BerandaTafsir TematikTafsir Surah Ali Imran Ayat 134-135 : Empat Perilaku Orang Yang Bertakwa

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 134-135 : Empat Perilaku Orang Yang Bertakwa

Allah Swt berfirman dalam surah Ali Imran Ayat 134-135 :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعافِينَ عَنِ النَّاسِ ‌وَاللَّهُ ‌يُحِبُّ ‌الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلى ما فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Baca juga: Membincang Kebahagiaan dalam Al-Qur’an: Hakikat, Bentuk, dan Cara Menggapainya

Ada empat perilaku orang-orang yang bertakwa berdasarkan ayat ini. Berikut penjelasan secara terperinci tentang keempat perilaku tersebut :

Selalu Istiqamah dalam Berinfaq

Al-Qur’an menyebut orang-orang yang menafkahkan hartanya dengan ungkapan “yunfiqun”. Ungkapan ini merupakan bagian dari pola fi’il Mudhari’. Salah satu fungsi fi’il mudhari’ dalam Al-Qur’an adalah untuk menunjukkan aktifitas yang dilakukan secara berkesinambungan. Maka, ungkapan ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu istiqomah dalam menafkahkan harta mereka di jalan Allah, sekalipun dalam keadaan duka/sempit.

Menurut Sayyid Tanthawi dalam kitab al-Tafsir al-Wasith (2/263), perilaku menafkahkan harta dalam ayat ini disebut lebih awal dari pada perilaku menahan amarah dan memaafkan orang lain, sebab seseorang yang rela menafkahkan sebagian hartanya dalam keadaan suka dan duka, maka ia termasuk orang yang murni hatinya dan benar-benar ikhlas. Ia memiliki komitmen yang mendalam terhadap ajaran agama dan ketaatan kepada Allah Swt.

Perilaku ini sebagaimana dalam Q.S al-Baqarah (2) : 274 :

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ

Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 114: Ancaman Bagi Mereka yang Merusak Rumah Ibadah

Mampu Menahan Amarah

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah (2/221), kata al-kadzimin mengandung makna penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikirannya masih menuntut balas, tetapi dia tidak memperturutkan ajakan hati dan pikiran itu. Dia menahan diri dan amarah agar tidak mencetuskan kata-kata buruk atau perbuatan negatif.

Perilaku ini merupakan kemampuan seseorang yang diliputi oleh emosi dan kemarahan, namun ia mampu meredam dan menahannya agar tidak diketahui oleh orang lain. Perilaku ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Saw. : “Orang kuat bukanlah orang yang bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”

Dalam hadis lain, Rasul Saw. memberikan jaminan aman dan iman bagi orang yang dapat meredam amarahnya. Beliau bersabda : “Siapapun yang mampu menahan amarahnya, padahal ia bisa saja meluapkannya, maka Allah akan mengisi perutnya dengan rasa aman dan iman.”

Baca juga: Mengenal Syed Muhammad Naquib Al-Attas: Penggagas Epistemologi Tafsir Metalinguistik (1)

Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Menurut al-Zuhayli dalam Tafsir al-Munir (4/88), sesorang yang memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadanya, padahal ia mampu membalasnya, maka perilaku ini menunjukkan kemampuannya untuk mengendalikan diri, kebijaksanaannya dalam berfikir dan kharakternya yang kuat. Perilaku ini lebih baik dari pada seseorang yang dapat menahan amarahnya.

Perilaku ini sebagaimana dalam Q.S al-Shura ayat 37 :

وَإِذا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Dan apabila mereka marah, segera memberi maaf

Al-Zuhayli juga berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan tentang kemuliaan Rasul Saw. yang memaafkan para pasukan pemanah saat mereka tidak mengikuti intruksi beliau dalam perang Uhud. Beliau juga memaafkan perilaku orang-orang musyrik yang menjadi penyebab kematian pamannya, Hamzah bin Abd al-Mutallib.

Dalam sebuah riwayat, Rasul Saw. menjelaskan bahwa seseorang yang ingin derajatnya ditinggikan oleh Allah, maka hendaklah ia mengampuni (memaafkan) orang-orang yang menganiyayanya dan menyambung silaturrahim kepada orang-orang yang memutuskan hubungan dengannya.

Segera Bertaubat Kepada Allah

Kata “fahishah” dalam ayat ini secara etimologi berarti melebihi batas dalam melakukan perbuatan buruk (mujawazah al-had fi al-su’), seperti zina, mencuri, dan perbuatan lain yang termasuk dosa besar. Menurut al-Sha’rawi, para ulama’ berbeda pendapat tentang makna “fahishah”. Ada yang mengartikannya semua perilaku dosa besar, ada pula yang hanya membatasi pada arti berbuat zina.

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa maksiat dan kedurhakaan yang dilakukan seseorang (selama dia segera menyadarinya) tidak mencabut identitas ketakwaannya. Hal ini juga membuktikan betapa realialistisnya ajaran Al-Qur’an. Allah tidak menutup pintu, dan mengharuskan semua orang sebersih kain putih, sehalus sutera.

Baca juga: Rahasia di Balik Redaksi al-Wa’d dan al-Wa’id Allah (Janji dan Ancaman)

Dia menerima hamba-hamba-Nya yang berlumuran dosa dan memasukkannya dalan\ kelompok orang yang bertakwa selama mereka menyadari kesalahannya. Namun, tentu peringkat ketakwaannya belum mencapai peringkat yang tinggi.

Hal ini berdasarkan hadis Rasul Saw. yang diriwayatkan oleh Shaykha>ni> (Bukhari Muslim) bahwa beliau bersabda : “seorang hamba, jika ia mengakui kesalahannya, lalu ia segera bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya.

Menurut al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghayb (9/368), keseluruhan ayat ini dapat disimpulkan bahwa secara umum, perilaku orang-orang yang bertakwa dibagi menjadi dua : pertama, orang-orang yang senantiasa taat dan beribadah kepada Allah. Mereka adalah orang orang yang berinfak dalam keadaan suka dan duka, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.

Kedua, orang – orang yang berdosa dan segera bertaubat. Mereka adalah orang-orang yang disebut pada ayat 135. Mereka dimasukkan oleh Allah sebagai bagian dari orang-orang yang bertakwa karena seseorang yang berdosa, lalu segera bertaubat, maka statusnya sama seperti orang yang bertakwa, yang mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt.

Wallahu A’lam[]

Afrizal El Adzim Syahputra
Afrizal El Adzim Syahputra
Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan Dosen Studi Qur'an Hadis
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mental Illness dalam Kajian Semantik Alquran

0
Mental illness merupakan suatu kondisi yang dapat dialami oleh setiap orang. Hal tersebut dapat tumbuh karena adanya sebab dan latar belakang yang berbeda-beda. Faktor...