Beranda Tafsir Tematik Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat

Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat

Secara psikologis hampir semua orang di dunia ini mengalami goncangan psikis setelah bencana dahsyat yang menghantam berbagai sektor akibat pandemi ditambah lagi dengan krisis global yang tengah melanda seluruh dunia. Resiliensi sangat berperan dalam menghadapi situasi ini, karena kalau tidak kemungkinan seseorang akan sulit untuk bertahan dalam menghadapi situasi yang menekan.

Menjadi resilien tentunya memerlukan cara dan proses. Di antaranya dengan religious atau spiritual coping, dalam spiritualitas Islam dapat diupayakan dengan melatih kesabaran diri serta memelihara ibadah shalat.

Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai media untuk mendapatkan pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesengsaraan hidup. Terekam dalam penggalan QS. alBaqarah [2]: ayat 153, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٣

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah [2]: 153)

Baca Juga: Fenomena Zakat Profesi dan Nasihat Berinfak Q.S. Albaqarah: 43

Kedua pondasi resiliensi tersebut saling terkait, jika mampu dikerjakan secara maksimal dalam diri seseorang, maka akan membentuk resiliensi diri yang kokoh atau kemampuan individu untuk bangkit dari penderitaan hidup.

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 153

Dalam penafsirannya yang singkat, Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah Swt memberitahu sarana yang paling baik untuk menanggung segala macam cobaan, ujian, dan kesukaran hidup manusia ialah dengan sikap sabar dan banyak shalat.

Menurut Hamka perintah taat melakukan ibadah dan sabar menghadapi cobaan serta mengerjakan shalat dikhususkan penyebutannya disebabkan berat dan berulang-ulang. Dan maksud ayat “sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” artinya selalu melimpahkan pertolongan-Nya kepada mereka. Segala kesukaran dan cobaan hidup akan menjadi ringan, karena Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar dan menjaga shalatnya. Dia akan menolong, menguatkan dan memenangkan mereka.

Lebih lanjut Hamka menerangkan bahwa urusan dunia ini adalah kecil belaka. Kesulitan yang dihadapi oleh seseorang adalah persoalan kecil bagi Allah yang Maha Besar, maka seharusnya kita juga memandangnya kecil. Jika ketenangan telah diperteguh dengan shalat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan shalat, keduanya mesti sejalan. Apabila kedua resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasa bahwa kian lama hijab (dinding) kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa kita terlepas dari belenggu krisis hidup itu sebab Allah telah berdaulat dalam hati kita. Di sinilah terasa ujung ayat, “Sesungguhnya, Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.” Apa yang kita takutkan kepada hidup ini kalau Allah telah menjamin bahwa Dia ada bersama kita?

Imam Jalaluddin dalam Tafsir Jalalain menerangkan bahwa sabar bermakna menahan diri dari segala yang tidak diridhai. Karena di balik hal-hal yang tak diperkenankan itu adalah kerugian. Orang yang tak sabar pada ujungnya sering diterpa penyesalan dan beragam situasi tak enak.

Bersabar dalam kisaran terminologi Islam melibatkan keyakinan akan petunjuk dan pertolongan Allah. Memerankan spiritualitas dalam upaya menghimpun kekuatan jiwa untuk melawan ratapan dan segala emosi dangkal. Yakin atas arahan Allah akan menghadirkan ketenangan, berangsur membentuk cara berpikir positif yang membantu meningkatkan kapasitas dalam mengatasi masalah.

Sedangkan shalat menurut Sayyid Quthb adalah hubungan dan pertemuan antara hamba dengan Rabbnya. Hubungan yang dapat menguatkan hati, hubungan yang dirasakan oleh ruh, hubungan yang dengannya jiwa mendapat bekal di dalam menghadapi realitas kehidupan dunia.

Perintah untuk memohon pertolongan dengan shalat adalah karena ia merupakan induk segala ibadah dan sarana munajat untuk mendekat kepada Allah tempat berlindung orang-orang yang takut, jalan bagi lenyapnya kesusahan orang-orang yang malang, dan faktor ketenangan jiwa kaum beriman.

Baca Juga: Tafsir Surah Attahrim Ayat 8: Perintah Tobat tidak Hanya untuk Ahli Maksiat

Oleh karena itu shalat adalah pilar pelipur cemas. Rasulullah saw apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera melakukan shalat, sedang beliau adalah orang yang sangat erat hubungannya dengan Allah Swt. Sumber yang memancar ini senantiasa dapat diperoleh bagi setiap mukmin yang menginginkan bekal di jalan, ingin minum ketika dahaga, dan menginginkan pertolongan ketika bantuan terputus.

Hubungan Antara Sabar dan Shalat Terhadap Resiliensi Diri

Dalam perilaku sabar dan shalat terhimpun energi penguat diri yang memberikan pencerahan dan formula kebijaksanaan saat dirundung problematika kehidupan. Sejalan dengan itu beberapa penelitian menuturkan bahwa orang yang berada dalam situasi krisis, membutuhkan keyakinan dan praktek spiritual untuk mengembangkan resiliensi dalam menghadapi penderitaan. Keyakinan spiritual memengaruhi cara orang dalam menghadapi kesengsaraan, penderitaan, dan melihat permasalahan serta memaknainya.

Dalam sabar tersimpan ketekunan, usaha berdaya tahan, dan selanjutnya mencoba mencari jalan keluar. Karenanya sabar adalah faktor mental yang paling kuat pengaruhnya terhadap jiwa seseorang. sementara bahwa hakikat shalat adalah doa yang merupakan cerminan resiliensi terkuat bagi individu mukmin. Doa merupakan obat dan senjata terkuat bagi mukmin. Doa dibutuhkan dalam kondisi apa pun, apalagi saat situasi sulit, seperti dalam wabah dan krisis, doa manjadi sarana untuk meningkatkan optimisme hidup. Wallahu a’lam.[]

Rasyida Rifaati Husna
Khadimul ilmi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tradisi khataman Alquran

Tradisi Membaca Awal Alquran saat Khataman

0
Salah satu kebiasaan yang berkembang di masyarakat saat melakukan khataman Alquran adalah membaca Surah Alfatihah dan beberapa ayat di awal Surah Albaqarah, seusai membaca...