Beranda Khazanah Al-Quran Metode Pembelajaran Alquran pada Zaman Rasulullah

Metode Pembelajaran Alquran pada Zaman Rasulullah

Alquran merupakan pedoman sekaligus petunjuk utama bagi umat Islam. Selain mencakup aspek akidah, ibadah, muamalah, tarikh, dan hukum Islam, Alquran juga memuat prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan dan peradaban. Oleh karenanya, pembelajaran Alquran menjadi sangat penting bagi seluruh umat Islam.

Lalu bagaimana metode pembelajaran Alquran pada masa Rasulullah? Apakah pembelajaran Alquran pada masa Rasulullah sama dengan pembelajaran Alquran di masa sekarang ini?

Pembelajaran Alquran dimulai ketika Rasulullah mendapat wahyu melalui  malaikat Jibril. Rasulullah menghafalnya dan kemudian membacakannya kepada para sahabat. Rasulullah berjuang mengajarkan Alquran, baik itu ketika beliau di Makkah maupun di Madinah.

Periode Makkah

Pada masa awal lahirnya Islam, yaitu ketika Rasulullah berada di Makkah, metode pengajaran Alquran lebih menekankan kepada aspek akidah dan keimanan. Pada masa ini pemeluk Islam masih sedikit, sehingga pengajaran Alquran masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari rumah ke rumah.

Salah satu sahabat Nabi yang menggunakan metode tersebut bernama Khabbab bin Al-Art. Beliau mengajarkan Alquran dengan mendatangi murid-muridnya dari satu rumah ke rumah lainnya. Di antara sahabat yang menjadi muridnya kala itu adalah Abdullah bin Masud, Said bin Zaid, dan Fatimah binti Al-Khattab.

Alquran pada masa ini telah tersebar dan dihafal oleh beberapa kabilah dari luar kota Makkah. Zaid bin Tsabit yang baru berusia belasan tahun sudah menghafal tujuh belas surah dari Alquran. Hal ini membuktikan bahwa pada masa ini pembelajaran Alquran tidak didominasi oleh media tulis, melainkan secara oral atau lisan. Pada masa ini Rasulullah dan para sahabat menjadi rujukan pertama dalam pembelajaran Alquran.

Periode Madinah

Berbeda dengan periode Makkah, pembelajaran Alquran di periode Madinah lebih efektif dan terorganisir. Hal ini disebabkan karena kondisi di Madinah lebih stabil dibandingkan ketika Nabi berada di Makkah. Ketika Rasulullah sampai di Madinah, kebijakan pertama yang beliau ambil adalah mendirikan Masjid. Masjid inilah yang nantinya menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Alquran.

Musthafa al-Azami, dalam bukunya yang berjudul The History of The Qur’anic Text membagi pengajaran Alquran periode Madinah menjadi tiga bagian sebagai berikut:

Pertama, The Prophet as a Teacher. Nabi Muhammad saw. sebagai al-mu’allim al-awwal (pengajar pertama) selalu berusaha untuk mengajarkan Alquran kepada sahabat, masyarakat Madinah, dan orang-orang dari luar daerah. Setiap menerima ayat baru, beliau segera membacakannya kepada semua sahabat.

Kedua, Dialects Used by the Prophet for Teaching in Madina. Seperti yang telah diketahui bahwa setiap daerah memiliki dialek yang berbeda-beda, begitu juga di kota Madinah. Karena dialek yang mereka pakai sudah menjadi kebiasaan dan sulit dirubah, maka untuk mempermudah adalah dengan membaca Alquran sesuai dengan dialek masing-masing dengan catatan ada pengklarifikasian dan pembenaran dari Nabi mengenai bacaan dialeknya.

Dialek-dialek yang berbeda inilah yang menjadikan cara baca Alquran beragam. Ini yang selanjutnya menjadi cikal bakal Ilmu Qiraat.

Baca juga: Qiraat Alquran (1): Sejarah dan Perkembangannya di Era Islam Awal

Ketiga, The Companions as Teacher, dalam mengajarkan Alquran, Nabi Muhammad dibantu oleh para sahabat. Para sahabat berperan penting dalam pengajaran Alquran. Beberapa dari mereka dikirim keluar daerah untuk mengajarkan Alquran.

Di antara sahabat yang mengajarkan Alquran adalah Ubada bin as-Samit, Ubbay bin Ka’ab, Abu Said al-Khudri, Sahl bin Sa`id al-Ansari, `Uqba bin `Amir, Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik, Mu’adh bin Jabal yang dikirim ke Yaman, Abu Ubaid yang dikirim ke Najran, dan Wabra bin Yuhannas yang mengajar Alquran di San’a, Yaman.

Hampir mirip dengan periode Makkah, pembelajaran Alquran periode Madinah juga masih didominasi dengan metode lisan. Hal ini karena masih sedikit masyarakat Madinah yang menguasai baca tulis.

Lokasi-lokasi strategis

Ada beberapa tempat yang  dijadikan sebagai tempat pembelajaran Alquran di kota Madinah; Pertama, Shuffah. Shuffah merupakan tempat yang digunakan untuk berbagai aktifitas pendidikan. Biasanya Shuffah juga disediakan sebagai tempat tinggal bagi pendatang yang membutuhkan. Di sana para sahabat diajarkan cara membaca dan menghafal Alquran secara benar.

Kedua adalah Darr al-Qurra. Dar al-Qurra secara istilah berarti rumah para pembaca Alquran. Awalnya Dar al-Qurra ini merupakan rumah milik Makhramah bin Naufal, kemudian dijadikan tempat pengajaran Alquran.

Ketiga adalah Kuttab yang merupakan tempat belajar atau tempat kegiatan tulis-menulis dilangsungkan. Awalnya Kuttab ini dikhususkan sebagai tempat pendidikan  bagi anak-anak. Ahmad Syalabi kemudian membedakan antara Kuttab yang khusus untuk  mengaji Alquran dan dasar-dasar agama dengan Kuttab yang digunakan untuk mengajar anak-anak baca tulis.

Keempat adalah masjid. Pada zaman Nabi, masjid sudah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin. Salah satu peranan penting masjid pada waktu itu adalah sebagai lembaga pendidikan. Ketika ayat Alquran turun, Nabi segera menuju ke masjid dan membacakannya kepada para sahabat.

Kelima adalah rumah para sahabat. Rumah para sahabat terkadang juga digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar. Ketika Nabi kedatangan tamu-tamu dari daerah sekitar Madinah, mereka menginap di rumah para sahabat. Seraya menginap, mereka belajar Alquran dan ajaran Islam dari Nabi atau sahabat pemilik rumah.

Baca juga: Talaqqi Sebagai Metode Pembelajaran Alquran

Hayun Millata Husna
Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kesenjangan sosial

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang...