Beranda Ulumul Quran Metodologi dan Pendekatan dalam Penelitian Studi al-Quran dan Tafsir

Metodologi dan Pendekatan dalam Penelitian Studi al-Quran dan Tafsir

Banyak para pengkaji al-Qur’an yang mengalami problem metodologis dalam melakukan penelitian studi al-Quran dan tafsir. Permasalahan utama dapat ditemui langsung melalui judul, contoh: “Konsep Ikhlas dalam al-Qur’an: Telaah Pemikiran Quraish Shihab”

Problem: Apakah peneliti ingin mengkaji konsep ikhlas melalui metode tematik atau ingin mengkaji pemikiran tokoh atas salah satu konsep dalam al-Qur’an?

Maka perlu adanya beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama dalam penelitian studi al-Quran dan tafsir selanjutnya. Artikel ini akan mengulas beberapa pembahasan penting dalam ranah penelitian tafsir yang didasarkan pada artikel “Pendekatan dan Analisis dalam Penelitian Teks Tafsir: Sebuah Overview” yang ditulis oleh Sahiron Syamsuddin.

Pemetaan Penelitian Studi al-Quran dan Tafsir

  1. Penelitian yang menjadikan al-Qur’an sebagai objek sentral penelitian

Model penelitian ini disebut oleh Amin al-Khulli serta istrinya Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi’ dengan istilah Dirasah al-Nas.

Baca Juga: Tips Menentukan Tema Penelitian Terkait Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Penelitian ini umumnya berkaitan dengan the features of Quranic texts (tampilan luar teks), seperti yang berkaitan dengan Variasi Qira’at, Makki-Madani, Uslub al-Qur’an dan juga naskah al-Qur’an yang berupa manuskrip.

Peneliti dalam kelompok ini juga bisa melakukan kajian fahm al-nas (penggalian makna teks) baik secara parsial maupun komprehensif. Secara parsial maksudnya mengkaji satu ayat atau sekelompok ayat tertentu atau satu surah tertentu dengan pendekatan tertentu.

Adapun yang dimaksud dengan kajian secara komprehensif ialah kajian yang bertujuan untuk mengeksplorasi suatu konsep dalam al-Qur’an secara komprehensif dengan menggunakan metode tafsir tematik/ maudhu’i.

  1. Penelitian terhadap pembacaan/penafsiran dan terjemahan seseorang atas al-Qur’an

Kelompok penelitian jenis kedua ini juga disebut dengan penelitian literatur tafsir. Biasanya yang dikaji secara spesifik dalam kelompok kajian jenis ini ialah kitab-kitab tafsir, pemikiran seorang mufasir atau cendekiawan terhadap suatu konsep tertentu dalam al-Qur’an.

  1. Penelitian tentang aspek-aspek metodis dalam kajian tafsir

Penelitian jenis ini menitikberatkan objek material kajian pada teori-teori tertentu dalam Ulumul Qur’an/ Ilmu Tafsir maupun ilmu-ilmu bantu lainnya. Secara umum pembahasannya berkaitan dengan konsep dari teori tersebut dan implementasinya dalam kajian tafsir serta kelebihan dan kekurangannya maupun aspek-aspek lain yang mungkin masih bisa dikembangkan.

  1. Penelitian yang mengkaji respon atau resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an ataupun terhadap penafsiran seseorang atas al-Qur’an

Penelitian jenis ini juga disebut dengan istilah penelitian Living Qur’an. Objek material yang dibahas pada umumnya bertumpu pada fenomena-fenomena sosial di masyarakat yang berhubungan dengan al-Qur’an. Seperti tradisi Khataman, Hafalan, Wirid, maupun Do’a-Do’a tertentu yang diyakini memiliki faidah tertentu dan diijazahkan oleh tokoh tertentu.

Apa sebenarnya filosofi penelitian dalam kajian tafsir saat ini?

  1. Mencari judicial critism

Maksudnya bukan bertujuan untuk menghakimi objek material penelitian dengan justifikasi “Benar atau Salah” melainkan untuk mengungkap sisi “keunggulan dan kekurangan” dari suatu produk penafsiran.

  1. Mengkaji dan merekonstruksi aplikasi metodologi yang diterapkan

Maksudnya para peneliti mampu menggambarkan dan me-reka ulang bangunan metodologi penafsiran yang disusun oleh para mufasir dalam menghasilkan produk tafsirnya. Tujuannya ialah agar tidak terjadi klaim-klaim negatif jika mendapati penafsiran yang secara substansi mungkin kontroversial. Melainkan berupaya untuk bersikap ilmiah dengan mengkaji metodologi dan menemukan kelemahan maupun keunggulannya serta melakukan kritik yang ilmiah.

  1. Menjawab problematika umat masa kini

Kata kuncinya adalah kontekstualisasi. Para peneliti yang mengambil kajian fahm al-nas secara parsial maupun komprehensif memiliki beban intelektual untuk menghadirkan pemaknaan teks yang mampu merespon berbagai fenomena kekinian. Sebab bagaimanapun teks al-Qur’an yang hadir 15 abad yang lalu itu harus digaungkan kembali nilai-nilai yang tekandung di dalamnya dan direlevansikan dengan kehidupan saat ini.

  1. Mengembangkan ragam diskursus keilmuan klasik

Dengan mengkaji ulang dan melihat sisi-sisi yang bisa dikembangkan dalam beberapa keilmuan yang terhimpun dalam Ulumul Qur’an, peneliti dapat menelurkan konsepsi anyar dalam diskursus tersebut.

  1. Melihat resepsi masyarakat atas suatu fenomena atau tradisi yang berkaitan dengan al-Qur’an

Penelitian Living Qur’an memungkinkan peneliti untuk melihat dan merasakan makna yang diresepsi oleh masyarakat umum terhadap fenomena maupun tradisi lokal yang mereka amalkan dan berkaitan erat dengan al-Qur’an. Penelitian jenis ini juga mengharuskan peneliti untuk tidak mudah memandang sebelah mata sebuah tradisi sederhana yang dilakukan masyarakat, sebab bisa jadi ada makna yang dalam pandangan mereka “istimewa” sehingga tradisi bisa tetap eksis dan konsisten hingga saat ini.

Pendekatan

Pendekatan ialah perspektif atau sudut pandang atau kacamata yang digunakan oleh seorang peneliti untuk menganalisa data yang ia miliki. Ketepatan pendekatan atau perspektif yang digunakan bergantung pada research questions atau problem akademik yang ingin dicari jawabannya.

Secara garis besar ada beberapa pendekatan yang umum digunakan dalam penelitian literatur tafsir,

Pendekatan Kritik Teks

Pendekatan ini diaplikasikan jika pertanyaan yang ingin diungkap berkaitan dengan orisinalitas teks. Perlu digarisbawahi bahwa pendekatan ini hanya dapat diaplikasikan pada produk penafsiran bukan pada al-Qur’an itu sendiri, sebab sudah jelas bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang orisinal. Hal ini mencegah terjadinya kajian yang serupa dengan kajian orisinalitas al-Qur’an yang dilakukan oleh John Wansbrough yang sampai pada kesimpulan yang justru mendiskreditkan sisi sakralitas al-Qur’an itu sendiri dan juga Nabi Muhammad sebagai penyampainya.

Pendekatan Interpretatif

Pendekatan ini diaplikasikan jika pertanyaan penelitian berkutat pada makna yang terkandung di dalam teks.

Lalu secara lebih spesifik lagi, pendekatan ini memiliki beberapa sub yaitu:

  1. Sub historis

Pendekatan ini digunakan dalam penelitian yang ingin mengungkap irisan-irisan fakta historis teks. Seperti perkembangan makna suatu kata atau konsep, faktor sosial atau latar belakang disusunnya teks tafsir yang dikaji, pengaruh produk tafsir yang dikaji terhadap perkembangan wacana tafsir di masanya dan sesudahnya.

  1. Sub Sastrawi

Pendekatan ini diaplikasikan untuk memahami simbol-simbol bahasa pada sebuah teks baik yang muncul secara eksplisit maupun implisit. Pendekatan ini biasanya dipakai untuk menganalisa kata kunci tertentu dalam sebuah teks maupun konsep-konsep tertentu dalam sebuah produk penafsiran/ kitab tafsir/ penelitian tafsir.

Macam-macam analisis dalam penelitian tafsir

  1. Analisis Deskriptif

Analisa ini menempati level pemula dalam bidang penelitian. Analisa ini berupaya untuk menyederhanakan bahasa data atau berupaya membahasakan data yang diperoleh dengan gaya bahasa khas peneliti. Selain itu analisa ini juga dapat digunakan untuk melakukan penyimpulan sederhana dan mengurai data ke dalam poin-poin penting yang menurut peneliti harus diketahui pembaca.

  1. Analisis Eksplanatoris

Analisa kedua ini menempati level lanjutan dalam bidang penelitian. Seorang peneliti dapat berargumentasi lebih dalam dan luas atas data yang diperolehnya. Sebab peneliti tidak hanya berhenti pada upaya menyederhanakan data, tapi juga melakukan olah data dengan berbagai data lain maupun perspektif yang dibawanya (bisa dengan perspektif yang sudah diulas pada bagian tulisan sebelumnya).

Baca Juga: Melihat Tradisi Khataman Al-Quran Sebagai Objek Penelitian

Seperti dengan melakukan perbandingan penafsiran di antara data yang dikaji dengan data yang diambil dari data berbagai kitab tafsir otoritatif. Maupun dengan mengolah data yang dikaji dengan pendekatan-pendekatan semisal pendekatan filosofis, linguistik, sosiologi pengetahuan, hermeneutika dan ilmu bantu lainnya.

  1. Analisis Kritis

Analisa terakhir ini menempati peringkat teratas dalam level analisis penelitian. Jadi setelah menerapkan analisa deskriptif lalu mengolahnya dengan analisa eksplanatoris, peneliti yang telah memahami betul terkait data yang ditelitinya, mungkin saja akan menemukan hal-hal yang sifatnya masih ambigu maupun tidak konsisten pada objek material yang ia teliti. Temuan ini sangat layak untuk disikapi peneliti dengan melakukan kritik secara ilmiah berdasarkan fakta yang ia dapatkan, inilah yang disebut analisis kritis.

Beberapa uraian pembahasan yang berkaitan dengan penelitian dalam kajian tafsir ini menunjukkan bahwa sebuah penelitian harus dilandasi metodologi yang baik. Penelitian yang berpegang pada kaidah-kaidah metodologi yang tepat dapat menghasilkan hasil penelitian yang tidak hanya berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan namun juga dalam menjawab tantangan di tengah kehidupan umat secara langsung. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...