Beranda Khazanah Al-Quran Dialog Melacak Zulkarnain: Koresh dan Agama Kuno (Bag. 2)

Melacak Zulkarnain: Koresh dan Agama Kuno (Bag. 2)

Zulkarnain bukanlah seorang penyembah berhala. Siapa saja yang membaca kisahnya dalam surah Al-Kahfi, meski sepintas lalu, kesan kuat bahwa Zulkarnain adalah ahli tauhid tampak begitu gamblang. Sebaliknya, sejarawan sepakat Aleksander merupakan penyembah banyak Tuhan. Bahkan dia sendiri di suatu waktu mengaku titisan dewa.

Baca Juga: Melacak Zulkarnain: Tafsir, Israiliyyat, dan Sejarah (Bag. 1)

Melacak Zulkarnain; mencari tahu tentang Koresh

Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan Koresh, apa agama yang dianut olehnya? Jawaban instan tidak ada, tetapi kita dapat mencoba meletakkan kepingan puzzle yang terpencar.

Agama yang dianut Koresh bagi sejarawan barat tidak keluar dari dua kemungkinan, pertama, Koresh seorang pemeluk agama Zoroastrianisme. Kedua, Koresh menganut agama Babilonia, Assyria, atau Sumeria, yakni menyembah “tuhan kuno” Marduk.

Pertama, Zoroastrianisme. Memang, di zaman Rasulullah, kaum Majusi itu dekat dengan agama musyrikin Makkah. Mereka menyembah api dan menyembah dua Tuhan; Ahura Mazda dan Ahriman, tetapi apakah ajaran awal agama Zoroastrianisme demikian?

Data yang saya telusuri dan tuangkan ke dalam sebuah buku berujung pada kesimpulan; ajaran awal Zoroastrianisme adalah monoteisme. Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi di kalangan peneliti agama, Zoroastrianisme dipandang sebagai agama monoteisme pertama.

Seiring berjalannya waktu, agama itu mengalami degradasi melalui hal-hal baru yang diada-adakan (muhdats). Umat Islam meyakini, pola ini terjadi juga pada agama Yahudi dan Nasrani. Karenanya untuk mengembalikan kepada kemurniannya, Allah mengutus para Nabi dan Rasul.

Saya tidak mengatakan Zoroastrianisme adalah agama tauhid, bukan itu. Namun, indikasi bahwa Zoroastrianisme mengajarkan monoteisme begitu kuat dan masyhur di kalangan peneliti agama. Inklusivitas Monoteisme tidaklah sama dengan eksklusivitas tauhid. Namun secara umum, monoteisme jauh lebih dekat dengan tauhid ketimbang paganisme.

Kedua, Marduk. Koresh memang disebut menyembah “tuhan kuno” Marduk. Anggapan bahwa Koresh adalah penganut politeisme adalah karena Koresh menyebut nama Marduk sekaligus tuhan-tuhan yang lain. Namun demikian, para peneliti agama sepakat bahwa ternyata Marduk setidaknya memiliki 50 nama. Dan nama-nama itu sebenarnya merupakan atribut bagi Marduk itu. Baru kemudian hari, atribut-atribut itu dijadikan tuhan-tuhan sendiri.

Pola ini terjadi di banyak peradaban, termasuk di Makkah pada zaman jahiliah. At-Thabari mengatakan saat menafsirkan Surah An-Najm ayat 19, musyrikin Makkah memberi nama berhala-berhala mereka dengan Nama-Nama Allah. Misalnya, Al ‘Uzza diambil dari Sifat Allah Al ‘Aziz, berhala Al Latt dari Allah, begitu juga Manat.

Pemisahan atribut yang kemudian dijadikan tuhan-tuhan baru ini juga merupakan pandangan peneliti bernama Friedrich Delitzsch dalam publikasinya berjudul Babel and Bible (hlm, 144 dst) yang mengatakan bahwa apa yang mulanya dipahami sebagai atribut-atribut tuhan kemudian berubah menjadi entitas sembahan-sembahan tersendiri. Juga berdasarkan sebuah tablet yang diteliti oleh T.G. Pinches, sesembahan tertinggi di tempat pemujaan bangsa Babilonia hanya ditujukan ke satu tuhan, yakni Marduk. Namun demikian Marduk memiliki banyak nama atau atribut.

Nama-nama Marduk menurut Delitzsch adalah: Ninib, sang pemilik kekuatan; Nergal/Zamama, tuhan perang; Bel, “Pemilik kekuasaan”; Nebo, tuhannya para utusan; Sin, tuhan cahaya di kala malam; Shamash, tuhan keadilan; Addu, tuhan hujan.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88

Namun demikian, tidak ada cukup bukti bahwa Koresh menyembah sesembahan-sesembahan yang banyak. Tidak juga terdapat bukti bahwa Koresh menjadi penganut Zoroastrianisme atau Majusi kecuali raja-raja Achaemenid sepeninggalnya, sebagaimana dikatakan Hamad Subani dalam bukunya The Secret History of Iran, “Sejauh ini tidak ditemukan adanya bukti jelas yang mengindikasikan bahwa Koresh menganut agama tertentu.”

Kemudian Pierre Briant dalam karyanya From Koresh to Alexander, A History of Persian Empire (hlm, 84) juga menulis: it seems quite reckless to try to reconstruct what the religion of Koresh might have been. “Tampaknya merupakan kecerobohan untuk mencoba merekonstruksi perihal agama apa yang Koresh anut”.

Apabila Koresh menganut Zoroastrianisme sekalipun, maka di awal-awal era Achaemenid, Ahura Mazda tidak pernah digambarkan atau diserupakan dengan apapun, baik itu patung, gambar, atau rupa-rupa lainnya. Munculnya rupa-rupa yang yang menggambarkan Ahura Mazda terjadi di provinsi-provinsi barat wilayah kekuasaan Achaemenid, bukan di jantung Achaemenid itu sendiri.

Agama Zoroastrianisme sendiri bukanlah agama yang baru muncul di zaman Koresh hidup. Sebaliknya, ia merupakan agama yang telah ada jauh sebelum era Koresh. Hal ini dapat diketahui melalui catatan sejarawan Yunani Herodotus (485-420 SM) yang mengatakan bahwa agama orang-orang Persia adalah agama kuno. Herodotus menuliskannya di abad 5 SM, dan pembaca dapat bayangkan bahwa di zaman itu penyembahan Ahura Mazda sudah dikatakan “kuno”. Karenanya Majusi tidak mewakili ajaran asal Zoroastrianisme itu sendiri.

Pandangan bahwa Zoroastrianisme merupakan agama monoteistik, setidaknya sebelum mengalami modifikasi sebagaimana terjadi pada agama-agama lain, didapat dari catatan Herodotus yang mengatakan bahwa bangsa Persia “tidak memiliki gambar-gambar akan tuhan-tuhan, tidak ada kuil-kuil, dan altar.”

Kita tidak perlu menetapkan bahwa Koresh merupakan ahli tauhid. Bukti untuk itu tidak memadai. Sementara menetapkan akidah seseorang tidak dapat dicapai dengan dugaan belaka. Tetapi juga kita tidak dapat memutlakkan bahwa Koresh merupakan penganut pagan. Di kalangan sejarawan masih terjadi perdebatan mengenai apa agama Koresh.

Setidaknya hal itu menunjukkan terbukanya sejumlah kemungkinan. Apabila Koresh menganut apa yang Aleksander anut, maka pembahasan kita tidak perlu dilanjutkan lagi sebab dia jelas menyelisihi inti kisah Zulkarnain dalam Alquran bahwa Allah memberi keumuliaan dan keutamaan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Selain itu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Koresh atau Koresh merupakan figur yang dicintai kaum Yahudi. Padahal ia seorang goy (non-Yahudi). Apakah bibel sengaja menyanjung seorang penyembah berhala? Lebih dari 20 kali namanya muncul di dalam bibel Yahudi dan keseluruhannya protagonis. Di antaranya sebagai berikut:

Dalam Ezra 1:1 disebutkan Tuhan menggerakkan hatinya untuk menggenapkan nubuat Nabi Yeremia; Dalam Ezra 1:2 disebutkan Tuhan memerintahkan Koresh membangun kembali Bet Mikdash (Bait al Maqdis) di Al Quds; Dalam 2 Tawarikh 36:23 disebutkan Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepada Koresh oleh Tuhan; Dalam Yesaya 45:1 disebutkan Koresh merupakan orang yang Tuhan urapi; Dalam Yesaya 44:38 disebutkan, Koresh adalah gembala-Nya.

Secara historis, kitab Ezra menurut cendekiawan bibel ditulis di abad 5 hingga 4 SM. Kitab Yesaya ditulis di abad 6 SM. Kitab Tawarikh ditulis pada abad 4 SM. Pembaca budiman, Koresh sendiri hidup di abad 6 SM., sebuah masa yang tidak jauh dari penulisan kitab-kitab di dalam Tanakh di atas.

Di zaman itu masih ada Nabi yang diutus di tengah Bani Israil. Bahkan agama Islam saat itu diusung oleh Bani Israil. Nabi Isa baru diutus lima hingga enam abad kemudian, dan Nabi Muhammad baru diutus sekitar sebelas abad setelahnya.

Tanakh sangat tegas terhadap penyembahan berhala. Larangan menyembahan berhala ada dalam poin pertama 10 Perintah Tuhan. Banyak sekali larangan dan celaan terhadap berhala, para penyembahnya, dan praktek penyembahan kepadanya di dalam Tanakh.

Baca Juga: “Plagiarisme” Alquran (Bag. 4-Habis): dari Dzulqarnain hingga Salman

Apa yang hendak saya sampaikan adalah, agaknya mustahil apabila para penulis Tanakh di masa yang masih terdapat sejumlah Nabi di tengah mereka, memasukkan figur penyembah berhala. Terlepas dari banyak perbuatan kaum Yahudi yang tidak terpuji, sebagaimana kita dapati dalam banyak ayat Alquran, secara umum Yudaisme adalah agama monoteisme murni. Dahulu mereka adalah kaum muslimin. Para Nabi mereka adalah Nabi kaum muslimin juga. Kitab yang Allah turunkan untuk mereka juga wajib kita imani, dengan keimanan yang global.

Sejauh ini, Koresh masih layak dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat sosok Zulkarnain. Selanjutnya, kita akan menelusuri Kaukasus dan sejumlah qorinah historis dari israiliyat. Insyaallah. Wallahu A’lam.

Wisnu Tanggap Prabowo
Dosen STEI Tazkia, Pengajar LBPP LIA Pajajaran, Trainer Pusdiklat Mahkamah Agung, dan Peneliti IHKAM
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...