Beranda Tafsir Tematik Bertakwalah, Maka Allah Akan Mengajarimu!

Bertakwalah, Maka Allah Akan Mengajarimu!

Di era digital, ilmu bertebaran di mana-mana. Berbagai platform menawarkan kemudahan untuk menguasai berbagai bidang keilmuan. Metode belajar seperti ini mengharuskan kita untuk tekun dan fokus, bahkan ada pelatihan privat yang berbayar agar mahir dalam suatu bidang.

Benar, banyak jalan untuk meraih ilmu. Namun, ada sebuah jalan ilmu yang agaknya sering diabaikan di era yang serba digital. Jalan ini diisyaratkan oleh Alquran melalui kesiapan diri dengan “platform” ketakwaan. Perhatikan penggalan akhir ayat berikut:

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah; maka Allah akan mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Albaqarah: 282)

Berdasarkan ayat tersebut, didapatlan informasi bahwa Allah akan mengajari hambaNya dengan memerintah takwa terlebih dahulu. Apa kaitan takwa dengan ilmu? Bagaimana maksud pengajaran Allah bagi mereka yang bertakwa? Berikut akan kita jawab melalu penelusuran berbagai kitab tafsir!

Baca Juga: Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135

Kaitan Takwa dengan Ilmu dalam surah Albaqarah ayat 282

Ayat di atas merupakan penggalan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an yang berbicara mengenai utang piutang. Quraish Shihab menerangkan bahwa ayat yang berisi perintah takwa dan pengajaran ilahi ini menjadi penutup yang tepat, karena seringkali, dalam transaksi, manusia menggunakan ilmu untuk hal terselubung dalam meraih keuntungan. (Tafsir Al-Misbāh, jil.1, hal. 609). Jika Quraish Shihab mempertimbangkan konsentrasi keseluruhan ayat ketika menafsirkan ayat ini, maka dapat dikatakan bahwa takwa pada ayat ini adalah takwa dalam bermuamalah, yakni utang piutang. Berdasar pada ini, diketahui bahwa istilah takwa itu tidak hanya menyangkut perihal ibadah, tapi juga muamalah.

Lebih rinci, Ar-Rāzi menjelaskan bahwa perintah takwa adalah sebuah peringatan untuk menaati perintah dan menjauhi larangan. Sementara frasa, Allah akan mengajarimu; bahwa Allah akan mengajarkan apapun ilmu yang memberi petunjuk kepada manusia baik urusan dunia maupun akhirat. Kemudian frasa, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; merupakan isyarat bahwa Allah yang paling mengetahui maslahat dunia dan akhirat bagi manusia. (Tafsir Al-Kabīr, jil. 7, hal. 99). Di sini Ar-Razi tidak terlihat menunjuk khusus bentuk ketakwaan. Ini artinya bahwa takwa tersebut dalam hal apa pun, baik dalah hal ibadah maumpun muamalah.

Menjawab kaitan takwa dengan ilmu, Ibnu Asyūr dalam tafsirnya menerangkan bahwa takwa adalah kunci segala kebaikan dan tameng dari kefasikan. Bahwa pengajaran Allah adalah nikmat berupa segala bentuk ilmu yang mengeluarkan manusia dari kebodohan, khususnya ilmu tentang syariat dan keteraturan alam. Perintah takwa juga bentuk kasih sayang Allah, karena takwa adalah sebab tercurahkannya ilmu. (Tafsir at-Tahrīr wa at-Tanwīr, jil. 6, hal. 582). Pada penafsirannya, Ibn Asyur dengan jelas mengatakan bahwa takwa menjadi sebab dari pemberian ilmu dari Allah.

Terakhir, Makarim Asy-Syirazi menjelaskan ayat tersebut secara filosofis. Bahwa ketakwaan memiliki pengaruh yang besar terhadap makrifat manusia serta penambahan ilmu. Mengapa? Karena kesucian hati manusia dengan wasilah ketakwaan menjadikannya seperti cermin yang memancarkan sifat-sifat ilahiah. Hal ini menjadi logis, karena perilaku buruk menjadi penghalang untuk melihat hakikat ilmu yang suci. (Tafsir Al-amtsal, jil 2, hal. 357)

Melalui beberapa rujukan tafsir, menjadi jelas bahwa ketakwaan menjadikan hati dan jiwa manusia menjadi bersih dan suci. Keadaan hati dan jiwa seperti ini memberikan daya yang kuat untuk memperoleh ilmu. Daya ini yang kemudian menjadi kunci pengajaran Allah kepada mereka yang bertakwa. Diingat, betakwa dalam hal ibadah sekaligus muamalah.

Baca Juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 134-135 : Empat Perilaku Orang Yang Bertakwa

Sebagai catatan, bukan berarti ilmu hanya ditempuh melalui ketakwaan dan penyucian jiwa saja, melainkan ilmu juga perlu dipelajari melalui upaya dan usaha. Dengan demikian, terdapat dua macam ilmu; ilmu yang harus dipelajari melalui usaha dan ilmu ilahiah yang diajarkan langsung oleh Allah karena ketakwaan.

Semoga, ayat ini dapat menjadi inspirasi bahwa selain belajar, ketakwaan adalah satu jalan untuk meraih ilmu. Bertakwa dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Pesan penting ayat ini adalah Allah akan mengajarkan sebuah ilmu bagi mereka yang bertakwa, karena ketakwaan erat kaitannya dengan ilmu. Semoga Allah menggabungkan kita bersama mereka yang bertakwa dan mengajari kita karena buah ketakwaan. Amin. Walalhu’alam Bishawab.

Ahmed Zaranggi Ar Ridho
Mahasiswa pascasarjana IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @azzaranggi atau twitter @ar_zaranggi
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dhalla Tidak Hanya Bermakna ‘Sesat’, Simak Penjelasannya

0
Makna dhalla dalam Alquran tidak selalu diartikan sesat, tersesat atau menyimpang dari jalan yang benar. (Ar-Raghib al-Asfahani, Kamus al-Qur’an, Jilid 2, ,545). Ia selalu...