Beranda Ulumul Quran Inilah Tiga Mukjizat Al-Quran

Inilah Tiga Mukjizat Al-Quran

Tafsiralquran.id – Mukjizat atau I’jaz adalah kata dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari akar kata a’jaza. Lafal a’jaza sendiri memuat beberapa makna, diantaranya adalah melemahkan, di luar kebiasaan dan tidak bisa ditirukan. Sedangkan istilah mukjizat merupakan padanan kata yang diambil dari lafal mu’jiz, yakni isim fail dari kata a’jaza yang bermakna fa’il al-‘ajzi fi ghairihi ‘yang melemahkan orang lain’.

Az-Zarqani mendefinisikan kata i’jaz sebagai suatu hal yang mampu melemahkan atau menundukkan manusia dan dapat diartikan dengan sesuatu yang diluar kebiasaan. Sedangkan menurut Quraish Shihab, i’jaz atau mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa  yang tampak pada seorang Nabi, sesuatu tersebut tidak dapat tertandingi dan ditantangkan kepada kaum yang marugakannya.

Pada dasarnya, dimensi i’jaz atau mukjizat diturunkan kepada para rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah Allah sebagai bukti kebenarannya. Salah satu kemampuan i’jaz yang dapat dilihat dan bisa dirasakan kehadirannya hingga saat ini adalah kemukjizatan al-Quran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat manusia. Tidak dapat dipungkiri, kemukjizatan al-Quran telah menjadi anugerah yang berhasil mengeluarkan manusia dari gelap menuju cahaya sehingga mampu melihat kebenaran ajaran Islam melalui nalurinya.

Sebagai kitab paripurna, Al-Quran memuat beberapa aspek kemukjizatan yang luar biasa bagi umat manusia, baik keindahan uslub dan nadzam-nya ataupun beragam ilmu dan penjelasan yang terkandung di dalamnya. Kemukjizatan ini menjadikan al-Quran menjadi kitab unggul tak tertandingi oleh siapapun dan sebagai bukti bahwa al-Quran benar-benar wahyu Allah. Menurut Quraish Shihab terdapat tiga aspek kemukjizatan yang terkandung dalam Al-Quran, adapun aspek tersebut meliputi:

Pertama, kemukjizatan segi bahasa. Aspek ini meliputi keindahan, ketelitian dan penggunaan bahasanya. Keistimewaan al-Quran dari aspek bahasa tidak hanya terlihat pada nilai ketinggian sastranya, pun mengantarkan pada suatu temuan bahwa dalam setiap pemilihan kata yang tercantum tidak ada kata yang sia-sia dalam penggunaanya.

Kedua, kemukjizatan sisi keilmiahan yang komprehensif. Aspek ini membuktikan bahwa al-Quran merupakan kitab petunjuk bagi makluk hidup, sejauh ini al-Quran telah menjadi benih inspirasi dari berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang tiada henti.

Ketiga, kemukjizatan dari pemberitaan gaib. Berita magis dalam al-Quran yang menceritakan tentang nabi-nabi terdahulu tentu mustahil diketahui oleh nabi Muhammad, sehingga hal ini menunjukkan bahwa al-Quran bukanlah kitab karangan nabi melainkan wahyu yang benar turun dari Allah. Mukjizat yang termuat oleh al-Quran tidak hanya menunjukkan bahwa itulah tujuan diturunkannya Al-Quran kepada umat manusia, pun menunjukkan ketidaksanggupan manusia untuk menandingi keistimewaan al-Quran.

Tidak heran jika aspek i’jazul quran merupakan salah satu kajian penting dalam ‘ulumul quran sebab para ulama’ memandang kemukjizatan al-Quran bukan hanya sebagai kajian untuk menunjukkan keotentikan al-Quran semata, namun juga diyakini mampu menambah dan memperteguh keimanan manusia. Dalam hal ini Quraish Shihab kembali mengingatkan kepada para pemerhati al-Quran untuk lebih mengedepankan keistimewaan al-Quran sesuai dengan masa atau zamannya. Wallahu A’lam.

Mufidatul Bariyah
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...