Beranda Tafsir Tematik Kajian Semantik Kata Nisyan (Lupa) dan Berbagai Konteksnya dalam Al-Quran

Kajian Semantik Kata Nisyan (Lupa) dan Berbagai Konteksnya dalam Al-Quran

Di dalam Al-Qur’an, kata nisyan seringkali diartikan dengan lupa. Pemaknaan lupa tergantung pada konteks setiap ayat yang mengandung lafaz nisyan. Akan tetapi, sebelum kita mengetahui makna kata nisyan pada konteks suatu ayat, kita perlu tahu, apa yang dimaksud dengan nisyan? Mari simak penjelasan berikut ini!

Dalam kamus Munawwir karya KH. Ahmad Warson Munawwir berasal dari bahasa Arab نَسِيَ – ينْسِيَ – نَسْيًا وَ نِسْيَانًا  yang artinya lupa. lawannya adalah تَذَكّرَ yang artinya ingat. Sedangkan Menurut Raghib Al-Ishfahani dalam karyanya, Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, an-Nisyan (النِّسْيَان) artinya tertinggalnya manusia mengingat sesuatu yang diamanatkan kepadanya, baik karena lemahnya hati karena lupa. Nisyan merupakan suatu keadaan diluar kesanggupan manusia. Apabila lupa itu disengaja, maka akan mendapatkan balasan (sanksi). Jikalau tidak disengaja, maka tidak dikenakan balasan.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Ilmu Semantik Al-Quran dari Klasik hingga Kontemporer

Sebagaimana hadis riwayat Ibnu Majah dan al-Baihaqi dalam kitab Sunan Ibnu Majah menyatakan

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.”

Hadis ini menunjukkan apabila larangan Allah dilakukan atau perintah Allah ditinggalkan tanpa sengaja, maka tidak mendapat cela di dunia dan tidak di adzab di akhirat karena lupa. Sehingga Allah memaafkannya dan termasuk sebagai karunia Allah.

Kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’anul Karim karya Muhammad Fuad Abdul Baqi menyebutkan kata nasiya dan derivasinya dalam Al-Qur’an sebanyak 45 kali, baik itu fi’il madhi, fi’il mudhori’, masdar, dan isim maf’ul.

Pertama, fi’il madhi mujarrod dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 26 kali. Kedua, fi’il mudhori’, baik itu mabni ma’lum maupun mabni majhul diulang sebanyak 16 kali. Ketiga, masdar terdapat dalam Al-Qur’an 2 kali. Keempat, isim maf’ul diulang hanya sebanyak 1 kali.

Bagaimana makna kata nisyan dalam konteks suatu ayat?

Pertama, QS. Taha [20]: 115

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا

“dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”

Dalam kitab Tafsir Al-Mukhtashar menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah SWT. telah memerintahkan Adam untuk tidak makan buah dari pohon terlarang. Namun,  setan menggodanya dan Adam langsung memakan buah terlarang itu. Sehingga membuat Adam lupa terhadap perintah Allah dan Allah tidak mendapati Adam bersabar atas perintah-Nya. Dengan demikian, makna kata nisyan pada QS. Taha [20]: 115 diakibatkan adanya kesengajaan manusia melupakan perintah Allah atas segala sesuatu yang dikerjakannya itu.

Kedua, QS. Al- A’raf [7]: 51

الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَهْوًا وَّلَعِبًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۚ فَالْيَوْمَ نَنْسٰىهُمْ كَمَا نَسُوْا لِقَاۤءَ يَوْمِهِمْ هٰذَاۙ وَمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.”

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam kitabnya, Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa orang-orang kafir adalah mereka yang tidak berusaha mencari agama yang benar (hanya mengikuti hawa nafsu main-main) dan ditipu oleh kegemerlapan dunia. Sehingga mengira itu adalah satu-satunya kehidupan dan melupakan pertemuan dengan Allah SWT.  pada hari kiamat. Mereka tidak merasakan kenikmatan surga, tetapi merasakan api neraka akibat melupakan hari kiamat dan mengingkari bukti jelas yang mendukung kebenaran.

Dengan demikian, makna kata nisyan pada QS. Al- A’raf [7]: 51 adalah kelupaan yang disengaja manusia, yaitu melupakan pertemuan dengan Allah pada hari kiamat. Sehingga Allah memberikan balasan berupa siksa dengan merasakan panasnya api neraka.

Ketiga, QS. Maryam [19]: 23

فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, ‘Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.’”

Menurut Wahbah Az-Zuhaili menerangkan bahwa ketika masa kelahiran tiba dan Maryam merasakan sakit menjelang persalinan sehingga memaksanya bersandar pada pohon kurma. Tatkala ia mulai didera rasa sakit menjelang melahirkan, perihnya jauh makanan dan minuman, pedihnya hati karena komentar sinis, dan mencemaskan kemampuannya untuk bersabar. Maka, ia berandai-andai bahwa ia mati sebelum mengalami kejadian ini hingga menjadi tak berarti lagi dilupakan oleh manusia dan tidak disebut-sebut lagi.

Dengan demikian, makna kata nisyan pada QS. Maryam [19]: 23 adalah nisyan yang wajar untuk dilupakan manusia karena menganggap bahwa hidupnya seakan sudah tidak berguna, seperti halnya kegelisahan Maryam ketika melahirkan Nabi Isa.

Keempat, QS. Al-Baqarah [2]: 286

… ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ …

“…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan…”

Baca Juga: Analisis Semantik Makna Kata Huda dan Derivasinya dalam Al-Quran

Menurut Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam kitabnya, Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir menjelaskan bahwa pada ayat ini Allah mengumpulkan antara perkara meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan. Dengan demikian, yang dimaksud nisyan (lupa) pada konteks QS. Al-Baqarah [2]: 286 adalah meninggalkan, yakni meninggalkan suatu pekerjaan karena tabir yang cacat. Sedangkan yang dimaksud salah pada konteks ayat ini adalah mengerjakan suatu pekerjaan karena tabir yang cacat.

Oleh karena itu, dari empat contoh ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang nisyan bahwasanya kata nisyan memiliki beberapa makna. Pertama, karena adanya kesengajaan lupa terhadap perintah Allah. Kedua, kesengajaan manusia akibat tipu daya dunia yang begitu gemerlap. Ketiga, adanya kegelisahan hidup dan menganggap hidupnya sudah tidak lagi berguna sehingga wajar jika dilupakan. Keempat, karena meninggalkan perintah Allah. Wallahu a’lam.

Fina Izzatul Muna
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bisa disapa di @fina.muna_
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Zikir bagi pelajar

Tafsir Tarbawi: Tiga Zikir yang Harus Diamalkan oleh Pelajar

0
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati,” demikianlah sabda...