BerandaTokoh TafsirMenggugat Ego Spesies: Pembacaan Ekosentris Sarra Tlili terhadap Al-Qur’an

Menggugat Ego Spesies: Pembacaan Ekosentris Sarra Tlili terhadap Al-Qur’an

Pernahkah terlintas dalam benak bahwa selama ini manusia membaca Al-Qur’an hanya untuk memuaskan ego sendiri? Kecenderungan ini disebut sebagai antroposentrisme, paham yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya dan menganggap alam hanya sebagai pelayan kepentingan manusia semata. Sarra Tlili, seorang pakar studi Islam, hadir untuk menggugat kemapanan cara pandang ini dengan menawarkan perspektif teosentris: bahwa kemuliaan makhluk di hadapan Allah tidak diukur dari kecerdasan logika, melainkan dari kedekatan spiritual.

Baca Juga: Hubungan Manusia dan Lingkungan Hidup dalam Surah Albaqarah Ayat 30

Siapa Sarra Tlili?

Mencari data biografi Sarra Tlili memang tidak semudah mencari biografi tokoh-tokoh populer karena ia bergerak di ranah spesialisasi yang cukup unik, yakni literatur Arab dan etika lingkungan dalam Islam. Saat ini, ia mengabdi sebagai Profesor Bahasa dan Sastra Arab di University of Florida. Pengembaraan intelektualnya dimulai saat ia menyelesaikan pendidikan sarjananya (B.A) di Universite de Tunis pada tahun 1988 (Yasser dkk., 2024, hlm. 626).

Dahaga akan ilmu membawanya menyeberang ke Amerika Serikat, tepatnya ke University of Pennsylvania, tempat ia meraih gelar Master (M.A) pada 2006 dan gelar Doktor (Ph.D) pada 2009. Disertasinya yang sangat ikonik berjudul From an Ant’s Perspective: The Status and Nature of Animals in the Qur’an (Dari Perspektif Seekor Semut: Status dan Sifat Hewan dalam Al-Qur’an) menjadi embrio lahirnya buku monumentalnya di tahun 2012.

Kemampuan Tlili dalam membedah teks didukung oleh penguasaan enam bahasa sekaligus: Arab (bahasa ibu), Inggris dan Prancis (fasih), Italia (tingkat lanjut), serta Persia dan Jerman untuk kebutuhan membaca sumber ilmiah. Meski bidang utamanya adalah gaya bahasa (stylistics) Al-Qur’an dan sastra Arab, pemikirannyalah yang membuat namanya melambung di kancah global, terutama dalam isu hak-hak binatang dan etika lingkungan (Yasser dkk., 2024, hlm. 627).

Meluruskan Kekeliruan Para Pengamat

Dalam berbagai publikasinya, Sarra Tlili menyoroti betapa seringnya kesalahpahaman muncul akibat keterbatasan akses terhadap sumber primer. Salah satu tokoh dari kritik tajam Tlili adalah Paul Waldau. Tlili mencatat bahwa Waldau—meskipun memiliki alat analisis yang canggih—terperosok dalam kesalahan data yang elementer saat ia mengeklaim Al-Qur’an mengandung pandangan negatif terhadap hewan, namun secara fatal salah menempatkan waktu Iduladha pada akhir bulan Ramadan (Tlili, 2018, hlm. 9).

Pertarungan intelektual yang lebih sengit terjadi ketika Tlili berhadapan dengan Daniel Capper. Capper mengeklaim bahwa dalam Islam, hewan hanya memiliki “jiwa rendah” (nafs al-ammara), sementara hanya manusia yang memiliki “jiwa rasional” (nafs al-lawwama). Tlili menyanggah klaim ini dengan menunjukkan bahwa tradisi arus utama Islam justru sangat sering menggunakan istilah dhu ruh (pemilik nyawa/ruh) untuk hewan, yang menandakan pengakuan atas dimensi spiritual mereka. Hewan bahkan digambarkan akan dibangkitkan di hari kiamat dan memiliki pertanggungjawaban moral sendiri di hadapan Allah (Tlili, 2018, hlm. 9–10).

Bahkan tokoh seperti Katherine Perlo pun mendapat koreksi humanis. Perlo mencoba mendiskreditkan Surah Al-Fil dengan menyebut gajah sebagai bagian dari tentara jahat. Namun, Tlili melalui catatan mufasir menjelaskan bahwa gajah tersebut justru dipuji karena menolak menyerang Ka’bah meski dipaksa oleh manusia, sehingga ia selamat dari azab ilahi (Tlili, 2018, hlm. 11–12). Di sini, hewan justru tampil sebagai makhluk yang lebih patuh kepada Tuhan daripada pemiliknya yang sombong.

Baca Juga: Ngaji Gus Baha’: Bisakah Manusia Berdialog dengan Hewan dan Tanah?

Mempertanyakan Kembali Status Istimewa Manusia

Salah satu bagian paling berani dari riset Tlili adalah pembongkaran istilah-istilah yang sering dijadikan dasar untuk menindas makhluk lain. Ia menyoroti tiga konsep besar:

Makna Tersembunyi Tamkin (QS. Al-A’raf: 10)

Istilah ini sering dianggap sebagai mandat ilahi untuk “menguasai” bumi. Namun, Tlili merujuk pada mufasir otoritatif Al-Tabari (w. 310/923) yang menjelaskan bahwa tamkin sekadar berarti Allah menyediakan bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman dan sarana penghidupan bagi manusia. Ini adalah soal “pemberian tempat huni”, bukan “pemberian hak penindasan”. Tlili bahkan mencatat bahwa makna kekuasaan mutlak baru muncul pada mufasir belakangan seperti Al-Zajjaj atau Ibn Ashur yang tampak mulai terpengaruh oleh cara pandang yang memuja martabat manusia secara berlebihan (Tlili, 2018, hlm. 14).

Beban Risiko dalam Amanah (QS. Al-Ahzab: 72)

Bagi banyak orang, amanah adalah tanda kemuliaan manusia. Namun, Tlili membacanya sebagai risiko yang menakutkan. Penolakan langit dan bumi untuk memikul amanah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kebijaksanaan mereka untuk tetap berada dalam ketaatan tanpa risiko pembangkangan (Tlili, 2018, hlm. 15). Sebaliknya, dalam pengantarnya, manusia oleh Tlili, mengambilnya karena sifat zalim dan bodoh (zhaluman jahuula) (Tlili, 2012, hlm. xi). Tlili mengutip Al-Baghawi (w. 510/1117) yang menegaskan bahwa Allah menciptakan pengetahuan tersendiri pada hewan dan benda mati yang tidak bisa dipahami oleh logika manusia (Yasser dkk., 2024, hlm. 635).

Gugatan Terhadap Predikat Khalifah

Tlili menggugat keras pandangan Rashad Khalifa yang menerjemahkan kata khalifa sebagai “Tuhan sementara” (temporary God) di bumi. Baginya, menganggap manusia sebagai wakil Tuhan adalah langkah berbahaya yang bisa berujung pada deifikasi atau pendewaan diri manusia. Tlili mempertanyakan logika teologis: bagaimana mungkin Tuhan menunjuk manusia—yang digambarkan Al-Qur’an sebagai perusak darah—sebagai wakil-Nya di hadapan hewan yang justru digambarkan selalu bertasbih dan sujud? (Tlili, 2012, hlm. 13, 26).

Dari Antroposentrisme ke Ekosentris

Dalam studinya, Muhammad Yasser memandang bahwa kritik Tlili terhadap antroposentrisme bukan sekadar perdebatan di menara gading (Yasser, 2024, h. 623, p. 1). Yasser mencatat bahwa cara pandang yang memuja manusia secara berlebihan adalah akar dari krisis lingkungan global dan berbagai bentuk kekerasan terhadap hewan, mulai dari laboratorium penelitian hingga industri peternakan pabrik (Yasser dkk., 2024, hlm. 624).

Yasser menekankan bahwa Tlili berhasil mempromosikan kembali paradigma teosentris dan ekosentris yang lebih sesuai dengan semesta Al-Qur’an. Menurut analisis Yasser, sumpah ilahi atas nama hewan—seperti dalam surah Al-’Adiyat atau Al-Naml—adalah bukti pengakuan Tuhan atas nilai intrinsik mereka. Yasser setuju dengan Tlili bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh kualitas moral dan religiusnya, bukan semata-mata karena spesiesnya (Yasser dkk., 2024, hlm. 625, 640).

Baca Juga: Keunikan Ayat–Ayat Kauniyah dalam Alquran

Penjelasan ini artinya etika Islam seharusnya bersifat timbal balik. Hewan tidak diciptakan hanya untuk melayani manusia; sebaliknya, manusia pun secara moral ditugaskan untuk melayani kebutuhan hewan yang mereka pelihara. Prinsip saling ketergantungan ini sering kali tertutup oleh ego manusia yang merasa sebagai tuan atas segalanya.

Melalui seluruh rangkaian argumen ini, Sarra Tlili mengajak setiap pencari ilmu untuk menyadari bahwa alam semesta adalah entitas yang sangat interaktif dengan Penciptanya: ia berdoa, bertasbih, dan memiliki pilihan spiritualnya sendiri. Hewan bukan sekadar insting mekanis, melainkan hamba Tuhan yang memiliki hak untuk dihormati. Dengan menyingkirkan bias ego spesies, martabat manusia justru akan menemukan kemuliaan sejati saat mampu bersujud bersama-sama dengan komunitas makhluk Allah lainnya dalam kerendahhatian yang tulus. Wallahu a’lam.

Muhammad Arsyad
Muhammad Arsyad
Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir UIN Antasari Banjarmasin. Akun Ig: @arsyadmodh.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Dialog Konsepsi Tafsīr Tradition Walid Saleh dengan Hermeneutik Gadamer

0
Dalam dua dekade terakhir, studi tafsir Al-Qur’an mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Jika dahulu tafsir sering dilihat sebagai produk pemikiran individual sang penafsir...