Beranda Tafsir Tematik Tafsir Kebangsaan Ketika Allah Mengajarkan Nabi Daud tentang Kepemimpinan

Ketika Allah Mengajarkan Nabi Daud tentang Kepemimpinan

Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah bagi setiap orang. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk bisa mengayomi setiap anggotanya, tidak kalah penting dari kemampuan untuk bersikap adil yang juga sangat diperlukan. Itu semua memengaruhi berhasil atau tidaknya kepemimpinan yang dia jalankan. Adil adalah memperlakukan perkara sesuai tempat, waktu, cara, dan ukurannya secara proporsional; dan lawan dari adil adalah zalim.

Dalam Q.S. Shad [38]: 26, Alah Swt. berfirman, ”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Yusuf: Menjadi Pejabat di Bawah Kepemimpinan Nonmuslim

Tafsir surah Shad ayat 26: peringatan Allah kepada Nabi Daud

Nabi Daud a.s. diberikan amanah untuk menjadi penegak hukum di antara manusia. Di samping itu, beliau juga diberikan tugas sebagai penguasa yang mengelola wilayah tertentu atau dengan kata lain mempunyai kekuasaan politik. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang mengajarkannya akan hikmah dan ilmu pengetahuan. Pada ayat ini Allah mengingatkan Nabi Daud a.s. untuk berlaku adil dan tidak menuruti hawa nafsunya dalam menjalankan kekhalifahannya.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, Q.S. Shad [38]: 26 bermakna “Wahai daud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu sebagai khalifah di kerajaan bumi untuk menjadi hakim atas permasalahan manusia. Maka putuskanlah permasalahan manusia dengan penuh keadilan. Jangan kau ikuti hawa nafsu, yang akan menjauhkanmu dari bukti-bukti kebenaran. Sesungguhnya orang-orang yang menentang perintah Allah dan petunjuk-Nya akan mendapatkan azab yang pedih atas keacuhan dan ketidakpedulian mereka untuk beramal sebagai bekal hari perhitungan di akhirat. Dia Maha Adil dalam memutuskan.”

Lebih lanjut dijelaskan dalam Tafsir as-Sa’di bahwa berlaku adil itu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan ilmu pengetahuaan tentang yang wajib, pengetahuan tentang realita, dan kemampuan menegakkan yang hak. Sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah seperti lebih condong kepada seseorang karena adanya hubungan keluarga, hubungan persahabatan, rasa cinta atau rasa tidak suka kepada yang lain.

Sebagai contoh, biasanya sering dijumpai dalam sebuah permasalahan relasi sosial terdapat dua orang yang berselisih. Seorang pemimpin yang zalim atau mengikuti nafsunya akan condong kepada salah seorang dari keduanya karena adanya hubungan kekerabatan atau pertemanan, atau bisa jadi karena ia berpaling darinya karena adanya permusuhan.

Menurut Quraish Shihab, larangan pemimpin mengikuti hawa nafsu ini logis, karena kekuasaan dapat memperdaya manusia menjadi cinta kepada dunia dan meninggalkan perintah Allah. Oleh karena itu, hawa nafsu dapat menyesatkan seseorang dari jalan Allah yang lurus dan orang-orang yang tersesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat.

Baca juga: Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Ibrah ayat: pemimpin harus adil dan menjauhi hawa nafsu

Ayat ini mengandung pesan kepada ulil amri (para memimpin, siapapun mereka) agar menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan oleh Allah Swt. dan tidak menyimpang darinya. Sebab, sebagaimana telah disebutkan dalam penjelasan ayat di atas, hal itu akan menyesatkan mereka dari jalan-Nya.

Islam telah mengajarkan bahwa untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki tauhid yang kuat. Dikutip dari Gus Dur, makna bertauhid tidak lantas berhenti hanya mengesakan Allah Swt., tetapi nilai ketauhidan adalah bagaimana Tuhan dimaknai sebagai sumber kehidupan dengan menjalankan amanat kekhalifahan di muka bumi serta memperkuat nilai-nilai Ilahiyah yang diwujudkan ke dalam laku kehidupan.

Jika tauhid itu telah tertanam pada diri seorang pemimpin, akan terlahir dalam dirinya konsepsi Ilahiyah, yang akan memandu setiap pemimpin dalam memimpin apa yang dipimpinnya (dalam level apapaun termasuk memimpin dirinya sendiri, keluarga, atau dalam lingkup masyarakat). Konsekuensi logisnya, akan terjadi kedekatan antara pemimpin dengan anggotanya, seperti hubungan saudara, bukan hubungan transaksional sebagaimana hubungan bos dan majikan.

Dengan demikian, seorang pemimpin akan memimpin secara adil, jika ia memiliki perhatian penuh terhadap permasalahan anggotanya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka. Di antara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurusi, dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang.

Baca juga: Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

Rasyida Rifaati Husna
Khadimul ilmi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...