Beranda Tokoh Tafsir Mufasir Indonesia: Hasbi Ash-Shiddieqy, Pelopor Khazanah Kitab Tafsir Kontemporer di Indonesia

Mufasir Indonesia: Hasbi Ash-Shiddieqy, Pelopor Khazanah Kitab Tafsir Kontemporer di Indonesia

Khazanah tafsir Al-Quran di Indonesia sangatlah kaya. Banyak mufasir Indonesia yang melanglang buana baik di kancah lokal maupun internasional. Salah satu pelopor khazanah Kitab Tafsir di Indonesia atau pelopor kitab tafsir pertama yang diterbitkan di Indonesia adalah Hasbi Ash-Shiddieqy. Ia adalah mufasir Indonesia asal Lhokseumawe, Aceh. Ia adalah pengarang daripada dua buah kitab tafsir Indonesia yaitu Tafsir An-Nur dan Tafsir Al-Bayan.

Dua buah magnum opus-nya ini di bidang tafsir Al-Quran menandai babak baru khazanah penafsiran Al-Quran di Indonesia, meskipun sebelum Hasbi juga ada banyak ulama tafsir Indonesia yang mengawalinya sebut saja Syekh Nawawi al-Bantany, Syekh Mahfud At-Tarmasy, Syekh Abdurrauf Al-Sinkil, dan seterusnya.

Sketsa Biografis Hasbi Ash-Shiddieqy

Hasbi Ash-Shiddieqy bernama lengkap Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy (T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy). Ia lahir pada tanggal 10 Maret 1904 di Lhokseumawe, Aceh Utara Indonesia. Ia merupakan keturunn Aceh-Arab. Ayahnya bernama Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su‘ud, seorang ulama terkenal yang memiliki sebuah dayah (pesantren) dan seorang Qadhi Chik, posisi tersebut ditempati oleh ayahnya pasca wafatnya mertuanya yakni Chik Teungku Abdul Aziz.

Sedangkan ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz, merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Aceh ketika itu. Menurut Silsilah, Hasbi Ash-Shiddieqy merupakan keturunan Abu Bakar al-Shiddiq (khalifah pertama Khulafaur Rasyidin) yang ke-37. Karena itu, gelaran Ash-Shiddieqy disematkan di belakang namanya.

Masa kelahiran dan pertumbuhan Hasbi Ash-Shiddieqy bersamaan dengan tumbuhnya gerakan pembaharuan pemikiran di jawa yang meniupkan semangat kebangsaan dan anti kolonial. Sementara di Aceh, peperangan dengan Belanda kian berkecamuk, dan pemikiran masyarakat amatlah konservatif atau tradisionalis. Ketika Hasbi Ash-Shiddieqy berusia 6 tahun, ibunya meninggal dunia. Lalu ia diasuh oleh bibinya, Teungku Syamsiah.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Biografi Syekh Mahfudz At Tarmasi

Menginjak usia 19 tahun, Hasbi menikah dengan Siti Khadijah, seorang gadis belia yang masih ada hubungan nasab dengannya. Pernikahan ini tak berlangsung lama sebab istrinya wafat tatkala melahirkan anak pertamanya dan anaknya pun kemudian meninggal menyusul ibunya. Kemudian, ia menikah lagi dengan Teungku Nyak Asiyah binti Teungku Haji Hanum. Melalui pernikahannya ini, Hasbi  dikaruniai empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki, serta melewati hari-harinya hingga akhir hayatnya bersama istrinya.

Rihlah Intelektual

Saat kecil, Hasbi Ash-Shiddieqy mulai belajar agama Islam termasuk nahwu, sharaf di dayah (pesantren) milik ayahnya. Ia mempelajari qira’at, tajwid serta dasar-dasar fikih dan tafsir pada ayahnya sendiri. Selanjutnya, usia 8 tahun ia mulai melakukan rihlah intelektualnya. Pada usia ini pulalah Hasbi Ash-Shiddieqy telah mengkhatamkan Al-Quran.

Sebahaimana dijelaskan oleh Sulaiman al-Kumayi dalam Inilah Islam: Telaah Terhadap Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Bidang Tafsir, Feminisme, Teologi, Neo-Sufisme, dan Gagasan Menuju Fikih Indonesia bahwa ia tidak puas nyantri di pesantren milik ayahnya. Kemudian ia pindah ke dayah asuhan Tengku Chik di Bluk Bayu. Ia belajar di sini selama setahun, lalu nyantri lagi di dayah milik Tengku Chik Bang Kabu, Geudong lalu ke dayah Blang Manyak di Samakurok dan akhirnya ia melanjutkan rihlah intelektualnya di dayah Tanjung Barat di Samalanga sampai tahun 1925. Dari dayah inilah Hasbi secara resmi mendapatkan ijazah dari gurunya atau sanad untuk membuka dayah sendiri.

Selama pengembaraan intelektualnya dan juga berbekal pengalaman berpindah-pindah dayah dari satu daerah ke daerah lain yang berada di bekas pusat Kerajaan Pasai selama 15 tahun (1910-1925), ia telah mendapatkan pelajaran bahasa Arab dari seornag ulama Arab, Syekh Muhammad bin Salim al-Kalaliy (Penyusun Kamus Arab Indonesia). Atas saran ulaam tersebut, akhirnya Hasbi menggunakan sebutan Ash-Shiddieqy di belakang namanya sebagai marga keluarga.

Selain itu, Hasbi juga tercatat pernah mempelajari bahasa Belanda dari seornang berkebangsaan Belanda yang belajar darinya Bahasa Arab sehingga ia mampu mengakses berbagai informasi baik media massa atau hal-hal privat di mana pada masa itu dihegemoni oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Karir Hidup

Hasbi Ash-Shiddieqy pernah memimpin Muhammadiyah Aceh sehingga pada Maret 1946 ia disekap oleh Gerakan Revolusi Sosial yang digerakkan oleh PUSPA (Persatoean Oelama Seloeroeh Atjeh, didirikan pada tahun 1939), yang mana organisasi ini melihat Muhammadiyah Aceh di bawah pimpinan Hasbi merupakan rivalnya. Singkat cerita, ia dipenjara dan dibuang di Aceh Tengah sebagai tahanan politik. Barulah pada Februari 1947 Hasbi Ash-Shiddieqy keluar meski masih berstatus sebagai tahanan kota. Dan selanjutnya, status tahanan kotanya dicabut dan dinyatakan bebas.

Selama dipenjara tersebut bermodalkan bekal kemampuan kitab suci Al-Quran, Hasbi Ash-Shiddieqy menyiapkan naskah berjudul Pedoman Shalat dan Pedoman Dzikir dan Doa. Selain menjadi pengajar di kursus dan sekolah Muhammadiyah, ia juga memimpin SMI (Sekolah Menengah Islam). Ia juga aktif berdakwah lewat MASYUMI, di mana ia menjadi ketua Cabang MASYUMI Aceh Utara.

Pada 20-25 Desember 1949 diadakan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) di Yogyakarta dan ia mewakili Muhammadiyah dan Ali Balwi mewakili PUSPA, di mana Hasbi Ash-Shiddieqy menyampaikan makalah dengan judul “Pedoman Perdjuangan Islam Mengenal Soal Kenegaraan”. Di sinlah kemudian Abu Bajar Aceh memperkenalkan Hasbi kepada Wahid Hasyim (Menteri Agama kala itu) dan K. K. Fatchurrahman Kafrawy.

Setahun kemudian pasca perkenalan tersebut, Menteri Agama memanggil Hasbi Ash-Shiddieqy untuk menjadi dosen pada PTAIN yang hendak didirikan, sehingga pada Januari 1951 ia berangkat ke Yogyakarta dan menetap di sana serta concern dalam bidang pendidikan. Di samping itu, ia juga aktif menulis buku-buku dalam hal ini adalah Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Bayan, Koleksi Hadits-Hadits Hukum, Mutiara Hadits yang sengaja ditulis saat waktu senggang selain mengajar.

Pada tahun 1960, ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) hingga tahun 1972. Kedalaman intelektual keislamannya serta pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (Honoris Causa) yang diterimanya, seperti dari Universitas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960 ia diangkat sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Hadits pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi Ash-Shiddieqy pensiun dari jabatannya pada tahun 1972, dan wafat pada 9 Desember 1975 di Jakarta dalam usia 71 tahun.

Karya Hasbi Ash-Shiddieqy

Hasbi Ash-Shiddieqy merupakan ulama yang produktif dan banyak menulis. Karya-karyanya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Tercatat 73 judul buku (142 jilid) yang telah ditulisnya. Sebagian besar karyanya adalah tentang fiqih (36 judul), hadits (8 judul), tafsir (6 judul), dan tauhid (ilmu kalam 5 judu). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Berikut karya-karya Hasbi Ash-Shiddieqy,

1) Tafsir An-Nur, 2) Tafsir Al-Bayan (penyempurnaan dari Tafsir An-Nur), 3) Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran. Karena kepakarannya di bidang tafsir maka pada tahun 1957/ 1958 ia dinobatkan sebagai salah satu penulis tafsir terkemuka di Indonesia, serta dipilih sebagai wakil ketua lembaga penerjemah dan penafsir Al-Quran Departemen Agama RI.

4) Pengantar Hukum islam, 5) Peradilan dan Hukum Acara Islam, 6) Sejarah Pengantar Ilmu Hadis, 7) Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (I-II), 8) Kuliah Ibadah, 9) Fiqh Mawaris, 10) Pedoman Haji, 11) Pidana Mati dalam Syariat Islam, 12) Hukum-hukum Fiqih Islam, 13) Pengantar Fiqh Muamalah, 14) Filsafat Hukum Islam, 15) Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah, 16) Buklet, Penoetoep Moeloet‛ (karya pertama pada awal tahun 1930-an),

17) Buku al-Islam, dua jilid (1951), 18) Buku Pedoman Shalat, yang dicetak ulang sebanyak 15 kali oleh dua percetakan yang berbeda (1984), 19)  Mutiara Hadits, sebanyak 8 jilid (1968), 20) Koleksi Hadits Hukum, sebanyak 11 jilid, baru terbit 6 jilid (1971), dan sebagainya.

Demikianlah pengenalan kita terhadap Hasbi Ash-Shiddieqy, ulama cum mufassir Al-Quran asal Aceh yang mana menurut penuturan A.H Johns bahwa Hasbi Ash-Shiddieqy merupakan ulama yang disegani dan masyhur di kalangan bangsa Indonesia. Semoga spirit keilmuan beliau mampu kita teladani di era disrupsi ini. Aamiin. Wallahu A’lam.

Miatul Qudsia
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...