Beranda Khazanah Al-Quran Dialog Manna dan Salwa: Makanan Bersejarah  yang Diabadikan dalam Alkitab dan Al-Qur’an

Manna dan Salwa: Makanan Bersejarah  yang Diabadikan dalam Alkitab dan Al-Qur’an

Manna dan Salwa merupakan salah satu makanan bersejarah yang termaktub dalam kitab suci agama Ibrahim (Abrahamic Religions); Alkitab dan Al-Qur’an. Diperuntukkan gratis-bin-halal kepada umat Nabi Musa, yaitu Bani Israel selama perjalanan mereka di padang pasir kurang lebih selama empat puluh tahun.

Setelah sebelumnya Musa berhasil membawa kaumnya di bawah pengaruh Fir’aun yang teramat otoriter, ia pun melakukan perjalanan ke Gunung Sinai untuk menghadap kepada Tuhannya, sebagaimana apa yang sudah diwahyukan sebelumnya.

Dalam Alkitab Ibrani, manna digambarkan dua kali: sekali dalam Keluaran 16: 1-36 dan sekali dalam Bilangan 11: 1-9. Dari Kitab Keluaran, bisa kita temukan manna digambarkan sebagai benda halus seperti serpihan atau embun. Sementara dalam Kitab Bilangan, manna digambarkan sebagai “bdellium” (tumbuhan yang tumbuh di Etiopia, Eritrea dan Sahara Afrika)- yang oleh orang-orang Israel digiling dan ditumbuk menjadi kue, kemudian dipanggang dengan menggunakan minyak yang menghasilkan kelezatan tersendiri.

Baca Juga: “Unta Masuk Lubang Jarum” dalam Tradisi Yudaisme dan Kristen

Disebutkan pula bahwa turunnya manna ini pada waktu malam hari. Sedangkan istilah “Salwa” dalam Alkitab tidak ditemukan. Bila dibandingkan dengan al-Qur’an, makna salwa bisa diartikan sebagai “puyuh”, dan Alkitab menyebut sandingan “manna” dalam arti lain sebagai “puyuh”. Hal ini terungkap dalam Kitab Bilangan 11: 4-11:35

Apabila menelusuri seluruh ayat al-Qur’an, lafadz manna dan salwa hanya ditemukan 3 ayat, diantaranya; Q.S. al-Baqarah [2]: 57, al-A’raf [7]: 160, dan Thaha [20]: 80.  

وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡغَمَامَ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ  ٥٧

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [Al Baqarah:57]

Al-Raghib al-Isfahani dalam Mu’jam Mufrodat Alfadz Al-Qur’an memaknai al-manna adalah sesuatu seperti hujan gerimis terdapat rasa manis yang jatuh dari atas pohon, dan salwa adalah burung. Sedangkan Tanthawi Jauhari dalam Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim menafsirkan al-manna adalah “al-taranjin” yang jatuhnya seperti hujan atau embun, dan kemunculannya mulai pagi sampai sore, dan salwa adalah burung puyuh.

Agaknya, dari dua penafsiran tersebut secara bahasa hampir sama, al-manna berarti sesuatu yang manis, proses penurunannya dari langit melalui perantara awan yang kemudian terbentuknya makanan tersebut dari air hujan. Sedangkan salwa adalah burung puyuh. Peristiwa semacam itu dijelaskan pula oleh Thantawi Jauhari, bahwa di pagi hari, embun saling berjatuhan mengisi tempat, dan Tuhan Musa berkata: “Aku telah memberi kalian roti untuk kalian makan, ambillah sekadarnya untuk dimakan.” Makanan tersebut digambarkan roti dalam istilah “al-manna” dan burung puyuh sebagai padanan kata “al-salwa”.

Baca Juga: Pemahaman Anak Allah dalam Perspektif Alkitab dan Al-Qur’an

Dalam Perjanjian Lama juga disebutkan kisah yang senada dengan itu; “Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu” (Keluaran 16:13). “Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi” (Keluaran 16:14). “Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu” (Keluaran 16:15). “Beginilah perintah Tuhan: pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa” (Keluaran 16:16).

Adapun kandungan kesehatan dari manna dan salwa dijelaskan oleh Zaghlul Najjar dalam tafsirnya; Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur’an Al-Karim, bahwa manna mempunyai kandungan karbohidrat nabati yang terdapat rasa manis, sedangkan salwa mempunyai kandungan protein hewani, kedua makanan tersebut baik untuk tubuh manusia.

Jika mengamati bentuk salwa, tidak ada perbedaan pendapat mengenai arti aslinya, yakni burung puyuh, dan kandungannya jelas tertera termasuk sumber protein. Sementara manna, ada yang mengatakan bahwa manna adalah cendawan (jamur), ada juga yang mengatakan lumut kerak. Wallahu a’lam.

Achmad Fauzan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kesenjangan sosial

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang...