Beranda Tokoh Tafsir Mengenal Muhammad Abduh Pabbajah, Mufasir Nusantara Asal Sulawesi

Mengenal Muhammad Abduh Pabbajah, Mufasir Nusantara Asal Sulawesi

Khazanah kajian tafsir di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan. Hingga saat ini, berbagai nama tokoh mufasir Indonesia telah banyak dikenal dalam berbagai literatur sejarah perkembangan tafsir di Indonesia. Namun, terdapat satu nama mufasir Nusantara asal Sulawesi yang masih belum banyak dikenal oleh kalangan umum yaitu Muhammad Abduh Pabbajah. Ia merupakan ulama tafsir yang memiliki karya tafsir berbahasa Bugis dan pengarang kitab Mabadi’ ‘Ilm Ushul al-Tafsir.

Biografi Intelektual Muhammad Abduh Pabbajah

Sosok ulama Nusantara yang memiliki nama Muhammad Abduh Pabbajah ini dilahirkan pada 26 Oktober 1918 di Allakuang Sidenreng Rappang. Ia merupakan putra ke sembilan dari seorang ayah yang bernama Lapabbaja dan ibu yang bernama Latifah. Semasa kecil, Abduh Pabbajah tumbuh di lingkungan keluarga religius dan kental akan pengajaran agama Islam.

Muh. Subair dalam tulisanya yang berjudul K.H. Muhammad Abduh Pabbajah; Sang Pencerah Di Kalangan Anak Muda, menjelaskan bahwa Abduh Pabbajah memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat Rawa. Namun tak berselang lama, ia kemudian pindah dan melanjutkan studinya di Madrasatul Arabiyah Islamiyah (MAI), Sengkang Sulawesi Selatan dibawah asuhan AGH Muhammad As’ad. Ia belajar di tempat tersebut hingga lulus jenjang Tsanawiyah dan Aliyah.

Baca Juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Selepas lulus dari sekolah tersebut, Abduh Pabbajah kembali ke kampung halamanya di Allakuang untuk mengabdikan diri sebagai pengajar di sana. Setelah cukup lama mengajar, Abduh Pabbajah mulai merintis pendirian sekolah MAI di Allakuang dengan menyediakan pendidikan tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Berkat kiprahnya dalam mengayomi masyarakat, pada saat memimpin sekolah yang baru dirintis tersebut, Abduh Pabbajah mendapatkan beberapa jabatan penting di masyarakat. Ia dipercaya menjadi kepala Distrik Allakuang, kemudian diberi amanah juga untuk menjadi kali Sidenreng pada tahun 1949.

Tidak hanya itu, pada tahun 1951, ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil di KUA Kabupaten Parepare sebagai Kepala Bagian Kemasjidan yang menaungi lima wilayah yaitu Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang, Pinrang, dan Parepare.

Pada tahun 1952, Abduh Pabbajah pindah ke Parepare. Keberadaanya di Parepare langsung direkrut oleh AGH Ambo Dalle untuk menjadi pengajar di pesantren yang ia asuh yaitu pesantren Dar al-Da’wah wa al-Irsyad (DDI). Pada saat itu, ia juga mulai aktif di kepengurusan PB DDI dan menjabat sebagai sekretaris organisasi tersebut.

Kemudian, pada saat AGH Ambo Dalle diculik masuk hutan oleh anggota Kahar Muzakkar, Abduh Pabbajah mulai menggantikan jabatan-jabatan yang ditinggalkan kawannya tersebut. Mulai dari menjabat sebagai ketua umum PB DDI selama tujuh tahun (1955-1962), serta menjadi kepala Kantor Urusan Agama Parepare pada tahun 1955.

Kegiatan lain di bidang politik yang diikuti oleh Abduh Pabbajah antara lain adalah menjadi salah satu deklarator Badan Aksi Rakyat Perjuangan Semesta (Bara Pemesta), anggota dan pengurus Partai Serikat Islam (PSI), serta menjadi pengurus di Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca Juga: Mufasir Nusantara: Oemar Bakry asal Danau Singkarak

Tidak hanya itu, pada masa penjajahan Abduh Pabbajah juga ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Wujud perjuangan tersebut dapat dilihat dari keaktifanya dalam kegiatan organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI). Selain itu, pada masa awal perjuangan kemerdekaan, Abduh Pabbajah dikenal sebagai orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Allakuang.

Setelah sibuk dalam berbagai jabatan organisasi dan politik, Abduh Pabbajah mulai fokus mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Wujud pengabdian tersebut ditunjukkan dengan diangkatnya ia sebagai dosen di Universitas Muslim Indonesia, serta menjadi Dekan di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar cabang Parepare (sekarang menjadi STAIN Parepare). Jabatan lain dalam dunia pendidikan yang Abduh Pabbajah duduki adalah sebagai sekretaris Ma’had Islamiyah Ulya, dan anggota lembaga pentashih Al-Qur’an di Jakarta.

Pada tahun 1970, Abduh Pabbajah mendirikan pesantren Al-Furqan di rumahnya. Karena antusias masyarakat sangat tinggi, maka pada tahun 1977, pesantren tersebut dipindahkan ke serambi Masjid Raya Parepare supaya dapat menampung lebih banyak santri. Namun, ketika terjadi pemugaran masjid, pesantren tersebut dipindah di sebuah gedung baru di Ujung Baru Parepare.

Selain mengajar di berbagai lembaga pendidikan, Abduh Pabbajah juga membuka pengajian di Masjid Raya Parepare. Pengajian tersebut dilaksanakan rutin sebanyak tiga kali dalam seminggu yaitu pengajian tafsir pada malam senin dan kamis, kemudian pada malam sabtunya ia mengkaji kitab hadis Bulughul Maram.

Kegiatan pengajian di Masjid Raya Parepare tersebut terus dilakukan hingga ia wafat pada 20 Agustus 2009. Pada saat itu usianya telah mencapai 90 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap.

Baca Juga: Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Sholeh Darat As-Samarani

Karya-karya Muhammad Abduh Pabbajah

Selama hidupnya, Abduh Pabbajah termasuk ulama Nusantara yang aktif mengabadikan ide dan pemikiranya dalam bentuk tulisan, baik melalui majalah, buletin, ataupun dalam bentuk buku, sehingga bisa dikatakan ia merupakan ulama yang produktif.

Oleh karena itu, tidak heran ditemukan berbagai karya tulisan dari ragam bidang ilmu keislaman yang telah dihasilkan oleh Abduh Pabbajah. Beberapa judul karya tulisan tersebut antara lain adalah:

  1. Tafsir al-Qur’an al-Karim bi al-Lughah al-Bughisiyah
  2. Tafsir Surah al-Waqi’ah
  3. Mabadi’ ‘Ilm Ushul al-Tafsir
  4. al-Ma’tsurat
  5. al-Shalat Nur
  6. al-Mau’idhah al-Hasanah
  7. Adab al-Fatah
  8. Mir’ah al-Nasyi’in
  9. al-Nasyidah (Aghniyah)
  10. al-Adzkar ‘inda al-’Asyiyyi wa al-Abkar
  11. al-Risalah al-As’adiyah fi Qism al-Syabab
  12. Majallah al-Manhal

Selain karya dalam bentuk tulisan, terdapat juga file mp3 yang berisi pengajian tafsir Al-Qur’an secara lengkap dari juz 1 hingga juz 30, yang disampaikan oleh AGH (Anre Gurutta Haji) Abduh Pabbajah dalam bahasa Bugis. Karena memang ketika memberikan pengajian tafsir, Abduh Pabbajah membawa recorder untuk merekam ceramahnya agar bisa disiarkan kembali di Radio yang ia dirikan yaitu Radio Mesra. Sehingga ceramah tersebut dapat didengarkan oleh masyarakat luas.

Bahkan, hingga saat ini, masyarakat masih sering mendengarkan rekaman ceramah Abduh Pabbajah yang disiarkan oleh Radio Mesra. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Abduh Pabbajah merupakan sosok ulama kharismatik dan pakar tafsir asal Sulawesi yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Wallahu A’lam

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...