Beranda Tafsir Al Quran Mempertanyakan Keabsahan Faydur Rahman Sebagai Pelopor Tafsir Berbahasa Jawa

Mempertanyakan Keabsahan Faydur Rahman Sebagai Pelopor Tafsir Berbahasa Jawa

Kitab tafsir yang ditulis oleh Kiai Shaleh Darat ini memiliki nama lengkap Faydu ar-Rahman fi Tarjmah Tafsir Kalam al-Mlik ad-Dayyan. Sejauh ini, tafsir Faydur Rahman diakui sebagai tafsir tertua di Jawa yang ditulis dengan bahasa Jawa. Dengan kata lain, tafsir ini merupakan produk asli Nusantara sebagaimana yang dikatakan Muhammad Rafi. Begitu juga, seperti yang ditulis Taufik Hakim, bahwa Faydur Rahman merupakan pelopor penerjemahan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Kitab ini ditulis pada malam kamis, 17 Shafar 1312H/20 Agustus 1894 M (Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M, hlm. 160-61).

Tetapi, dengan adanya fakta empiris tersebut, muncul sebuah pertanyaan. Benarkah Faydur     Rahman merupakan tafsir pertama yang ditulis dengan Bahasa Jawa? Pertanyaan tersebut patut diajukan karena ada banyak sebab yang memungkinkan Faydur Rahman bukanlah pelopor penulisan tafsir dengan Bahasa Jawa. Berikut ini sebab-sebab yang perlu menjadi pertimbangan.

Baca juga: Benarkah Mushaf Rotterdam Tertua Se-Nusantara? Ini Data Pembandingnya

Islam masuk ke Jawa sejak abad 12. Melalui tahun tersebut, kemudian Islam berkembang dengan berbagai cara seperti, budaya, sufi, politik maupun perdagangan. Di bidang politik, kerajaan Islam di Jawa juga telah lahir jauh sebelum masa  hidup KH. Sholeh Darat.  Dalam catatan Sunyoto, kerajaan Lumajanglah yang merupakan kerajaan Islam tertua di Jawa, yang berdiri pada akhir Abad ke 12M.(Atlas Walisongo, hlm. 123) Atau kerajaan Demak, sebagai kerajaan tertua di Jawa.  Setidaknya ditulis demikian dalam catatan.

Melalui kerajaan, Islam bukan semata berkembang dari segi kuantitas maupun wilayah teritorial. Tetapi juga turut menyebarkan pengaruh melalui pendidikan berupa pesantren. Sebut saja ponpes al-Kahfi yang terletak di Kecamatan Somolangu, Kebumen, yang berdiri sejak tahun 1475 M. Dengan tahun tersebut, ponpes Al-Kahfi merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa.

Selain ponpes Al-Kahfi, Sunyoto mencatat sejumlah walisongo yang menyebarkan agama Islam pada masa lampau dan mendirikan pesantren, seperti Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Gunung Jati. Ulama yang mendirikan pesantren pada waktu bersamaan yakni Syaikh Datuk Khafi (Syeikh Nurjati) dan Syaikh Hasanuddin Karawang. Berdasarkan catatan Sunyoto, para penyebar Islam turut mendirikan pesantren sebagai asimilasi pendidikan Hindu Buddha di Jawa. .(Atlas Walisongo, hlm. 422)

Baca juga: R.A Kartini Sosok Penggerak Lahirnya Kitab Tafsir Faid ar-Rahman Karya Kyai Soleh Darat

Pesantren mulanya dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengadopsi pendidikan Hindu. Untuk itu, salah satu pendapat mengatakan bahwa istilah pesantren berasal dari istilah India, cantrika, atau shastri.( Pesantren dan Pengelolaannya, hlm. 4) Melalui pesantren, Islam turut mengadopsi falsafah pendidikan Hindu-Buddha sembari mengenalkan budaya yang baru.

Dalam penggunaan aksara, baik kerajaan Islam maupun pesantren masa lampau, pada ulama menggunakan Aksara Pegon. Manuskrip tafsir tertua di Jawa yang menjadi koleksi pribadi Fathurrahman menunjukkan tanggal 17 Juli 1624 M.(hmmlcloud.org) Pemaknaan menggunakan sistematika gandhul dengan Aksara Pegon. Begitu juga dengan manuskrip yang diteliti Ali Romdhoni, diyakini merupakan peninggalan dari Syeh Anom. Manuskrip yang berisi ajaran tauhid, sejarah Islam, serta silsilah raja Demak tersebut ditulis pada kisaran abad 18 hingga 19.

Selaras dengan bukti dua manuskrip tersebut, Gusmian dalam penelitiannya mengutip tulisan Marsden bahwa penggunaan Aksara Jawa di daerah Melayu-Jawa berkembang seiring menguatnya pengaruh Islam di wilayah tersebut. Beberapa catatan menyebutkan penyebaran Islam di Wilayah Melayu telah dimulai pada abad 11 M( Tafsir Al-Qur’an Bahasa Jawa dari Genealogi, Kepentingan, Basis Pembaca, Hingga Hermeneutika, hlm. 14)

Baca juga: Tafsir Nusantara: Mengenal Tafsir Fatihah Karya Raden Haji Hadjid

Melihat data historis tersebut, sangat dimungkinkan tradisi tulis menulis tafsir juga turut berkembang seiring menguatnya pengaruh Islam yang ada di Jawa, baik secara kuantitas maupun politis. Beberapa faktor yang dapat diajukan menjadi sebab belum ditemukannya Tafsir Jawa lebih tua dari kitab Faydur Rahman.

Terakhir, faktor keterlibatan penjajah. Jika catatan-catatan di atas menjelaskan fakta sejarah internal Indonesia, faktor terakhir ini berasal dari luar Indonesia. Eksistensi penjajah sangat memengaruhi sejarah Indonesia pada masa lampau. Sebagai contoh, pendudukan penjajah seperti Belanda, Inggris, bukan semata mengambil keuntungan berupa rempah rempah maupun monopoli perdagangan. Tahun 1811 M, Inggris berhasil menguasai Yogyakarta yang turut mengangkut ribuan manuskrip Keraton Yogyakarta. Di perpustakaan universitas Leiden sendiri, tersimpan setidaknya 26.000 manuskrip kuno dari Indonesia.

Melalui fakta sejarah tersebut, benarkan kitab Faydur Rahman menjadi pionir penulisan Tafsir Jawa? Ataukah hanya sebatas bagian dari kepingan puzzle peradaban Islam di Jawa masa lampau yang hilang?

Muhammad Wildan Syaiful Amri Wibowo
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

qiraat al-quran

Mimpi Imam Hamzah dan Kemuliaan Penjaga Alquran

0
Salah satu di antara imam qiraah yang mutawatir adalah Imam Hamzah. Beliau lahir di Kuffah pada tahun 80 H. Bernama lengkap Hamzah bin Habib...