Beranda Tafsir Tematik Maut Tidak Selalu Kematian, Kenali Lima Makna Maut dalam Al-Quran

Maut Tidak Selalu Kematian, Kenali Lima Makna Maut dalam Al-Quran

Setiap sesuatu yang hidup di muka bumi ini pasti akan bertemu dengan kematian. Kematian dalam Al-Quran disimbolkan dengan kata maut. Di dalam Al-Quran, kata maut terulang sebanyak 161 dengan berbagai derivasinya. Adapun Maut yang dipahami oleh kebanyakan orang adalah sebuah peristiwa berpisahnya roh dari jasad seseorang. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa makna maut dalam Al-Quran?

Fakhruddin ar-Razi dalam kitabnya Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa kematian yang dialami manusia terjadi dua kali. Pertama, kematian yang dialami manusia sebelum ditiupkannya ruh yaitu ketika dalam masih kandungan. Kedua, kematian yang dialami manusia ketika menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya yaitu ketika manusia meninggalkan dunia yang fana ini.

Maut secara bahasa merupakan mashdar dari kata mata-yamutu-mautan yang mempunyai arti mati. Dalam bahasa Arab, maut juga dapat berarti diam, tak bergerak, menjadi dingin, rusak, hilang, sesuatu yang tidak memiliki ruh, dan kosong dari bangunan penduduk.

Menurut Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisan al-Arab menjelaskan bahwa mati adalah lawan kata dari hidup, keduanya adalah istilah yang saling berlawanan satu sama lain seperti halnya siang dan malam, gelap dan terang, dingin dan panas.

Lima makna maut dalam Al-Quran

Di sini kita akan menemukan bahwa kata maut dalam Al-Quran tidak selalu berarti kematian. Pertama, Maut berarti mati-nya makhluk hidup, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sebagaimana firman-Nya:

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

Artinya: Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (Q.S Ar-Ruum: 19)

Menurut Wahbah Az-Zuhaili, ayat di atas merupakan sebuah tanda bahwa Allahlah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, sebagaimana menjadikan manusia dari mani, dan tumbuhan yang mati di bumi, Allahlah yang menjadikan yang mati menjadi hidup. Sebagaimana mengeluarkan mani dari manusia, telur dari burung, Allahlah yang menurunkan hujan dari langit dan menghidupkan tanah setelah mati dan kering. Dengan menghidupkan yang demikian wahai manusia, kalian juga akan dibangkitkan dari kubur-kubur kalian untuk dihisab dan dibalas.

Baca Juga: Tafsir Surat Az-Zumar Ayat 42: Dua Jenis Kematian menurut Al-Quran

Sederhananya, Kematian yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah kematian yang bersifat sementara disebabkan hilangnya kekuatan namiyah, kemudian atas anugerah dan rahmat dari Allah Swt dapat hidup kembali.

Kedua, Maut berarti hilangnya perasaan. Sebagaimana firman-Nya:

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Artinya: Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan. (Q.S. Maryam: 23).

Menurut Quraish Shihab, rasa sakit ketika akan melahirkan memaksa Maryam untuk bersandar dan menutup dirinya pada pangkal pohon kurma. Pada saat itu, ia membayangkan kemungkinan sikap ingkar keluarganya terhadap kelahiran anaknya kelak. Bahkan, ia berharap cepat meninggal dunia agar kejadian ini tidak lagi berarti dan cepat dilupakan.

Keadaan yang dialami oleh Maryam terjadi karena ia merasa lemah ketika akan melahirkan dan merasa tidak siap untuk menghadapi ejekan dari orang lain, sehingga ia berpikir bahwa mati adalah satu-satunya opsi terbaik pada waktu itu.

Ketiga, Maut berarti hilangnya akal, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (Q.S An-Naml: 80).

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat di atas adalah kamu tidak dapat memperdengarkan kepada mereka sesuatu pun yang bermanfaat bagi mereka. Demikian pula halnya orang-orang kafir (di masamu) pada hati mereka terdapat penutup dan pada telinga mereka terdapat penutup kekafiran. Sederhananya, maut yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk mendengarkan seruan dari Tuhan.

Keempat, Maut berarti kesedihan yang mendalam/rasa khawatir, sebagaimana firman-Nya:

 يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ ۖ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

Artinya: diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. (Q.S Ibrahim: 17).

Menurut Quraish Shihab, maksud ayat di atas adalah ia meminumnya dengan susah payah. Seolah-olah ia meneguknya seteguk demi seteguk, tapi tidak juga bisa menelannya, karena wujudnya yang sangat kotor dan menjijikkan. Penghuni neraka itu disiksa dengan siksaan teramat berat yang semestinya membuat ia mati dan bebas dari penderitaan. Tetapi kenyataannya ia tetap hidup untuk menerima siksa yang lebih dahsyat.

Ayat di atas secara tidak langsung  menggambarkan tentang adanya adzab bagi orang kafir yaitu berupa  siksa yang sangat menyakitkan seperti datangnya kematian. Karena kematian bagi mereka adalah musibah serta merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan dan menakutkan.

Kelima, Maut berarti tidur, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ ٱلَّذِي يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيۡلِ وَيَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُم بِٱلنَّهَارِ ثُمَّ يَبۡعَثُكُمۡ فِيهِ لِيُقۡضَىٰٓ أَجَلٞ مُّسَمّٗىۖ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S al-An’am: 60).

Menurut Tafsir Kemenag, ayat di atas menjelaskan tentang kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya, yaitu Dialah yang menjadikan malam hari untuk beristirahat dan menghilangkan kelelahannya karena berusaha di siang hari untuk mencari nafkah dan berjuang menegakkan agama-Nya. Proses itu tidak diketahui oleh manusia.

Baca Juga: Surat Al-Ankabut Ayat 2: Agar Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah Swt

Selain itu, tidur juga dapat dikatakan sebagai kematian ringan sebagaimana Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:

Pada tiap orang terdapat seorang malaikat, apabila orang itu tidur, maka malaikatnya mengambil rohnya dan mengembalikannya lagi kepadanya. Dan jika Allah memerintahkan agar nyawanya dicabut, maka malaikat itu mencabut nyawanya, dan jika tidak ada perintah, maka malaikat itu mengembalikannya kepada orang itu.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kata maut dalam Al-Quran tidak selalu berarti mati atau akhir hidup dari seseorang. Semoga kita semua bisa merenunginya. Wallahu A’lam.

Azkiya Khikmatiar
Alumni Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Konsentrasi Studi Al-Quran dan Hadis
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...