Sihir

10 Hikmah Suatu Kata Didahulukan dalam Ayat Al-Qur’an

Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alawi Al-Maliki juga menjelaskan secara detail dalam Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beliau mengatakan bahwa terdapat sepuluh rahasia atau hikmah suatu kata didahulukan dalam sebuah ayat di Al-Quran, di antaranya:

  1. Meminta Keberkahan (التَّبَرُّك); seperti mendahulukan nama Allah pada saat-saat tertentu, contohnya pada surah Al-Anfal ayat 41.
  2. Mengagungkan (التَّعْظِيْم); seperti pada surah Al-Ahzab ayat 56.
  3. Memuliakan (التَّشْرِيْف); seperti mendahulukan laki-laki daripada perempuan (surah Al-Ahzab ayat 35) dan penyebutan hamba sahaya yang diakhirkan dari orang merdeka (surah Al-Baqarah ayat 178).
  4. Kesinambungan konteks kalimat (المُنَاسَبَة لِسِيَاق الكَلاَم); seperti pada surah Al-Nahl ayat 6.
  5. Anjuran untuk segera dilaksanakan, karena khawatir akan disepelekan (الحَثُّ عليه والحَضُّ على القِيام به); seperti pada surah Al-Nisa ayat 11.
  6. Penyebutan sesuatu yang wujudnya lebih dulu ada (السّبق); seperti didahulukan penyebutan Malaikat dari manusia dari segi keberadaannya (surah Al-Hajj ayat 45) dan penyebutan wajah daripada tangan dalam urutan membasuh anggota wudhu (surah Al-Maidah ayat 6).
  7. Adanya ketentuan sebab-akibat (السّبَبِيَة); seperti didahulukan ibadah daripada meminta pertolongan, karena ibadah adalah sebab mendapatkan pertolongan (surah Al-Fatihah ayat 5).
  8. Menunjukkan arti lebih banyak (الكَثْرَة); seperti penyebutan kata rahmah (الرّحمة) dalam Al-Quran yang banyak didahulukan dari kata ‘adzab (العذاب), sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadis: ‘sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku (إنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ)’.
  9. Kenaikan dari bawah ke atas (الترَقّي مِن الأدْنَى إلى الأعْلَى); seperti penyebutan yad/tangan yang diakhirkan dari rijl/kaki, karena tangan lebih mulia daripada kaki (surah Al-A’raf ayat 195).
  10. Penurunan dari atas ke bawah (التّدَلِّي مِن الأعْلَى إلى الأَدْنَى).

Berdasarkan makna dan sebab-sebab tersebut, berikut ini adalah contoh dari satu kata, baik kata asli maupun kata ganti, yang didahulukan di suatu ayat tertentu dan diakhirkan di ayat lainnya. Ayat-ayat tersebut ternyata juga memiliki maksud dan pesan tertentu yang ingin disampaikan di dalamnya.

Baca juga: Meneladani Rasa Cinta Tanah Air dari Nabi Muhammad SAW. dan Nabi Ibrahim AS.

Kata La‘ibun (لَعِبٌ) dan Lahwun (لَهْوٌ)

Dalam Al-Quran, kedua kata ini disebutkan berdampingan dengan cara di-‘athaf-kan. Namun, penyebutannya dengan dua bentuk yang berbeda. Di beberapa surah, seperti Al-An‘am ayat 32 dan 70, surah Muhammad ayat 36 dan surah Al-Hadid ayat 20, kata la‘ibun (لَعِبٌ) didahulukan dari kata lahwun (لَهْوٌ);

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ  (آل عمران : 32)

إِنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۚ  (محمّد : 36)

Sedangkan di beberapa ayat lainnya kata lahwun (لَهْوٌ) didahulukan dari kata la‘ibun (لَعِبٌ);

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ (العنكبوت: 64)

ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَهُمۡ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا (الأعراف: 51)

Pada kelompok pertama, kata la‘ibun yang berarti ‘permainan’ didahulukan, karena dunia permainan identik mewarnai masa kecil seseorang. Sedangkan kata lahwun yang berarti ‘bersenda gurau’ diakhirkan, karena digunakan untuk menunjukkan masa remaja atau dewasa yang sarat dengan gaya hidup mewah, berfoya-foya dan menyia-nyiakan waktu yang ada. Oleh karenanya, didahulukan kata la‘ibun daripada lahwun untuk menunjukkan masa kecil lebih dahulu terjadi (السّبق) daripada masa remaja dan dewasa yang datang kemudian.

Adapun pada kelompok ayat selanjutnya, kata la‘ibun diakhirkan dari kata lahwun. Hal ini dikarenakan kedua ayat tersebut berbicara dalam konteks hari kiamat. Kehidupan pasca hari kiamat digambarkan seperti masa remaja atau dewasa yang lebih lama, bahkan terasa abadi jika dibandingkan dengan kehidupan dunia. Seperti halnya masa kecil seseorang yang tidak terasa telah cepat berlalu. Oleh karenanya, kata lahwun didahulukan daripada la‘ibun. Tujuannya adalah untuk menunjukkan waktu dan keadaan yang lebih lama dan kekal di akhirat kelak (الكَثْرَة), daripada kehidupan dunia yang bersifat sementara, singkat dan penuh dengan tipu daya.

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 66-67: Kuasa Allah atas Para Pendosa

Kata Ganti Mukhattab (كُمْ) dan Kata Ganti Ghaib (هُمْ)

Selain pada sebuah kata, taqdim dan ta’khir juga terjadi pada kata ganti suatu kata. Seperti disebutkan dalam kedua ayat berikut:

نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ (الأنعام: 151)

نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِيَّاكُمۡۚ (الإسراء: 31)

Pada surah Al-An‘am, kata ganti ‘kalian’ (dhamir mukhatab) didahulukan daripada kata ganti ‘mereka’ (dhamir ghaib). Adanya taqdim ini adalah untuk menekankan larangan membunuh anak sendiri sebab takut dirinya ditimpa kemiskinan. Ayat ini juga sekaligus menjadi jaminan bagi keluarga kurang mampu yang merasa terbebani dalam menghidupi anak-anaknya. Karena rezeki mereka dan anak-anaknya sudah pasti ditanggung oleh Allah, sehingga Allah menegaskan: “Kamilah yang memberi rezeki kalian dan juga mereka”.

Adapun pada surah Al-Isra’, kata ganti ‘mereka’ (dhamir ghaib) didahulukan dari kata ganti ‘kalian’ (dhamir mukhatab). Taqdim dalam ayat ini juga berbicara tentang larangan membunuh anak. Namun, bedanya, dalam ayat ini kemiskinan bagi sang anak yang justru dikhawatirkan oleh ayahnya, bukan dirinya.

Baca juga: Balaghah Al-Quran: Seni Tata Krama dalam Bahasa Al-Quran

Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa “Kamilah yang memberi rezeki mereka dan juga rezeki kalian”. Kalimat ini ditujukan juga bagi keluarga yang berkecukupan agar tidak perlu khawatir terhadap masa depan anak-anak dan keturunan mereka. Karena, Allah telah menjamin rezeki mereka, selain juga telah memberi kemapanan kepada orang tua mereka.

Demikian beberapa poin yang berkaitan dengan mendahulukan (taqdim) dan mengakhirkan (ta’khir) suatu kata dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Taqdim ta’khir  ini ternyata memiliki banyak makna dan hikmah tersembunyi, di samping keindahan susunan pada katanya. Wallahu A’lam.

 

Azkiyatuttahiyah
Alumni Ma’had Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Indonesia dan Magister Ilmu Al-Qur’an & Tafsir Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...