Beranda Tafsir Tematik Inilah Perilaku Toleran Yang Harus Muslim Tunjukkan Menurut Al-Qur’an

Inilah Perilaku Toleran Yang Harus Muslim Tunjukkan Menurut Al-Qur’an

Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa langkah awal dalam toleransi beragama adalah kesadaran akan keniscayaan perbedaan. Lalu yang kedua adalah menghilangkan prasangka buruk terhadap pemeluk agama lain, terutama jika prasangka tersebut tidak dibarengi dengan bukti yang kuat. Pada bagian ketiga ini akan dijelaskan mengenai perilaku toleran yang harus ditunjukkan seorang muslim menurut Al-Qur’an.

Seorang muslim dalam kesehariannya seyogyanya menunjukkan nilai-nilai ajaran Islam, seperti perilaku toleran, ramah, penuh kasih dan sebagainya. Karena ia merupakan agen yang secara langsung mempresentasikan Islam di mata masyarakat. Jika citranya baik, maka citra Islam di mata masyarakat akan baik pula, begitu juga sebaliknya. Karena seringkali masyarakat melihat wajah Islam hanya berdasarkan sikap dan sifat pemeluknya tanpa melihat secara langsung ajaran-ajaran yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunah.

Dalam konteks kerukunan beragama, seorang muslim harus menunjukkan perilaku toleran. Perilaku ini tidak hanya menjadi sebuah tindakan formalitas dalam bermasyarakat saja, tetapi juga harus diresapi dan dihayati sebagai nilai substansial yang diajarkan Al-Qur’an kepada pembacanya. Dengan begitu, akan tercipta lingkungan masyarakat yang saling menghargai pendapat, kepercayaan dan agama orang lain secara sungguh-sungguh.

Berbuat baik terhadap semua manusia tanpa terkecuali

Umat Islam diperintahkan oleh Allah Swt untuk senantiasa berbuat baik kepada seluruh makhluk, tidak membedakan apakah itu hewan, tumbuhan ataupun manusia. Lebih jauh, Allah juga tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada non-muslim yang tidak memusuhi Islam, karena perilaku baik adalah perbuatan yang bersifat universal dan bertujuan untuk kesejahteraan kehidupan manusia di Dunia. Perbuatan baik tanpa pandang bulu juga merupakan gambaran dari keadilan yang Allah Swt perintahkan.

Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8-9)


Baca Juga: Inilah Rambu-Rambu Toleransi Beragama Menurut Al-Quran: Perbedaan Adalah Keniscayaan


Menurut Ibnu Katsir, ayat ini merupakan informasi kebolehan bagi umat Islam untuk berbuat baik kepada pemeluk agama lain, bahwa Dia tidak melarang umat Islam berbuat baik kepada non-muslim yang tidak memerangi mereka, seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah manusia berbuat baik dan adil, karena Allah menyukai orang yang berbuat adil (Tafsir Al-Quran Al-Azhim [7]: 247).

Mengedepankan islah dalam kehidupan beragama

Tidak hanya berprilaku toleran dalam keadaan normal, umat Islam juga dituntut untuk menjadi penengah jika terjadi pertikaian di masyarakat (damai dan mendamaikan). Perilaku ishlah ini dapat digambarkan dengan tidak menjadi provokator kekacauan, menjadi pembawa pesan kedamaian dan menjadi perantara perdamaian dari dua kubu masyarakat yang bertikai. Hal ini jika dibawa ke dalam konteks kehidupan beragama masyarakat, berarti umat Islam harus menjadi penengah yang adil di antara kelompok Islam maupun non-muslim.

Berkenaan dengan ishlah Allah Swt berfirman, “Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)

Memberikan orang lain kebebasan untuk menjalankan agamanya

Bentuk prilaku toleran selanjutnya adalah membiarkan orang lain menjalankan agamanya. Tindakan ini pernah dilakukan oleh nabi Saw di mana suatu hari datang enam puluh utusan Kristen Najran untuk menemui nabi dan kemudian beliau menyambut mereka di Masjid Nabawi. Uniknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Para sahabat yang melihat hal tersebut awalnya ingin melarang mereka, tetapi kemudian nabi memerintahkan untuk membiarkan mereka, karena mereka tidak tahu bahwa itu adalah tempat Ibadah umat Islam (al-Tabaqat al-Kubra).

Tindakan nabi membiarkan para Kristen Najran melakukan kebaktian di atas adalah bentuk perilaku toleran nabi terhadap mereka sekalipun dilakukan di sekitar Masjid Nabawi. Dari tindakan tersebut, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa sekalipun mereka mengetahui dan meyakini kebenaran agama Islam, bukan berarti mereka boleh melarang pemeluk agama lain menjalankan ajaran atau tuntunan agamanya. Artinya, semua orang berhak untuk menjalankan agama mereka masing-masing dan tidak perlu mencampur-adukannya.

Firman Allah Swt:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ ٦

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109]: 6)


Baca Juga: Larangan Memaki Sesembahan Non-Muslim: Salah Satu Ajaran Toleransi Dalam al-Qur’an


Menghargai Ajaran, Kepercayan dan Agama orang lain

Menghargai di sini bukan berarti umat Islam harus ikut menyembah atau mengagungkan agama atau Tuhan orang lain, tetapi bermakna tidak melakukan hal yang dapat mengganggu atau menyinggung ajaran, kepercayaan atau agama orang lain. Salah satu contoh konkritnya adalah dengan tidak mengolok-olok atau menghina ajaran dan sesembahan non-muslim, karena itu dapat menimbulkan pertikaian yang tidak berkesudahan sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. al-An’am [6]: 108 yang bermakna:

Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...