Beranda Tafsir Tematik Kriteria Perempuan Salihah dalam Surah At-Tahrim Ayat 11-12

Kriteria Perempuan Salihah dalam Surah At-Tahrim Ayat 11-12

Pada ayat sebelumya Allah memberi perumpamaan tentang dua orang wanita (al-Mar’ah as-Sayyi’ah) yang durhaka kepada Allah dengan mengkhianati suaminya walaupun suaminya merupakan seorang yang salih dan bahkan juga seorang Nabi utusan Allah. Pada kesempatan ini penulis akan menjelaskan ayat selanjutnya, yang menerangkan tentang kriteria perempuan salihah, tepatnya dua orang wanita (al-Mar’ah as-Shalihah) yang taat kepada Allah dan tidak terpengaruh oleh suaminya. Berikut penjelasannya

Asiyah dan Maryam, dua kriteria perempuan salihah

Pada ayat 11 dijelaskan bahwa Allah memberikan kriteria perempuan salihah yang patut untuk dijadikan role model perempuan Islam pada zaman sekarang. Dalam kriteria dan perumpaan ini terdapat seorang perempuan yang begitu patuh kepada Allah dan tidak termakan rayuan dari suaminya yang kafir. Adapun redaksi ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”

Baca Juga: Memuliakan Perempuan, Memuliakan Peradaban: Intisari Doa Asiyah Binti Muzahim

Dalam kitab Tafsir al-Kasyaf, Zamakshari mengatakan bahwa para ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan imra’ah Fir’aun dalam ayat ini adalah istri Fir’aun yang bernama Asiyah binti Muzahim. Asiyah juga merupakan bibi Nabi Musa As. yang beriman kepada Allah tatkala mendengar berita lemparan tongkat Nabi Musa As. yang turut menghapus semua kesombongan Fir’aun. Mengetahui hal itu,lalu Fir’aun mengazab dan menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih.

Sedangkan dalam kitab Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir Ibnu Ashur dikatakan bahwa istri Fir’aun yang dimaksud dalam ayat ini adalah istri Fir’aun yang Nabi Musa di utus kepadanya untuk berdakwah dan ini terjadi pada Fir’aun yang ketiga (Ramsis III), dan bukanlah istri Fir’aun yang mengangkat Nabi Musa As. sebagai anaknya karena ini terjadi pada raja Ramsis II dan jarak antara dua zaman ini sekitar 80 tahun dan belum ada pengetahuan tentang agama ketika itu sebelum Nabi Musa diutus menjadi Nabi kepada mereka. Bisa jadi istri Fir’aun (Asiyah) ini merupakan keturunan Bani Israil yang dinikahi oleh Fir’aun dan dia beriman dengan risalah yang dibawa Nabi Musa.

Sebagian mufasir lain mengatakan bahwa dia adalah bibi Nabi Musa As. atau Allah memberikan hidayah kepadanya untuk beriman dengan risalah Nabi Musa sebagaimana Allah telah memberikan hidayah kepada lak-laki mukmin dari keluarga Fir’aun.

Setelah mengkisahkan tentang Asiyah, pada ayat terakhir surat ini Allah juga memberikan keteladan Maryam sebagai perempuan yang taat dan patuh terhadap perintah Allah yang termuat dalam Q.S. al-Tahrim [66]:12.

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.”

Baca Juga: Inilah Beberapa Perempuan yang Disinggung dalam Al-Quran

Al-Qurthubi dalam Kitab al-Jami’ li Ahkam min al-Qur’an bahwasanya ayat ini merupakan ‘athaf terhadap ayat sebelumnya. Allah mengumpamakan Maryam sebagai permisalan bagi orang-orang yang beriman. Bagaimana sabarnya dia ketika disakiti, dihina dan dicemooh oleh orang-orang yahudi dengan tuduhan zina ketika mereka mengetahui bahwa Maryam dalam keadaan hamil dan melahirkan anak tanpa suami.

Al-Qurthubi menambahkan bahwa yang dimaksud dengan “allati ahsanat farjaha” dalam ayat ini adalah ia menjaga kemaluannya dari perbuatan keji dan sebagai mufassir juga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan farj di sini adalah jayb atau saku. Sedangkan “fa nafakhna fihi min ruhina” maksudnya adalah malikat Jibril As. yang meniupkan ruh ke kantong atau saku baju Maryam dan bukan ke farj (kemaluannya).

Tipologi perempuan salihah

Dua perempuan yang disebutkan dalam ayat 11 dan 12 pada surah al-Tahrim ini, yakni Asiyah dan Maryam layak disebut sebagai perempuan shalihah karena dalam diri keduanya terdapat ciri-ciri dari perempuan Shaliha, yaitu :

  1. Taat kepada Allah Swt.

Taat kepada Allah berarti patuh dan tunduk kepada semua aturan Allah dalam menjalani kehidupan ini. Ketika seorang perempuan melakukan hal tersebut, maka bisa dikatakan (Al-Mar’ah as-Shalihah) yang selalu menjaga hubungannya dengan sang pencipta. Keadaan ini bisa terlihat bagaimana taatnya Asiyah dan Maryam terhadap perintah Allah. Dalam kondisi apapun mereka selalu ingat dan mengikut- sertakan Allah dalam hal apapun.

Adapun bukti ketaatan Asiyah ini terlihat dari pernyataan ketika minta kepada Allah dibangunkan sebuah rumah di surge untuknya. Tentu saja berani meminta hal tersebut, karena ia yakin dengan ketaatannya kepada Allah selama ini akan mendapatkan balasan yang baik. Begitu dengan Maryam, aktivitasnya sehari-hari yang tidak terlepas dari berdo’a dan beribadah kepada Allah Swt. Dimihrabnya. Ketaatan merupakan ciri utama dari perempuan shalihah dan pembeda dengan perempuan laiinya seperti halnya istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Termasuk dalam ketaatan kepada Allah yaitu tidak menggantikan kedudukanNya dengan suami, terlebih jika si suami maksiat kepada Allah, seperti yang terjadi pada Siti Asiyah.

Baca Juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 19: Perempuan Adalah Sosok Istimewa

  1. Ikhlas dengan ketentuan Allah Swt.

Hal ini tergambar dari keadaan Asiyah ketika menikah dengan Fir’aun. Ia yang berasal dari keluarga yang shalih dan taat terhadap perintah Allah menerima dengan ikhlas ketika Fir’aun memaksanya untuk menikahinya karena semua itu sudah ketentuan dari Allah. Begitu juga Maryam, ketika Allah berkehendak meniupkan ruh dan menciptakan janin dalam perutnya yang didatangi oleh malaikat Jibril, ia menerima dengan ikhlas walaupun banyak ejekan dan cacian dari orang-orang sekitar.

  1. Memiliki kesabaran yang tinggi

Hal ini terlihat ketika Asiyah sabar ketika disiksa oleh Fir’aun yang merupakan suaminya sendiri tatkala mengetahui bahwa tidak mempercayai Fir’aun sebagai Tuhannya. Begitu juga Maryam yang sabar menghadapi hinaan dan cemooh dari kaumnya bahkan dituduh zina ketika mereka mengetahui bahwa Maryam hamil.

  1. Menjaga kehormatan

Hal ini terlihat dari kisah Maryam yang nyata-nyata disebutkan dalam teks ayat “allati ahsanaf farjaha” yang menjadi pelajaran bagi seluruh kaum perempuan agar menjaga kehormatannya. Adapun bentuk aplikasi hal tersebut dengan menutup aurat, menjaga pandangan, menjaga kemaluan, dan tidak menampakkan perhiasan yang berlebihan.

Demikian penjelasan mengenai Role model, tipologi dan kriteria perempuan salihah dalam surah At-Tahrim [66]:11-12. Semoga kita bisa meneladaninya. Amin

Wallahu a’lam Bisshowab

Muhammad Siroj Judin
Santri di PP. Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25

0
Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Kedua mengenai respons Allah SWT mengenai tidakan...