“Orang yang belum tahu Al-Qur’an terbalik, berarti dia belum terlalu mendalami Al-Qur’an”. Kira-kira begitu ucapan Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang dikutip Lora Ismail al-Ascholy dalam bukunya, The Qur’anything, Sepuluh Surah dari Tuhan.
Ungkapan “Al-Qur’an Terbalik” tentu terdengar unik, bahkan memunculkan pertanyaan. Bagaimana maksud membaca Al-Qur’an secara terbalik? Apakah membaca ayat terakhir terlebih dulu lalu mundur ke ayat pertama? Atau dengan membalik mushaf secara fisik (yang bawah di atas dan yang atas di bawah?)
Dalam bukunya, Lora Ismail menyebutkan bahwa “Al-Qur’an terbalik” bukanlah dipahami sebagai makna harfiah, melainkan hanyalah istilah. Istilah tersebut dalam kajian ulumul Qur’an dikenal sebagai konsep taqdim wa ta’khir. Sebagaimana dawuh Syaikhina Maimoen:
فَكُلُّ أّيَةٍ فِى الْقُرْأّنِ فِيْهِ تَقْدِيْمٌ وَ تَأْخِيْرٌ فَفِيْهِ تَنْبِيْهٌ بِأَنَّ الأَمْرَ حَقِيْقٌ بِالإِهْتِمَامِ فَيَتَدَبَّرْ
Tiap ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat taqdim ta’khir berarti mengandung isyarat bahwa perkara tersebut sangat penting dan layak mendapat perhatian serius, sehingga perlu direnungkan dan dipikirkan secara mendalam (The Qur’anything, Sepuluh Surah dari Tuhan, hlm. 50)
Contoh Ayat-Ayat Taqdim Wa Ta’khir dalam Al-Qur’an
Konsep Taqdim wa ta’khir memang kerap dijumpai dalam Al-Qur’an, di antara contohnya yaitu dalam surah Hud [11] ayat 71:
وَامْرَاَتُه قَاۤىِٕمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنٰهَا بِاِسْحٰقَۙ وَمِنْ وَّرَاۤءِ اِسْحٰقَ يَعْقُوْبَ
Istri Nabi Ibrahim berdiri, lalu tersenyum. Kemudian, Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya‘qub (putra Ishaq).
Namun, maksud dari ayat tersebut menunjukkan bahwa Istri Nabi Ibrahim memperoleh kabar gembira terlebih dahulu, kemudian baru ceria (The Qur’anything, hlm. 48).
Contoh selanjutnya, pada surah al-Taubah [9] ayat 85:
وَلَا تُعْجِبْكَ اَمْوَالُهُمْ وَاَوْلَادُهُمْۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّعَذِّبَهُمْ بِهَا فِى الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ اَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُوْنَ
Janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya dengan (sebab harta dan anak) itu Allah berkehendak untuk menyiksa mereka di dunia dan (membiarkan) nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.
Baca juga: Inilah 3 Keutamaan Surah Al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)
Dalam ayat tersebut juga ada konsep taqdim wa ta’khir. Maksud maknanya yaitu janganlah harta-harta dan anak-anak mereka menarik hatimu pada kehidupan dunia. Tetapi Allah hendak menyiksa mereka di akhirat (al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, hal. 125).
Contoh lagi, pada surah Ali Imran [3] ayat 55:
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang kufur.”
Sebagaimana perkataan Qatadah dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa dalam ayat tersebut terdapat taqdim ta’khir, perkiraannya adalah إِنِّي رَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُتَوَفِّيكَ (Nabi Isa diangkat oleh Allah terlebih dahulu dalam keadaan hidup, dan kematian itu terjadi setelahnya) (Tafsir Ibn Katsir, Jilid 2, hlm. 46). Dari beberapa contoh yang telah disebutkan, dapat dilihat bahwa konsep taqdim wa ta’khir dalam Al-Qur’an seringkali terjadi dikarenakan suatu alasan tertentu.
Pendekatan Taqdim wa Ta’khir Surah Al-Falaq dalam The Qur’anything
Sebelum masuk pembahasan, berikut redaksi surah al-Falaq ayat 1-5 beserta artinya.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ ٥
- Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)
- dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,
- dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
- dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya).
- dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
Lora Ismail dalam bukunya, The Qur’anything, Sepuluh Surah dari Tuhan, menawarkan cara memahami surah Al-Falaq secara terbalik dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Beliau menjelaskan bahwa Surah al-Falaq pada dasarnya menyoroti satu bentuk kejahatan yang luar biasa kejamnya, yaitu hasud (dengki). Ungkapan Min sharri hāsidin idhā hasad menunjukkan bahwa hasud merupakan pusat dari berbagai kejahatan. Dari sifat hasud inilah seseorang terdorong melakukan segala hal demi melampiaskan perasaannya, seperti melakukan santet dan sihir, sebagaimana disebutkan dalam ayat Min sharri al-naffāthāti fi al-’uqad.
Selanjutnya perbuatan-perbuatan tersebut umumnya dilakukan pada malam hari, malam yang gelap dan tersembunyi, (Min sharri ghāsiqin idhā waqab). Pada malam tersebut, semua keburukan akan terjadi, dilakukan oleh makhluk-makhluk Allah yang dikuasai rasa dengki tersebut, (Min sharri mā khalaq).
Baca juga: Penyakit Hati di Era Media Sosial: Hasad dan Terapinya
Melalui pemahaman surah al-Falaq secara terbalik, dapat diketahui bahwa semua kejahatan berasal dari satu titik yang kejam, yaitu hasud atau dengki. Orang yang sudah hasud akan melakukan segala bentuk cara untuk meluapkan kebenciannya. Oleh karena itu, manusia diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah yang Rabbul Falaq, Tuhan yang mengatur dalam segala fase perubahan.
Pemahaman ini menunjukkan bahwa surah Al-Falaq bukan sekedar bacaan perlindungan atau mantra, melainkan juga mengandung ilmu dan mukjizat yang luar biasa tentang perilaku manusia. “Dipahami lurus-lurusan keren, dipahami secara terbalik juga tak kalah keren,” demikian tutur Lora Ismail dalam mengakhiri pembahasan tentang makna Al-Qur’an terbalik.



![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-218x150.jpg)












![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-100x70.jpg)
