Beranda Tafsir Tematik Mengenal Dua Kosakata Sakit dalam Alquran: Marid dan Saqim

Mengenal Dua Kosakata Sakit dalam Alquran: Marid dan Saqim

Allah Swt. menciptakan penyakit beserta penyembuhnya, baik itu berupa sakit fisik dan non fisik. Alquran mengungkapkan makna sakit dengan kata marid dan kadangkala dengan kata saqim. Lantas apa perbedaan makna di antara keduanya? Tulisan ini hendak menguraikan perbedaan dua kata mirip tersebut.

Berdasarkan kitab Mu’jam Al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an, Alquran menyebutkan kata marid sebanyak 24 kali, yaitu terdapat dalam Q.S. Albaqarah ayat 10, 184, 185, 196; Annisa ayat 43, 102; Almaidah ayat 6, 25; Alanfal ayat 49; Attaubah ayat 91, 125; Alhajj ayat 53; Annur ayat 50; Alahzab ayat 12, 22, 60; Asysyu’ara ayat 80; Muhammad ayat 20, 29; Alfath ayat 17; Almuzzammil ayat 20; dan Almuddatstsir ayat 31. Sedangkan kata saqim hanya terdapat dalam dua ayat, yakni pada surah Assaffat ayat 89 dan 145.

Kata marid atau marad bermakna penyakit. Kata ini merupakan akar kata مرض- يمرض yang terdiri dari tiga huruf; م ,ر, ض . Dalam kitab Lisan al-Arab, kata marid dimaknai sebagai sakit baik sakit fisik (jasmani) maupun non fisik (rohani). Sedangkan kata saqim dalam kitab Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an dimaknai sebagai sakit yang khusus menyerang anggota badan, tapi ada kalanya juga di hati. Sebagian mufasir menyebut kata saqim sebagai sakit karena wabah.

Makna dasar kata marid dan saqim

Penulis mencoba mengambil makna dasar dari kata marid dan saqim ini berdasarkan asal usulnya dari kamus Lisan Al-Arab. Di sana ditemukan bahwasanya kata marid berarti penghalang, yakni sesuatu yang menghalang-halangi seseorang dalam melakukan yang diperintahkan dan melakukan yang dilarang atau disebut penghalang seseorang dari kebenaran. Dari definisi ini, penulis dapat mengartikan yang dimaksud dengan kata marid adalah penyakit yang ada di dalam hati manusia. Seperti yang terdapat dalam firman Allah Q.S. Alahzab: 32:

 يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ

Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain. Jika kamu bertakwa, janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya; dan ucapkanlah perkataan yang baik.

Dari sini dapat kita artikan bahwasanya penyakit yang dimaksud ialah penyakit hati yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai niat yang tidak baik. Dalam Tafsir Al-Salam dijelaskan bahwa orang yang mempunyai penyakit hati merupakan seseorang yang di hatinya terdapat nafsu ketika mendengarkan suara perempuan sehingga membangkitnya syahwatnya.

Kemudian kata saqim dalam keterangan kitab al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an mempunyai makna sakit yang khusus ada di badan (jasmani) dan juga ada kalanya di hati. Namun pada dasarnya, saqim diartikan sebagai sifat lemah, karena seseorang yang terkena penyakit tentunya tubuhnya akan lemah. Berkaitan dengan ini, firman Allah dalam Q.S. Assaffat: 89:

فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ.

Kemudian dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sakit yang dimaksud di sini ialah perasaan lemah. Meskipun di satu sisi saqim dapat bermakna ganda, tapi beberapa penafsiran menyebutkan bahwa saqim lebih cenderung kepada sakit yang mengarah pada sakit fisik.

Baca juga: Penjelasan Para Mufasir tentang Hati yang Sakit dalam Surah al-Baqarah Ayat 10

Makna relasional marid dan saqim

Analisis selanjutnya menemukan makna yang berhubungan dengan kata marid dan saqim. Selain bermakna sakit, keduanya juga bermakna munafik, keraguan, lemahnya iman, lemah badan, dan sesat. Seperti yang terdapat dalam Q.S. Albaqarah:10:

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam hati mereka terdapat penyakit iri dan dengki kepada orang-orang yang beriman, di samping kerusakan akidah. Allah menambah parah penyakit mereka itu dengan memenangkan kebenaran, karena hal itu akan lebih menyakitkan akibat iri, dengki, dan keangkuhan mereka. Mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat sebab dusta dan ingkar.

Di Q.S As-Saffat: 145 Allah berfirman:

فَنَبَذۡنٰهُ بِالۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيۡمٌ‌ۚ

Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.

Dalam Tafsir Assa’di karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dijelaskan bahwasanya sakit yang dimaksud di sini ialah sakit lemah karena terkurung di dalam perut ikan paus dan tidak mendapatkan makan dan minum sehingga seperti anak burung yang baru menetas dari telur. Dalam penafsiran lainya seperti tafsir Min Fathil Qadir disebutkan bahwa sakit yang dimaksud adalah kerusakan pada kulit.

Berdasarkan analisis di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwasanya kata marid dan saqim dalam Alquran secara umum bermakna sakit meskipun pada dasarnya kedua kata tersebut tidak sama sepenuhnya. Kata marid lebih sering diartikan sebagai sakit yang berada di dalam hati manusia, sedangkan kata saqim diartikan sebagai penyakit yang menyerang badan dan dapat dirasakan langsung oleh seseorang.

Lalu bagaimana cara menyembuhkan keduanya?

Penulis mengambil kesimpulan bahwasanya Allah menciptakan penyakit tentu pula bergandengan dengan penyembuhnya. Makna-makna yang terkandung di dalam Alquran menjadi penyembuh dari segala penyakit, terutama penyakit yang ada di dalam dada manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Q.S. Yunus: 57:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

Penyakit seperti iri hati, dengki, keraguan, dan lain sebagainya yang tersembunyi di dalam hati manusia dapat disembuhkan dengan men-tadabburi ayat-ayat Alquran oleh pembacanya dengan niat ikhlas karena Allah Swt. Wallahualam.

Baca juga: Bentuk-Bentuk Resepsi Masyarakat Terhadap Fungsi Penyembuhan Al-Qur’an

Adinda Fatimah Rahmawati
Mahasiswi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...